Jumat, 06 Februari 2009

Diam adalah salah satu cara untuk menghambarkan rasaku
Sebuah argumentasi telah menekan jiwaku
Cemohan, sindiran, dan makian, seakan mengekori kagalauanku,
dan mengkerdilkan batin nuraniku
Hati bagai suatu cerminan sikap, yang memberikan sejuta rahasia dan
makna dari perasaan hidup
Mata tak dapat membaca hati yang semu
Hati juga tak dapat menepis hembusan pada keasaan
Hingga ku tunggu suatu suara, yang memberikan penjelasan tentang
kesetiaan dan janji pada ikatan yang ku pijak

Oktober 2008
Embun pagi kian merona.
Cahaya kuning membiaskan titik-titik kesegaran.
Zona timurmemancarkan keriangan nyanyian pagi.
Alam memberikan ruas-ruas udara untuk ku hirup.
Ciptaan tuhan menyambut setiap pagi yang penuh kisah.
Tapi tak seperti hatiku yang mendambakan ketenangan.
Yang tak nampak jua....
Di tempatku berpijak
22 Januari 2008
Ku ingat Engkau saat alam begitu gelap, dan wajah zaman berlumuran debu hitam.
Kusebut nama-Mu dangan lantang di saat fajarmenjelang, dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah.
Betapa pun ku lukiskan keagungan-Mu, dengan deretan huruf, kekudusan-Mu tetap yang maha Agungsedang semua makna, akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabb-Ku

LaTahzan