Untuk(mu): Kalian.
Rabu, 12 Maret 2014
Sabtu, 01 Maret 2014
Untuk (P)ebruari: Pada Ujung Rindu
"Hei ! Apa kabar, kamu? Wah, lama juga tidak berjumpa dan bersua. Jujur, saya sangat merindukanmu. Merindukanmu, serindu-rindunya."
Ini pesan singkatmu yang kuterima beberapa hari yag lalu. Rindu. Dengan sangat mudahnya mereka dan juga kamu, melontarkan kata itu untukku.
Baiklah, memang itu tak masalah. Tak ada yang menampik. Manusiawi.
Tetapi, jika rindu itu sekali-kali waktu tertumpuk, tak diberi waktu untuk meluahkan, dan semakin lama menggunung, akan diapakan kelak rindu-rindu itu?
Seketika kujawab pesan singkatmu:
"Lantas, mau kau apakan rindumu itu?"
Mau kau apakan rindu itu, ketika yang kau rindukan sama sekali tak bisa membendung rindu-rindu yang lain. Ketika yang kau rindukan saat ini lebih memilih datar pada rindu-rindu itu.
Bahkan ia telah lama tahu:
Bahkan ia telah lama tahu:
Bahwa sesungguhnya rindu tak sekadar diucapakan bagi yang merasainya.
Rindu hanya menagih perbuatan yang menjadikan rindu-rindu sampai kepada yang membuat rindu.
Rindu hanya menagih perbuatan yang menjadikan rindu-rindu sampai kepada yang membuat rindu.
Dermaga setiap rindu, Ia dan kekasih-Nya.
VAA Makassar, 1 Maret 2014
Selasa, 14 Januari 2014
Lelaki Pengubah Zaman
Engkau yang menjadi tuntunan dalam lipatan-lipatan masa
Pada kerasnya kukuhmu
Juga peluh
Tangis
Juga jaminan jannah-Nya
Selalu saja hati-hati baru yang merindukanmu
Sujud-sujudmu yang menggema semesta
Menolehkan insan-insan yang redup
Apa yang mampu kami jawab, ketika wasiatmu dipinta pada
waktunya kelak?
Meskipun pula gerak-gerak ummatmu masih berwajah dua
Tuluskah?
Masihkah cinta dan keimanan itu merindukanmu?
Yaa, Muhammad, Rasul Allah!
Dalam masa kelahirannya,
VAA Makassar, 14 Januari 2014
Langganan:
Postingan (Atom)


