Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

Payung Warna-warni


Oleh: Dewitiani AR

Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi….
Sebab rasaku tlah mati untuk menyadarinya…*
Terhentak dari lamunan. Suara lelaki muda yang berpadu dengan petikan gitar, memaksa helaian angin membawa nadanya dipendengaran Syam. Hanya bergeming. Beberapa orang yang lain, hanya duduk termangu mendengar sepotong lagu pop itu. Tak ada respon. Bahkan beberapa di antaranya mengalihkan pandangan. Tak acuh.
Syam, mencoba menikmati alunan itu. Beberapa detik. Kemudian tersenyum setelah meresapi. Lalu merogoh uang pecahan dua ribu rupiah dari dalam saku tasnya. Diberikannya pada pengamen itu, sembari membalas senyuman.
“ Terima kasih banyak, Mbak.”
Hanya bisa mengangguk. Disertai sudut matanya yang ikut tersenyum. Pete-pete yang ditumpanginya kemudian kembali melaju dengan kencangnya.
Kota Makassar. Siang itu terhias dengan cahaya garangnya yang gerah. Seakan menggigit kulit, mengajak peluh membasahi tubuh. Awan sembari menyimpan kilatan matahari yang membuat langit semakin biru laut. Hiruk kota menggema. Menghiasi kesibukan manusia yang menantang kerasnya karang kehidupan.
Letih tergurat dari wajahnya. Namun, ada sepotong kebahagiaan dari rautnya. Mungkin karena sesuatu yang berhasil dicapainya. Sebuah hadiah kecil yang diberikan mentor tarinya, karena ketekunannya latihan menari. Senang berhiaskan keceriaan.
Seakan tak sabar ia mengabarkan hal itu pada ibunya di rumah. Membayangkan senyum dan tawa bangga ibunya.
***
Subuh menghiasi kaki langit dengan magenta. Siluetnya turut menyapa tetesan bening yang dipangku perdu. Namun, ada gumpalan gelap awan yang bersembunyi di antara bias pagi yang akan terbit. Tak nampak cerah. Muram.
Tok….tok….tok….
Ketukan pintu di salah satu kamar, membahana dari keheningan rumah sederhana nan asri itu. Pintunya terbuka diiringi suara berderit. Pandangan Syam masih kabur. Sembari mengucek-ngucek matanya, mulutnya terus menguap lebar. Melepas rasa kantuknya yang masih menggoda.
“ Subuh, sayang. Ayo segera bangun, terus shalat ! Nanti kamu telat ke sekolahnya loh!” sesosok wanita lembut, membangunkannya dari peraduannya yang cukup nyenyak.
Disertai anggukan, senyum turut terbit dari keduanya. Syam mendengar ucapan ibunya. Tapi hanya bisa menjawabnya dengan senyuman dan isyarat tangan. Ia tak tuli. Namun tak mampu menjawab semuanya dengan ucapan dari kedua bibir dan suaranya.
Ada sesuatu yang istimewa bagi dirinya, kala menyambut subuh disetiap hari. Impian. Tapi bukan mimpi. Sesuatu yang selalu dipanjatkan tiap-tiap serpihan doanya. Ia yakin di saat subuh, saat pergantian peran para malaikat-malaikat Ilahnya itulah, tiap-tiap doa khusyuk yang terpatri dalam jiwa kelak akan di-ijabah.
Ia hanya ingin kemampuan verbalnya, terdengar dari kedua bibirnya dengan sempurna. Hanya itu. Tidak lebih. Karena ia ingin di setiap hari, tak ada lagi yang menatapnya dengan aneh ketika mengetahui kekurangannya. Tak ada lagi yang menatap risih, atau pun menatap dengan penuh rasa kasihan jika mengetahui bahwa ia seorang tunawicara. Ya. Ia hanya ingin hidup normal seperti manusia yang lainnya.

***
Pagi itu, suasana jalanan masih lengang. Dingin merambat, angin menghembuskan dedaunan gugur dengan indah gemulai. Masih seperti tadi. Awan abu-abu belum jua mengizinkan bias cahaya si surya yang akan nampak.
Setelah berpamitan dengan ibunya, dan juga ayahnya yang masih setengah terlelap, ia mulai beranjak meninggalkan rumah sederhana itu. Terlihat agak tergese-gesa. Mungkin karena semangatnya yang tak henti redup.
Melewati blok-blok di kompleks rumahnya, ia bertemu dengan beberapa pengguna sepotong jalanan yang setiap pagi menawarkan beberapa macam makanan. Jajanan pasar, kue-kue, ataupun beberapa macam nasi. Tapi semua ditolaknya dengan gelengan kepala dan lambaian tangan. Menolak, karena ia sudah sarapan sebelum keluar rumah, ditambah bekal untuk makan siang yang disediakan ibunya di dalam tasnya.       
Baru berjalan melewati tiga blok dari rumahnya, tiba-tiba angin bertiup menabrak semua yang dilaluinya. Menghempaskan dedaunan yang tadi masih tergeletak lemas. Tangkai-tangkai pohon di sisi jalan, beberapa di antaranya luruh terkena tamparan angin. Awan gelap yang berarak, perlahan menghiasi langit. Gemuruh guntur seketika menggelegar.
Tiba-tiba ia teringat, lupa membawa sesuatu. Payung! Tanpa berpikir panjang, dengan setengah berlari, langkah kakinya berbalik arah menuju ke rumah. Diterobosnya hempasan angin kencang yang seakan menerbangkan tubuh kurusnya. Kemudian ia berlari. Terus berlari. Hingga titik-titik rinai perlahan membasahi tubuhnya.
Lima menit waktu yang cukup membawanya kembali ke rumah, ketika hujan mulai membasahi tanah dengan arakannya yang berlomba lebat. Masih dengan tergesa-gesa, diketuknya pintu rumah sederhana itu. Berharap ada yang membukakannya dan memberinya sebuah benda yang dibutuhkannya.
Prang…! Prang..! dhuk..! dhuk..!
“ Aaahh….!”
Sayup-sayup terdengar teriakan dari dalam, disertai geraman kekesalan yang diikuti suara pecah.
Mendengar hal itu, tiba-tiba matanya terbelalak. Beberapa firasat buruknya muncul tersentak.
Secepatnya, ia langsung mengintip dari jendela yang posisinya berada di sebelah kanan pintu. Kemudian ia tak menyangka sama sekali, firasat buruknya benar-benar terjadi. Di matanya, terlihat jelas sebuah peristiwa yang langsung menohok hatinya.
Seorang wanita terlihat merintih kesakitan disertai tangis. Tubuhnya dipukuli dengan membabi buta. Rambutnya dicengkeram, tertarik. Sumpah serapah juga didapatinya.
Tak kuat menyaksikan peristiwa itu, dengan emosi dan kemarahan yang cukup dalam, ia kembali mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Tapi dengan ketukan yang lebih keras. Seakan memaksa untuk dibukakan.
Mendengar ketukan yang panjang, lelaki bertubuh besar dan berkulit legam itu, seketika terperanjat. Ia menoleh dan menghempaskan tubuh wanita yang telah dianiayanya. Kemudian membuka pintu dengan serampangan.
Didapatinya sesosok gadis kecil dihadapannya yang sudah bercucuran air mata. Darah dagingnya, Syam.
Tanpa berpikir panjang dan tidak menghiraukan yang ada dihadapannya, Syam langsung menyeruak menghampiri sesosok wanita yang telah lemah terduduk di sudut ruangan. Tangisnya semakin pecah, ketika melihat cairan merah mengaliri sudut bibir ibunya yang terluka lebam membiru.
Ia menangis sejadi-jadinya, dan memeluk tubuh ibunya dengan rasa duka mendalam. Dalam keadaan seperti itu, ibunya yang lembut berusaha menenangkannya.
“ Syam, jangan nangis nak. Ibu tidak apa-apa kok. Kamu pulang, mau ambil payung ya? Tunggu, ibu ambilkan.”
Bergegas, dengan langkah yang tertatih-tatih sambil menahan sakit, ibunya berjalan menuju ruang tengah. Tempat payungnya tersimpan.
Setelah mendapat benda yang dicari, tanpa disangka-sangka, sosok laki-laki bertubuh besar dan berkulit lebam itu langsung merampas payung yang dipegang ibunya.
“ Hei..! untuk apa kamu masih memperhatikan anak cacat ini?! Hahh! Anak tak ada gunanya! Menambah beban hidup saja!” kemarahannya semakin tersulut.
Mendengar putrinya dikatakan seperti itu, emosi ibunya pun memuncak.
Daeng, jangan katakan hal itu pada anakmu sendiri! Kenapa Daeng tega mengatakan hal itu di depannya?!  Bagaimanapun juga, dia darah dagingmu sendiri, Daeng! Tolong, jangan jadikan ia pelampiasan karena ia anak kita.”
“ Alaah..! beraninya kamu menantangku, Hahh!”
Tanpa diduga, lelaki itu mengancang memukul istrinya dengan payung yang dipegangnya tadi. Tapi istrinya berhasil menghindar. Tak puas karena perhitungannya melesat, lelaki itu kembali mencoba memukuli istrinya.
Mendadak, Syam berusaha menghalangi ayahnya. Namun, ia mendapat imbas dari niat baiknya. Dengan beringas, ayahnya memukuli tubuh kurusnya yang lemah dengan payung itu. Payung warna-warni kesayangannya yang dibelikan ibunya setahun yang lalu.
Ia tak tampu melawan. Ibunya pun mencoba menghalangi ayahnya yang terlanjur berang sejak tadi. Tubuhnya perlahan melemah. Ingin ia teriakkan kesakitannya, namun rintihannya tak mampu terucap. Hanya terdiam dengan lelehan cairan bening dipipinya. Tubuhnya ambruk.
Lamat-lamat, terdengar namanya disebut.
“ Syam..Syam.. bangun, bangun Nak!” tubuhnya diguncang-guncang.
Terlihat wajah ibunya yang berusaha membangunkannya untuk kuat. Lalu pandangannya Syam mulai goyah.
“ I.. ibu….”
“Nak, Nak, bangun Nak!” dalam tangisnya sekilas ada senyum ketika mendengar dirinya disebut. Walau hanya terdengar samar-samar.
Rasa sakit perlahan menjalar ke sekujur tubuh Syam. Gelap.

***
“ Syam…! Ayo kita pulang nak!” suaranya masih  teringat jelas. Senyumnya masih melekat erat diingatanku.
Aku menggeleng keras, menolak ajakannya untuk pulang ke rumah.
“ Ayolah Nak, nanti kamu sakit  kalo terlalu lama main hujan-hujanan. Ibu menunggu di rumah. Jangan sampai Ibu marah ya..!” dengan tersenyum, tubuh mungilku digendongnya. Aku sedikit meronta  dan tersenyum lepas. Masih terlihat jelas  rintik-rintik hujan menerpa payung warna-warni yang dipegangnya.  Kupeluk erat lehernya. Perlahan terlihat menjauh, taman tempatku bermain.
Perlahan pita seluloid kisahku berhenti berputar dari sebagian tidur panjangku. Cahaya putih menyilaukan sontak membangunkanku. Putih.
“ Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Nak.” kulihat senyum ibu yang seketika menenangkanku.
Aku hanya tersenyum, melihatnya yang juga tersenyum bahagia.
Di kamar yang seluruhnya berwarna putih dan terdapat beberapa alat medis, tubuhku tergolek lemah. Kudengar cerita ibu, sejak dua hari yang lalu aku dirawat di sini. Karena perilaku biadab ayahku.
Esoknya, kulihat televisi yang menayangkan berita tentang pelaku KDRT yang melibatkan anak dan istrinya. Ia diduga stres karena baru sebulan di-PHK. Tersangka dijebloskan ke bui karena memukuli istri dan anaknya yang tunawicara dengan menggunakan payung, hingga mengalami kritis. 


VAA Makassar, Januari 2012

***

*Lagu - Tapi Bukan Aku (Kerispatih)

Keterangan:
Daeng: sebutan kakak/abang dalam bahasa Makassar
Pete-pete: sebutan transportasi masyarakat (angkot) dalam bahasa Makassar /Bugis.

Minggu, 19 Juni 2011

KRIM: Ketika Rasa Itu Menyapa (cerpen)


Terpaan hangat surya membelai lembut wajahku. Agak kupicingkan mata. Silau.
Ah! Dia telah datang kembali. Menemani sang bumi yang telah menua. Memberikan kehidupan difajar ini. Selalu seperti ini, yang kurasakan sejak merasakan kehidupan.
Pagi! Kembali menyambutku setelah merenungi segalanya sejak subuh tadi. Ku raih jam weker di atas meja. Mengamati angka-angka dan jarum jam. Tepat pukul 06.35.
Si surya belumlah terlalu tinggi, tapi cahayanya cukup menyilaukan mataku yang sudah abnormal.
“ Nay, kamu sudah bangun nak?” sapaan lembut ibunda sudah terdengar.
“ Iya bu, tadi Nay ketiduran habis tilawah. Ibu belum berangkat? ” aku keheranan melihat ibu yang masih ada di dapur jam segini.
“ Iya nak, tadi masih ada kerjaan di sekolahan yang harus ibu selesaikan. Masih lanjutan kerjaan ibu yang tadi malam. Semalam ibu ketiduran karena kecapekan.”
“ Oh, jadi ibu berangkat pukul berapa?” sambil berjalan ke meja makan, ku buka inbox handphoneku.

“ Nay, tolong datang ke kampus pukul 10. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
_Puput

Puput? Ada apa ya? Tumben-tumbennya dia kirim SMS sepagi ini. Sepenting apakah, hal yang  harus ia bicarkan? Kenapa tidak dibicarakan lewat telepon saja? Biasanya dia langsung telepon saja.
“ Hmm..” langkahku terhenti sejenak. Mendesah.
“ Nay.. Nay ? Hei…. Kamu kenapa? Masih pagi sudah melamun. Kamu berangkat ke kampus pukul berapa?”
“ Eh, oh, iya bu.. hari ini kuliahku mulai pukul satu siang. Tapi tadi ada SMS dari Puput ,  ada hal penting yang harus dia bicarain. Katanya, pukul 10 aku sudah harus dikampus.”
“ Oh.. ya sudah, ibu siap – siap mau berangkat ngajar dulu. Kamu kalau mau berangkat, jangan lupa sarapan ya! Ini, ibu sudah siapkan.”
“ Iya bu..”

***


Kampus Ungu……

“ Puput, sekarang aku udah di kampus. Aku tunggu di bawah pohon yahh, depan gedung Dh.”
_Nay

“ Assalamu’alaikum..!” salam itu, ternyata Puput.
“ Wa’alaikum salam.. kamu darimana saja sih? Hampir setengah jam aku nunggu kamu disini. Memangnya ada hal penting apa yang harus kamu bicarain? Tumben-tumbennya kamu gak langsung…” ocehanku tiba-tiba terhenti. Mulutku tersekap.
“ Aduh, neng Naya.. kalo ngomong pake jeda dong..! Bisakah engkau berbicara padaku dengan perlahan?  Rasanya telinga ini mau pecah mendengar suaramu yang sangat melengking itu..!”
“ Hff..hff… lhe-phash-kan -tha-nghan-mhu..!” masih dengan susah payah ku memohon.
Stop ! Shit up..!” perlahan dekapan telapak tangannya melonggar di mulutku.
“ Oke, oke,.. hff..hff.. huh, dasar kamu ya..!” nafasku masih memacu, mengatur nafas.
“ Hmm.. sekarang kita ke kantin yuk ! disini gak enak ngobrolnya, nanti didengar orang lewat.”  kami menyingkir.

***

Seketika ku terkesiap. Tergugu.  Membatu. Seakan sangat tidak percaya dengan apa yang disaksikan kedua mata ini. Astaghfirullah!!
“ Nay ? Nay ? ...” puput mencoba memastikan mataku masih bisa berkedip.
“ Huh.. kamu itu ya Put, apa maksud kamu ngasih liat aku foto kayak ginian ?” hanya  mendelik melihat mukanya yang seperti ‘menunggu’ sesuatu.
“ Hahhh ?  Nay ? hellooo….?! apa aku tidak salah dengar ? hey.. kamu tahu kan, wajah-wajah ini ?” dengan sedikit emosional, tidak percaya dengan perkataanku.
Tubuhku sedikit bergidik. Jantungku memacu. Emosiku hampir pecah.  
Mataku semakin tidak kuat melihat foto-foto itu. Seorang perempuan dan lelaki –yang wajahnya sangat tidak asing dan sangat kukenal – saling bertatap tanpa ada pembatas di antara keduanya. Ditambah dengan foto – si perempuan –  berpakaian mini, nyaris ‘memamerkan’ seluruh kemolekan tubuhnya yang cukup seksi, dan tentunya ditemani dengan pasangannya.
“ Apakah kamu mau membiarkan hal ini terjadi lebih jauh?  Kamu mau dia yang dulunya sahabatmu, sekarang sikapnya menjadi tidak keruan seperti ini  ? Sedangkan kamu sendiri bisa mencegah hal itu terjadi ?” tidak disangka, dia kembali mencecarku.
Saat itu juga, aku tidak bisa berkelit. Semua foto yang ditunjukkan puput – melalui jejaring sosial – membuatku sangat shock. Lidahku kelu.
“ Nay, aku tahu bagaimana keadaan dan posisi kamu saat itu. Aku juga tahu bagaimana perasaan kamu saat itu. Saat masih menganggapnya sebagai seorang sahabat, atau bahkan lebih bagi kamu. Tapi toh, selama ini kamu hanya mau melihatnya dari luar saja, bukan dari dalam. Dan firasatku selama ini benar ! dia tidak baik untukmu. ”
“ Tapi put, apa hubungannya denganku ?  dia denganku tidak ada apa-apa lagi ! bahkan semua tentang dia, sudah kulupakan hingga saat ini..!” emosiku tertahan. Tercekat.
“ Nay.. iya, aku tahu sekarang ini kamu sudah berusaha melupakan dia. Tapi dari air mukamu yang tadi tampak, yang menggambarkan perasaanmu saat ini. ”
Aku masih terdiam.
“ Nay.. sebagai saudara seiman, masih adakah secuil rasa iba dengan saudaramu satu ini, yang belum mendapatkan hidayah-Nya ? masih adakah niat dakwah yang ada dalam hatimu untuk tetap berkobar menyampaikannya, walaupun orang itu adalah masa lalumu yang cukup kelam? dan kenapa tali persaudaraan itu harus terputus dengan adanya kenyataan? ”
Pertanyaan-pertanyaanya itu, sentak membuatku terenyuh. Bolamataku memanas. Kupalingkan wajah, setetes air mata  jatuh.
“ Nay..nay..? kamu nggak apa-apa kan?”
Menoleh.
“ Tau’ah..! Jijik saya liatnya !!”
Bergegas kutinggalkan Puput yang masih menunggu reaksiku selanjutnya.
“ Nay..! Nay..! …”
Samar-samar kudengar panggilannya. Tapi tak kuhiraukan. Pergi.
Hembusan udara siang cukup ‘meniup’ perasaanku yang campur aduk tidak keruan.

***

Rinai menemani sore ini. Beberapa saat, hujan dengan derasnya berderai. Sejuk. Namun masih kurasakan sedikit kekesalan dihatiku, efek siang tadi. Sepi, sendiri. Di balik jendela ku tercenung. Meresapi, menikmati euforia ini. Hujan. Masih selalu membuatku bahagia menyambutnya. Tiba-tiba teringat sekuel memoar masa kecilku.
“ Naya…! Ayo kita pulang nak!” seruan Ayah.
Suaranya masih ku ingat jelas. Senyumnya masih melekat erat diingatanku.
“ Iya Ayah, tapi Nay masih mau main dulu. Hujannya kan belum berhenti. Naya baru mau pulang kalo udah reda.” Suara cempreng dan sikap keras kepalaku, tidak membuatnya kesal.
“ Ayolah nak, nanti kamu sakit  kalo terlalu lama main hujan-hujanan. Ibu menunggu di rumah. Jangan sampai Ibu marah ya..!” dengan tersenyum, tubuh mungilku digendongnya. Aku sedikit meronta kegirangan dan tertawa lepas. Masih kulihat jelas  rintik-rintik hujan menerpa payung warna-warni yang dipegangnya. Ku peluk erat lehernya. Perlahan terlihat menjauh, taman tempatku bermain.
Mendesau. Perlahan ku pejamkan mata. Masih menikmati berisik rintik hujan ini. Mulai reda. Entah apa yang selalu kurasakan saat hujan kunjung reda. Selalu merasa kehilangan jika sudah pergi.
Kerinduan. Mungkin itu yang selalu menghiasi setiap hujan yang selalu kunikmati, sejak beberapa tahun yang lalu. Sejak sosok lelaki yang sangat bertanggung jawab dan pendiam itu, pergi meninggalkanku dengan senyumannya setahun lalu. Pergi dari semua hiruk-pikuk dunia ini. Saat kutumpahkan segala kekesalanku pada cerita-cerita yang telah kulalui. 
Ayah. Semua dan semuanya tentangmu, masih kuingat sampai saat ini.
Tersenyum. Karena hanya itu yang bisa kulakukan.
Petang menyambut. Sayup - sayup kumandang adzan maghrib mulai terdengar. Sejenak aku tersadar, kembali pada dunia nyata. Ingatan-ingatan itu masih berkelabat. Tapi rasa bersalah ini masih tetap ada, dan selalu hadir disetiap euforia hujanku. Kenapa?
Masih kupeluk lututku, sembari bersandar di sofa. Setetes airmata jatuh, sesaat masih meresapi panggilan Ilah.

***
Malam kian merangkak. Masih terdengar suara tetes-tetes bekas hujan sore tadi. Jangkrik masih berisik dengan malamnya. Irama detik jam menambah kentalnya kesunyian malam ini.
Dokumen-dokumen lama masih asyik kurombak sejak tadi. Mencari dan terus mencari. Namun belum kudapatkan juga.
Apa yang ada dipikiranku sejak tadi? Apakah masih memikirkan semua hal siang tadi? Hahh..!
Penat menyerang. Sejenak ku rebahkan tubuhku di kursi meja belajar. Serta-merta kulepaskan kacamata, minus dua, yang sejak tadi bertengger di hidungku. Sembari memijit dahi dan kedua pelipis.
Philophobia. Ah! nama itu.
Benarkah aku termasuk orang yang mengalami hal itu? Ataukah hanya sekedar nama ejekan dari Puput? Entah.
Philophobia. Masih menjadi momok bagiku hingga saat ini. Kadang ku tak mengerti jalan pikiran Puput, yang memberikanku nama ejekan demikian.
Penatku sudah mulai berkurang. Tapi nama itu yang masih membuatku terheran sampai saat ini! Philophobia.
Dalam catatan-catatan kecilku sewaktu SMA ,tentang berbagai nama ilmiah, memang tertulis nama itu. Tapi ingatanku tentang nama itu pun masih samar-samar.
Hmm..
Tiba-tiba dering handphoneku mengagetkan disetengah lamunanku.
SMS Puput?

“ Nilai dari kata maaf sungguh luas. Ia turun bagai tetes hujan dari surga. Di bumi tempat jatuhnya, ia membawa berkah ganda. Berkah bagi yang meminta maaf dan berkah bagi yang memberikan maaf. (William Shakespeare)”
_Puput J

     Oh! Ada saja hal-hal tidak terduga yang bisa dilakukan Puput. Yang mampu membuatku tersenyum dan terhibur, walaupun cukup sederhana. Seketika perasaan kesalku melumer dan mulai mencair. Kini tergantikan dengan senyum rekah, sembari membalas pesannya:

“ Terima kasih untuk pesan singkatnya malam ini, saudariku. Karena makna dari kata maaf  itu sangatlah indah, maka tak ada kata pun untuk tidak menerima dan membalasnya dengan sebuah senyuman indah. Hmm.. apakah boleh saya bertanya padamu,  tentang sesuatu di esok hari, saudariku?”

“ Bolehlah, besok siang kita ketemu di kampus ya..!J

“ Oke. Saudariku! Sekarang malam sudah mulai larut. Selamat beristirahat! J

***

Angin yang bertiup disiang ini, terasa lembab. Mendung masih menghias langit. Hingga menit ini ku terduduk di bangku bawah pohon , depan koridor kelas , bersama Puput yang sedari tadi masih menikmati cemilannya yang cukup banyak.
“ Put..” kumulai pembicaraan.
“ Ya..? Kenapa Nay ?” langsung menatapku.
“ Ngg..”
“ Oh iya..!  Semalam kamu mau  nanya sesuatu kan? Mau tanya apa sih?” seketika mulutnya berhenti mengunyah. Keningnya kelihatan berkerut.
“ Hmm.. itu.. tentang Philophobia.” kuberitahukan setengah berbisik. Sambil menatapnya dengan sedikit berharap.
Matanya menyipit. Terkesan menatapku tajam. Ia terdiam sejenak. Ditatap seperti ini, aku pun jadi salah tingkah.
“ Hey, Put! Biarpun saya cuek dengan nama ejekanku selama ini, tapi rasa penasaranku cukup besar, Put. Sebenarnya, apa maksud kamu mengataiku seperti itu ? …” belum selesai pertanyaan-pertanyaan lain kulontarkan, dengan cepat dikeluarkannya selembar kertas catatan dan pulpen dari tasnya. Cemilannya yang masih tersisa, langsung dipindahkan ke pangkuanku. Beberapa detik, ia menulis sesuatu dikertasnya. Masih kuamati gerak-geriknya, masih menunggu apa yang ia lakukan selanjutnya.
“ Nih, kamu baca!” disodorkan padaku, kertas yang sudah ditulisinya tadi.   
Kertasnya kuambil, lalu mengamati deretan huruf tulisannya. Keningku langsung berkerut. Berulang-ulang kubaca kata yang tertulis dikertas yang sedang ku pegang. Letak kacamataku pun kuperbaiki. Sambil menoleh, menatap Puput dengan keheranan. Dia masih asyik menikmati cemilannya.
“ Hahh? Ini maksudnya apa Put?”
Sebuah kata Philophobia yang tertulis, ditambah dengan simbol ≠ dan ‘Cinta’ . Jadi, dibalik kacamataku jelas terlihat : Philophobia ≠ Cinta. Ya! Cukup singkat. Tapi membuatku banyak bertanya-tanya. Kembali ku tatap Puput. Dia menoleh padaku dan tersenyum penuh arti.
“ Kamu bingung dengan maksudnya?” kembali tersenyum.
“ Hmm.. ya jelaslah!” nada bicaraku sedikit meninggi.
“ Oke! Nanti malam kamu datang ke rumahku ya! Nanti kujelaskan semuanya. Aku pulang duluan, banyak urusan. Assalamu’alaikum!”
Belum sempat kudapatkan penjelasan, Puput pun berlalu dengan seenak jidatnya. Yang kulakukan hanya bisa menjawab salamnya, dan belum mengiyakan tawarannya , sambil terus menatapnya yang berlalu pergi agak terburu-buru. Aneh. Sekarang semakin ku dapatkan ketidakjelasan ini.
***

“ Nay, coba kamu baca artikel ini.” disodorkannya beberapa kertas yang berisi tulisan-tulisan. Kuamati setiap deretan huruf yang ku baca saat ini:
Philophobia.. Istilah ini cocok buat orang yang takut jatuh cinta…
…Philophobia termasuk dalam penyakit mental, orang-orang yang mempunyai penyakit ini biasanya pernah mengetahui dan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hal percintaan, mereka takut jatuh cinta, karena anggapan mereka tentang jatuh cinta itu adalah hal yang tidak menyenangkan, mungkin juga mereka menganggap itu merugikan…
Seketika ku terbelalak, kedua alisku terangkat. Sangat tidak percaya dengan apa yang telah kubaca.
Philophobia? Separah itukah Puput memberikan julukan seperti ini? Apakah aku memang ‘mengalami’ hal itu? ‘Takut jatuh cinta’ ? Benarkah?
“ Hahahh.. bagaimana? kamu masih penasaran?” dengan garingya, dia menertawakanku. Cukup kesal dengan tingkahnya itu.
“ Hah? Apa maksud kamu Put? Gak lucu tau’! Garing!” kembali kubelalakkan mataku.
“ Hmm.. sudahlah Nay.. Apakah memang kamu tidak merasakan hal itu terjadi sejak dulu, dalam dirimu? Dan kurasa itu tidak salah, jika kamu aku ‘cap’ sebagai orang yang menderita ‘penyakit’ itu. Karena realitanya seperti itu. Selama ini pun aku melihat kamu terkesan ‘mati rasa’ pada setiap perhatian-perhatian kaum adam yang berusaha dekat denganmu. Merespon mereka saja tidak pernah.”
“ Apa? Kamu bilang aku mati rasa?” emosiku hampir tersulut
“ Ngg.. yaa begitulah.. hehehh.. piss dah!” sambil menyengir diacungkan dua jarinya, yang tandanya bermaksud meredam emosiku.
“ Hmm.. Put, kamu masih ingat kan, dengan foto-foto yang kamu perlihatkan kemarin? Izal. Sahabatku sejak kecil. Sejak dulu, aku bersahabat dengannya. Sejak ayahnya meninggal, yang juga teman dekat ayahku, waktu kami masih SD. Karena umurnya hanya terpaut dua tahun diatasku, dia ku anggap sebagai sahabatku, sekaligus kakak kandungku sendiri. Tapi ketika kami duduk di bangku SMA, dia ikut pindah dengan kakek dan neneknya melanjutkan sekolah dan kuliah di Jawa. Semenjak saat itu, memang kami kehilangan komunikasi. Ayahku juga tidak pernah menanyakan tentangnya, karena aku sebagai sahabatnya. Tapi dua tahun yang lalu, aku kembali bertemu dengannya. Namun aku terkejut Put. Saat tahu ternyata dia bertopeng. Dia selalu berlaku baik dihadapanku, tapi nyatanya? Kamu juga sudah lihat sendiri foto-fotonya yang kemarin. Jujur Put, sebenarnya aku punya perasaan lebih padanya, lebih dari perasaan saudara dan sahabat. Tapi ketika dia menyatakan perasaanya padaku dan saat itu aku belum tahu tingkah lakunya seperti itu, Ayahku melarang keras untuk tetap tidak bertemu dan berkomunikasi lagi dengannya. Tapi apa? Aku masih tetap kukuh dengan sifat kerasku, Put. Aku marah pada Ayah, yang semenjak itu membatasi ruang gerakku. Tapi Allah sungguh sangat menyayangi Ayahku. Di balik sifat pendiam dan sabarnya ternyata dia sungguh murka dengan kenakalanku saat itu, hingga akhirnya Sang Pemilik Hidup ini mengambil Ayah dari kami, keluarga yang sangat disayanginya…” perlahan airmataku menetes.
“ Nay..” diusapnya bahuku. Bermaksud menguatkan.
“ Iya Nay, aku tahu kamu cukup muak dengannya sejak saat itu. Tapi apakah kamu masih tetap keras menutup hatimu pada orang lain? Hingga nanti akhirnya tidak akan ada seorang pun yang datang padamu dengan rasa tulusnya?” pertanyaan-pertanyaannya membuatku mendelik.
“ Kamu tahu kan, setiap makhluk yang diciptakan Allah itu berpasang-pasangan? Dan sebelum kita dilahirkan ke dunia ini, nasib, rezeki, jodoh, dan kematian sudah ditentukan semuanya oleh pencipta alam semesta ini. Tapi kenapa aku harus mencarinya, jika dia akan datang sendiri padaku? Yang tentunya itu akan mengikatkan pada hubungan yang sah menurut agama kita. Tanpa mengakibatkan dosa yang sangat besar.  Sebenarnya, Philophobia itu tidak pantas kamu jadikan bahan ejekan untukku, Put. Aku seperti ini bukan karena sebuah trauma mendalam. Tapi aku sudah semakin sadar, bahwa Sang Pemilik Hati inilah yang lebih berhak menentukan segalanya. Karena semua akan terjadi dan akan indah pada waktunya, Put.”
“ Ck,ck,ck.. sungguh, kamu tidak diragukan lagi Nay.”
“ Maksudnya?”
“ Sungguh puitisnya dirimu! Hahahaha…..!” kami kemudian tertawa bersama dengan kerasnya.
“ Oh iya, Nay. Mmm.. ngomong-ngomong ada seseorang nih, yang nitip salam sama kamu.” tiba-tiba dia memotong tawaku.
“ Mm.. Siapa? Jangan bilang ya, kalau orang itu, cowok yang kamu kenalin ke aku kemarin-kemarin!” aku sedikit marah, dengan mata melotot.
“ Ya, Selamat! Anda beruntung! Jangan pernah menyerah untuk mencoba lagi! Hahahahh…!” tergelak tertawa.
“ Ihh.. garing, garing, garing! Oke! Salam balik ya! Salam pertemanan. Hehehh..” Sikutnya yang tajam, kemudian menyenggol lenganku.
“ Shhs.. Pupuuuut! Dasar kamu ya!”
Karena tingkahnya, ia langsung ku kejar dengan senjata ‘bantal’ yang ku pegang tadi. Perang bantal pun tidak terhindarkan, karena membalas senggolan lenganku. Maka ‘kejar daku kau kulempar’ terjadi di kamar Puput dengan ramainya. Disela perang kami, kudengar ejekannya yang semakin membuatku terpingkal.
“ Oi..! si Mr. M minta nomor handphone kamu tuh! Hahahahh..!”
“ Jangan ah! Gak tau saya harus ngomong apa kalo mau nolaknya!” kukedipkan sebelah mata, sambil melanjutkan tawa kami.

***

Malam ini semakin tersadar, telah kuhadapi segalanya yang telah berlalu. Karena hidup telah memberiku berjuta warna. Memberikan banyak pelajaran, dari semua kisah yang telah tergores indah. Maka semuanya telah dibumbui oleh setiap rasa yang muncul.
Mereka yang masih mengasihi, menyayangi, dan mencintai. Hadir disetiap pagi ketika mata mulai terbuka. Berusaha menyambut dengan senyuman kerendahan hati. Tak ayal, semua tidak akan pernah terlupakan hingga akhir sang waktu menjemput.
Sebuah catatan kecil kubuat. Hanya sekedar mengekspresikan perasaan hati yang dulu terkungkung dalam permainan dunia. Mungkin pun akan membuat emosi dan jiwa lebih menerima arti disetiap mozaik kehidupan yang terpecah.
*Untuk Anda yang pernah singgah di  lubuk hatiku….
Yang berlalu..
Tenggelam seperti mataharimu
Aku tidak akan pernah menangisi kepergianmu
Dan mungkin, kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedikit pun karena mengingatmu…
Kau  baru saja mengajakku ke jalan itu, dan aku mulai menemukan jalanku di jalanmu..
Saat aku menikmati jalanku yang sempat hilang, kau justru berbelok arah..
Namun, biarlah aku menikmati sendiri jalanku di jalanmu dulu..
Biarlah aku bercerita dengan kerikil di jalanku
Walau pun kita tak lagi sejalan.
Kan ku ingat bahwa dirimu pernah mengajakku ke jalan itu, jalanmu….


Karena setiap hati itu memiliki rasa. Rasa yang mungkin mampu membuat kita buta terhadap segalanya. Dan setiap insan telah berbeda dalam menafsirkan rasa itu. Hanya  kepada sumber dan pencipta hatilah baiknya kita kembali. Karena ia adalah Sang Pencipta Cinta yang sejati.
Namun, ketika rasa itu menyapa..
Biarlah ia menyambut pagiku dalam tiap-tiap tetes embun, udara kesejukan, bias cahaya kuning mentari, dan sisa-sisa napas dalam diriku. Menyambut malamku dengan ciptaan di malam-Nya, wajah lelah, senyum kepuasan, dan taffakur diri. Maka semua itu akan  bernilai ibadah bila dijalinkan pada ikatan yang suci.






Di tiap-tiap penghujung malam….
Makassar,  Maret-April 2011
 




*Sebuah senandung dari yang terilhami




 

Rabu, 27 Januari 2010

Tetes Embun yang Tersisa



... Maafkan jika aku menolaknya. Jujur, aku merasa belum siap untuk menjalaninya. Kurasa sangat cepat jika hal itu terjadi. Aku bukanlah seorang yang mudah untuk menerima segalanya. Butuh waktu. Apalagi hal itu menyangkut perjalanan masa depanku. Sebuah masa lalu yang membuatku begini. Masa lalu yang kelam. Kurasa kau juga mengerti dalam memaknai perasaan itu. Tapi yang jelasnya, bagaimana agar kita dapat memahami satu sama lain, agar tak ada yang merasakan penyesalan di suatu saat. Sekali lagi, mohon maaf yang sebesar-besarnya...

***

Dengan hati-hati kumasukkan surat ini ke dalam amplop yang telah dibubuhi nama pengirim tanpa alamat yang ditujukan. Aneh memang. Tapi inilah yang terjadi sesungguhnya.
Setelah bersiap-siap, kulangkahkaan keluar rumah dan menuju tempatku menuntut ilmu, kampus jingga. Pagi ini, kulalui hari dengan cukup sibuk, mengikuti kuliah, mengerjakan tugas, hingga berembuk dalam pertemuan organisasiku. Maklumlah seorang aktivis memang begitu.
Tapi untuk hari ini, sedikit waktu harus diluangkan demi menyampaikan sesuatu yang harus diutarakan.
Setelah sibuk, sore ini planning menuju teman di samping kampus tetap tidak akan tertunda. Sudah dua hari tempat itu luput dari ingatanku. Jadi, rencana untuk menyampaikan surat itu pasti saja akan terjadi.

***
Udara sekitar kampus cukup sejuk. Awan gelap mulai tampak. Dengan berjalan kaki sekitar 350 meter, taman tempatku merenung dan menyendiri, mulai nampak.
Dengan perasaan yang tak keruan, kulangkahkan kaki menuju salah satu bangku beton di salah satu sisi taman. Taman yang sangat indah.
Di pusat taman terdapat kolam yang di tengahnya sebuah air mancur yang cantik. Pohon cemara bentuk pinus menghiasi jalan masuk menuju taman. Sore ini, pengunjung taman cukup sepi. Tapi aku sangat menyukai suasana saat ini. Lebih suka menyepi sendirian, sambil menatapi merpati-merpati liar yang memakan biji pohon.
Baru sekitar lima menit duduk, seorang bocah perempuan kecil, bermata bulat, rambutnya ikal, berkulit sawo matang, datang menghampiriku. Dengan senyum yang dihiasi gigi putih, ia menyapaku “Assalamu’alaikum kakak Nayla!”.
Seketika aku tersenyum menatap kedatangannya “ Wa’alaikum salam Caca manis.”
Setelah menyapa, ia langsung duduk disampingku, di tangannya ada sebuah amplop berwarna hijau muda, bercorak bunga kuning. Sangat manis. Warna yang sangat kusukai. Belum sempat aku bertanya, dia langsung nyerocos,
“ Kak, ini ada surat yang dibawa sama kakak laki-laki tadi siang. Tadi di duduk di bangku ini. Waktu liat aku, dia bilang mau menitipkan surat ini untuk diberikan sama kak Nayla. Jadi aku terima.”
Diberikannya surat itu padaku. Aku heran. Surat dengan nama pengirim berinisial ‘H’ itu ditujukan untukku. Sangat jelas alamat yang ditujukan. Nayla Nur Fatimah. Seketika aku terdiam. Tapi langsung menyimpan surat itu ke dalam tas.
“ Makasih ya Caca, oh ya! Kakak punya coklat nih, kita makan sama-sama yuk!”
Bermenit-menit kami menghabiskan waktu, mengobrol dengan topik yang menarik. Caca memamng sangat manis dan lucu. Aku sering dibuatnya tertawa dengan cerita yang dibawakannya dengan polos. Setiap kesini, ia selalu menghampiriku, berbagi cerita dengannya. Hampir setiap hari dia menemani ayahnya yang bekerja membersihkan taman ini. Dia sahabat kecilku yang kadang-kadang membuatku kembali merasakan indahnya masa kecil.

***

Hari semakin gelap. Seorang bapak setengah baya berjalan menghampiri kami, sambil memberikan isyarat, agar Caca ikut dengannya untuk pulang. Caca menurut. Dengan segera, ia turun dari bangku, dan berlari menuju ayahnya. Sejenak ia berbalik dan melambaikan tangan padaku, “Da-da kakak!”
Lambaian tangannya ku balas, ditambah dengan senyuman. Aku masih terpaku. Menatap dingin apa yang ada dihadapanku. Pikiranku masih mengawang. Angin membelai wajahku. Awan semakin gelap, menandakan hujan akan turun. Aku bangkit dari duduk. Sambil menatap di sekitar taman.Dengan tergesa-gesa, aku pulang. Di perjalanan, aku melamun. Pikiranku melayang.

***

” Hai Nay!” seruan itu mengagetkanku. Tepukan di pundak membuatku menoleh. Tina. Ternyata dia yang memanggilku.
“ Kenapa Tin? Kamu ngagetin aku aja! Ada apa sih?” aku heran.
“ Ee..ee.. kamu udah dengar gak berita duka hari ini?” seketika matanya berkaca-kaca.
“ Mmhh.. berita duka apa sih Tin?” aku semakin penasaran.
“ Itu, si Heri.. dia..dia..”
“ Dia apa Tin?”
“ Kemarin.. kemarin.. dia meninggal Nay! Kemarin siang, dia jadi korban tabrak lari. Pulang dari taman sebelah kampus, orang sekitar ngeliat dia melamun waktu menyeberang jalan. Setelah dibawa ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong lagi Nay!” bulir air matanya perlahan menetes.
“ Innalillahi wa inna lillahi roji’un..” hanya itu yang dapat kuucapkan, lidahku kelu. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Setelah mengatakan itu, ia menarikku ke bawah pohon depan kelas. Dengan wajah yang serius, ia becerita sesuatu kepadaku. Yang sangat membuatku tidak percaya.
“ Nay, kamu kenal Heri khan?” aku mengangguk.
“ Kamu tahu nggak, almarhum Heri adalah orang yang cukup pendiam, gak banyak bicara, tapi dia sering ngomong sama aku, tentang kamu.” Keningku berkerut mendengarnya.
“ Aku?”
“ Ya, kamu Nayla. Sebenarnya, dia suka sama kamu. Dia juga pernah cerita, kalo kamu dengan dia sering berkirim surat, dan kadang mengamatimu dari jauh, di taman sebelah kampus. Selama ini dia tidak berani mengungkapkannya sama kamu. Jadi dia cuma cerita sama aku. Kemarin itu, dia ke taman untuk ngasih surat yang berisi perasaannya sama kamu. Tapi takdir berkata lain, setelah dia nunggu jawaban kamu, kamu malah kurang meresponnya. Nay. Akhirnya dia pergi, tanpa mendapat jawaban. Tadi malam dia meninggal. Selepas sholat Jum’at nanti dia dimakamkan.”
Air mataku menetes. Hanya diam.

***

Kurebahkan tubuhku. Sangat lelah, karena terlalu lama menangis. Aku berusaha menenangkan diri. Tiba-tiba aku tersentak duduk. Baru ingat dengan surat yang kemarin diberikan si ‘H’. Dengan perasaan yang kalut, dan cukup gundah, surat beramplop hijau muda bercorak bunga kuning itu kubuka perlahan, lalu membaca isinya:
           
            ... Sebelumnya, maaf jika aku sedikit memaksamu untuk mengatakannya. Maafkan juga jika ini membuatmu tertekan dan mungkin terlalu memikirkannya. Tapi percayalah, aku melakukan ini agar kita terlepas dari perbuatan dosa yang tidak diinginkan. Walaupun kau tidak menjawab sampai kapan pun, itu tidak masalah. Karena kamu juga manusia biasa, yang kadang sulit untuk mengungkapkannya. Namun yang jelasnya, dirimu akan selalu ku ingat di setiap pagiku, hingga tetes embun yang tersisa menguap ke angkasa.

                                                             Sahabat penamu,  
                                                        
                                                          (Heri Saputra)




Air mataku kembali menetes. Masih tidak percaya. Tapi inilah yang terjadi, semua telah berjalan.
Selamat jalan Heri sahabat penaku, semoga amal ibadah dan kebaikan-kebaikanmu diterima di sis-Nya. Amin.



Pinrang, 28 Desember 2009



~Ismi Kurnia Dewi Istiani~
(Perubahan)