Jumat, 30 Desember 2011

Putih



Oleh : Dewitiani AR



Aku turut duduk disampingnya. Menemani menikmati suasana sore hampir senja di taman ini. Rambut panjang ikalnya yang berwarna putih pucat, sedikit melambai karena tiupan angin. Kulihat sedari tadi seikat mawar putih masih dipelukannya. Hanya bergeming dengan tetesan airmatanya yang cukup deras. Kelopak mata setengah menutupi iris matanya yang biru, tampak memerah. Dey, gadis kecil albino-ku, mungkin saat ini masih berduka.

Tiba-tiba seorang perempuan, yang kira-kira seumuran dengannya, muncul dihadapannya. Memberinya sebuah senyuman. Namun ia tetap diam, seakan tidak sadar bahwa seseorang telah menemuinya.

Kemudian perempuan itu duduk di samping kiri Dey. Kami bertiga pun terdiam dibangku taman ini.

Selang beberapa menit suasana hening, perempuan itu pun menepuk pundak sebelah kiri Dey. Seakan ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Dey cukup terkejut. Ia baru sadar kalau ada seseorang yang duduk di sampingnya sejak beberapa menit yang lalu. Perempuan itu pun tersenyum, dan menyampaikan sesuatu. Tapi melalui bahasa isyarat. Ternyata ia seorang tunawicara.

“ Apa yang kamu katakan? Aku tidak mengerti.” kening Dey berkerut dan cukup bingung. Ia sama sekali tidak paham dengan bahasa isyarat yang digunakan perempuan itu. Dengan sigap, perempuan itu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tasnya. Kemudian menuliskan sesuatu.

“ Hai, maaf kalo aku mengganggu lamunanmu. Daritadi kamu sendiri ya? Kenapa kamu hanya banyak membuang-buang  waktu saja di taman ini?”

“ Loh? Kamu itu yang siapa?! Apa urusan kamu kalau aku lebih suka melamun disini menghabiskan waktu sendiri?” Dey membalasnya dengan cukup ketus.

“ Aku tahu, saat ini kamu sedang bersedih. Tapi haruskah kita terlalu berlarut dalam kesedihan? Hingga tidak memikirkan segala sesuatu untuk diri kita sendiri? Kenapa semuanya harus disesali terlalu dalam, jika kita dapat berusaha mengubahnya menjadi yang lebih baik?” nampak wajah Dey berpikir.

Perempuan itu pun kembali tersenyum. Sambil mengusap pundak Dey, mungkin bermaksud untuk menguatkan.

Dey kemudian menuliskan lagi sesuatu.

Beberapa menit kulihat mereka saling bercakap melalui buku catatan kecil itu.

Aku mulai cukup lega melihat Dey akhirnya membuka suara. Perempuan itu terlihat kembali menuliskan sesuatu. “ Kalau kamu masih merasa gundah dan butuh seseorang untuk berbagi cerita, aku bisa menemanimu. Kamu bisa datang di taman ini kapan saja kamu suka. Insya Allah, semua keluh kesahmu akan kudengarkan. Hubungi saja nomor handphone-ku saat kamu ingin bertemu. Oh iya, hari mulai beranjak senja. Pulanglah. Karena masih ada seseorang yang menunggumu di rumah. Jangan sampai ia mencemaskanmu.”

Setelah membacanya, sudut bibir Dey tertarik keatas. Matanya ikut tersenyum. Ia mengangguk perlahan.

Seikat bunga mawar putih, yang daritadi berada dipangkuannya, diletakkan di bangku taman ini. Dey akhirnya pergi meninggalkan taman ini, bersama teman barunya.

Senja pun datang dengan cahaya jingganya yang menyambut malam.

Aku masih duduk disini terdiam. Kemudian tersenyum melihat seikat mawar putih Dey.

***



Hari ini kembali kutemani Dey menikmati suasana sore. Tentunya di tempat yang sama, taman kota. Namun ada sesuatu yang baru dengan penampilannya. Ia terlihat sangat cantik dengan setelan tunik dan rok biru mudanya. Ditambah dengan kerudung putih yang menjulur hingga ke dada, menutupi rambut panjangnya yang ikal berwarna putih pucat. Sangat berbeda dengan gaya tomboinya yang dulu.

Di bangku taman ini, ia tampak menunggu seseorang. Mungkin teman baru yang dikenalnya tiga hari yang lalu, saat masih merasa sangat kehilangan dan berduka. Sore ini ia terlihat sangat berbeda. Raut mukanya menggambarkan ketenangan, sedihnya telah surut, dan senyum pun tidak lepas dari bibir kecilnya.

Kulihat lagi ia membawa  mawar putih. Tapi hanya setangkai. Berbeda saat ia datang pertama kali dengan seikat mawar putih. Aku cukup heran melihatnya.

Sore mulai dihiasi awan mendung. Kulihat Dey yang belum juga beranjak dari tempat duduknya. Ia mulai gelisah dan beberapa kali memencet tombol handphone-nya. Tapi tidak ada balasan dari yang ditujunya.

Beberapa menit kemudian seorang bapak, berkumis dan bertubuh agak tambun, datang menghampirinya agak tergesa-gesa.

“ Permisi neng,tadi saya di telepon bapak, untuk menjemput neng. Katanya neng harus pulang untuk menemani bapak ke yayasan.”

“ Apa? Ke yayasan? Untuk apa?”

“ Katanya ada acara disana, dan keluarga pemilik yayasan harus hadir.”

Seketika Dey terlihat bimbang, antara memilih tetap menunggu atau pergi bersama sopir keluarganya. Keningnya pun berkerut, sambil menggigit bibir bawah.

“ Ayolah neng, lagipula hari juga hampir maghrib ditambah gerimis. Jangan sampai neng sakit karena kehujanan.” wajahnya sedikit cemas.

“ Hmm.. iya deh pak, saya pulang.”

Dey langsung pergi meninggalkan taman ini. Sambil masih memegang setangkai mawar putihnya. Dengan berlari-lari kecil, ia menuju ke Innova hitam yang menjemputnya.

Petang perlahan beranjak ditemani rinai. Angin juga masih berhembus membelaiku. Kubiarkan Dey pergi, karena akan kutemuinya dalam mimpi malam ini.



***



“ Kamu?! Jadi selama ini kamu pura-pura bisu?”  Dey menunjuknya dengan tatapan bingung, heran, bahkan mungkin bercampur kesal.

“ Maaf Dey, kalau aku berpura-pura bisu sama kamu. Aku  terpaksa melakukannya. Karena menurutku itu adalah salah cara untuk menarik perhatianmu. Jangan takut, aku tidak pernah sedikit pun bermaksud jahat. Karena sebelum meninggal, almarhumah ibumu yang mengamanahkan aku  untuk menemanimu di taman beberapa hari yang lalu. Tidak ada maksud jahat, selain niat untuk menghiburmu.” dengan wajah cemas, Ninah mencoba menjelaskan semuanya pada Dey. Agar tidak ada kesalahpahaman.

Tapi Dey tidak bisa menerima hal itu terjadi. Ia pulang dengan kegundahannya.



***



“ Ibu ? Kenapa ibu pergi secepat ini? Apa ibu kecewa dengan kesalahnku yang kemarin? Ibu marah, karena aku sangat nakal?” pertanyaan-pertanyaan Dey membuatku tersenyum. Kubelai kepalanya, yang berkerudung, sembari berbaring dipangkuanku.

“ Bukan begitu sayang, ibu tidak pernah marah padamu, bahkan kecewa. Semua ini ada hikmahnya. Allah memanggil ibu dengan secepat ini, karena Ia menyayangi kamu. Ia ingin kalau kamu masih tetap mengingat-Nya, ketika ibu tidak bisa lagi menemanimu. Tolong hargai Ninah dan anggap ia sebagai saudaramu sendiri yang dapat menemani dalam suka dan duka.”

“ Iya bu..” ……

 

Kulihat senyum kerinduan dalam lelapnya. Mawar putih itu masih tergenggam oleh tangannya.

Dey, selamat tinggal Nak. Jangan lupa pada-Nya, dan jaga dirimu baik-baik.















VAA Makassar, 1 - 2 Desember 2011

                 




Jumat, 25 November 2011

Alhamdulillah, Opiniku layak muat di salah satu koran lokal kota Makassar ( Tribun Timur, 23 November 2011 )

Peran Guru dan Mutualisasi Pendidikan di Indonesia

Oleh :  Ismi Kurnia Dewi Istiani

Guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu apa jadinya aku.
Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal. Guruku terima kasihku...
Sepotong bait lagu tentang guru. Menyanyikan lagu ini, serta merta saya sebagai mahasiswa yang tentunya pernah menjadi siswa, kembali merasakan eforia masa-masa sekolah. Pun, ketika kata ‘guru’ disebutkan, teringat kisah-kisah inspiratif yang menjadikan guru sebagai salah satu pemerannya.
Beberapa novel best seller Indonesia, seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Negeri 5 Menara, banyak mendeskripsikan tentang peran dan kemuliaan serta keistimewaan guru dalam mendidik para siswanya.
Andrea Hirata mengemas kedua novelnya (Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi) dengan sangat menarik dan menggugah. Keistimewaan Bu Muslimah, gurunya sewaktu masih duduk di SD Muhammadiyah Gantong desa terpencil di Bangka Belitung, sebagai tokoh inspiratornya dalam novel Laskar Pelangi tergambar jelas saat belajar di sekolah dengan segala keterbatasan yang mampu menanamkan moral dan akhlak baik dalam pesan Amar ma’ruf nahi munkar. Begitu juga tokoh Pak Balia dalam novel Sang Pemimpi yang menjadi motivator dan penyemangat hidupnya ketika sekolah di SMA Manggar, dalam menggengam mimpi-mimpi menginjakkan kaki dan mencari ilmu di ranah Eropa bersama Arai. Tak kalah menariknya kisah Ahmad Fuadi di Pondok Madani Gontor, menceritakan keunikan-keunikan metode mengajar para ustad dan kiai yang telah menumbuhkan ‘Mantera sakti’ Man jadda Wajada di relung pemikiran para santri.

Potret buram pendidikan di Indonesia
Bagaimana peran mereka sebagai “aktor” utama peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini? Bukan hanya memiliki peran sebagai subjek yang mentransfer ilmu kepada para siswanya, tetapi juga membentuk manusia unggul yang dapat berperan dalam pembangunan bangsa. Namun dalam realitasnya, terlalu banyak problematika yang dihadapi guru dan unsur lain dalam dunia pendidikan.
Salah satu contoh, Ujian Nasional (UN) di setiap tingkatan sekolah, hinga saat ini masih dianggap menjadi problem di dunia pendidikan. Skandal kecurangan dalam pelaksanaan (UN), hingga pemberian ‘kunci jawaban’ yang terjadi secara turun-temurun dan notebenenya dilakukan oleh sebagian oknum guru. Tak ayal fenomena tersebut yang menjadikan citra guru di Indonesia menjadi ‘buram’ yang disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia sendiri .
Hal ini menunjukkan, bahwa sistem pendidikan di Indonesia yang juga harus ‘direkonstruksi’. Sebab ada beberapa aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik yang harus dicapai dalam pendidikan.  Bukan hanya aspek kognitif saja yang diutamakan di tingkat sekolah yang mengutamakan hasil ujian akhir, tetapi juga mempertimbangkan upaya dan proses yang terjadi selama menduduki bangku sekolah. Karena kesuksesan anak didik tidak hanya ditentukan oleh aspek kognitif saja.
Tak heran, jika kecurangan dalam UN lumrah terjadi disetiap tahunnya.

Profesionalisasi melalui program Sertifikasi
Sebagai wujud komitmen pemerintah dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, SBY telah mereformasi dunia pendidikan yang mendeklarasikan guru sebagai profesi pada tahun 2004. Melalui Permendiknas Nomor 18 tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan melalui jalur portofolio dan dengan Permendiknas Nomor 40 tahun 2007 tentang sertifikasi untuk guru dalam jabatan melalui jalur pendidikan, diharapkan guru mampu mengambil peran dalam peningkatan mutu pendidikan.
Tapi, dalam realisasi kebijakan-kebijakan tersebut kurang berpengaruh bagi para guru yang mengajar dan tinggal di daerah terpencil. Bahkan untuk mencapai standarisasi pendidikan nasional pun dirasa sangat berat, terlebih jika profesionalisasi guru yang diharapkan melalui kebijakan-kebijakan ini. Menurut data survei sosial ekonomi nasional (Sunsenas) 2006, di Kabupaten Maluku Tenggara, misalnya, masih kekurangan guru bidang studi ilmu pasti, seperti matematika, fisika, dan kimia. Akibatnya, banyak guru yang harus bekerja ekstra keras dan ‘merangkap’ mata pelajaran yang diajarkan, agar anak didik mendapatkan nilai bagus dan lulus bangku sekolah dengan baik. Namun, nilai lebih apa yang didapatkan para murid yang diajar oleh guru yang tidak berkompeten di mata pelajaran tersebut ? Sungguh sangat menyedihkan.
Profesionalisasi melalui program sertifikasi ini kiranya perlu dirombak agar tidak hanya menghabiskan anggaran pendidikan semata, karena pemerataan penyaluran anggaran setiap sekolah-sekolah dan perhatian guru di daerah terpencil juga harus diperhatikan.
Tidak jauh berbeda di Kabupaten Sangihe (kabupaten yang terletak di wilayah paling utara Indonesia dan berada pada tapal batas RI-Filipina) yang kekurangan sekitar 1.036 guru. Kekurangan terbanyak di tingkat SD yang mencapai 536 guru, SMP kurang 253 guru, dan SMA kurang 247 guru. Bahkan di Kecamatan Marore, sebuah SD hanya memiliki tiga orang guru, termasuk kepala sekolah. Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan SD Muhammadiyahnya Laskar Pelangi tempo dulu. 
Bukan hanya itu, kesejahteraan para guru yang mengabdi di daerah-daerah terpencil, juga perlu diperhatikan kesejahteraannya. Seyogyanya mereka pun dapat menikmati manisnya tunjangan profesi dari program sertifikasi guru.

Merekonstruksi peran idealisasi guru sebagai peningkatan mutu pendidikan di Indonesia
Dari sekian banyak profesi yang lebih manusiawi, hanya gurulah salah satu profesi yang membentuk manusia secara utuh. Lebih tepatnya, memanusiakan manusia (humanisasi). Tentunya dengan budi pekerti luhur dan etikat baik. Tidak hanya membentuk peserta didik, tetapi diri mereka sendiri (guru) juga yang harus disesuaikan dengan peran dalam mutualisasi pendidikan. Dalam hal ini, guru hanya tidak semata sebagai pengajar yang melakukan “transfer ilmu”, tetapi juga berperan sebagai pendidik dalam profesinya. Karena budi pekerti, kejujuran, profesionalitas, dan citra baik yang semestinya ada di setiap jiwa guru.
Dalam mencapai peran idealisasi tersebut, perlu menyempurnakan dan menyeimbangakan spiritual quotient (SQ) selain bentuk kecerdasan lain IQ dan EQ. Agar sifat integritas dan kredibilitas dapat tercipta bagi setiap pribadi guru dan anak didik yang beraklak mulia, fatanah, jujur, dan bertakwa.
Oleh karena itu, pendidikan selayaknya berjalan sesuai dengan metode Ki Hajar Dewantara, dengan sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah, dan asuh. Metode ini secara teknik pengajaran meliputi ‘kepala, hati, dan panca indera’ (educate the head, the heart, and the hand).
Inilah esensi guru yang sesungguhnya. Menjadi seorang yang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik. Seperti Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada dua hal yang harus dibedakan yaitu sistem “pengajaran” dan “pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain.  Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).
Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Insan yang tentunya menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa, walaupun tanpa pamrih.







            Nuun Wal Qalamii Wamaa Yasthuruun….
            ( Demi pena, dan segala yang dituliskannya)

-          Untuk memperingati Hari Guru Nasional, 25 November 2011

Kamis, 24 November 2011

Alhamdulillahirobbil alamin…..
Tak henti lidah ini berucap syukur pada-Mu atas apa yang Engkau telah tunjukkan selama ini.
Doaku  selama ini telah Kau ijabah..
Dan sangat ku yakin dengan hal itu, karena Engkau begitu dekat melebihi urat leherku.
Ya Robb……
Tuhan semesta alam..
Yang mampu membolak-balikkan hati seseorang..
Andaikan semua kegembiraan ini mampu kutuliskan, semua yang telah ada dan terjadi akan kuabadikan dalam memoar ingatanku.
Engkau yang selama ini tahu tentang isi hatiku…..
Yang dulu mengaguminya..
Namun kini  bersikap dingin terhadapnya..
Tak acuh dengan perasaan hatinya..
Memberi kediaman terhadap semua pernyataannya..
Ya Robb….
Terima kasih Engkau telah menunjukkan kebenaran-Mu..
Dia sungguh, tak pantas untukku..
Ya Robb…
Kini ia perlahan telah pergi dengan sendirinya, sesuka hatinya..
Dan akupun tersenyum, walau terasa sedikit pahit..
Ya Robb..
Saat ini telah ku temukan esensi cinta-Mu yang sesungguhnya.
Telah ku tahu jejak-jejak kasih sayang-Mu yang selama ini rabun oleh mataku..
Maka saat ini ku mohon belas kasih disetiap relung hidupku,  dengan kerendahan hatiku, kekerdilan diriku di hadapan-Mu, dan dengan kehinaan atas dosa - dosaku..
















Dalam kebahagiaanku,
20 Nopember 2011


Villa Anugrah Ananda , A9 Makassar