Tampilkan postingan dengan label yang menginspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yang menginspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 November 2014

Monolog Rindu 8: Hujan


“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan bijian yang dapat dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).”
(QS.Qaf: 7-11)


Sungguhkah, bila selesapan kemarau hanya bisa dilakukan hujan ketika itu? Tentang sore yang hampir menemui petang, tanah daeng yang dibeberapa waktunya, melepas kemarau dalam hari berulangnya pada tahun-tahun.

Hari itu, pada pertemuan-pertemuan, bila rindu pada hujan semakin melekat, mengapa para pelintas tiap jalan menambah laju mereka seakan menjauh?

Adakah yang menikmatinya kala itu?

Tiga hari yang lalu, hujan menemui bumi. Menguapkan aroma-aroma tanah, bebatu, aspal, pijakan. Sebelumnya mendorong gerimis sebagai pengantarnya, menemui makhluk-makhluk yang tak pandai bersyukur.

Bilakah keluh-keluh bulan kemarau, turut menguap bersama hujan kala itu?

Sedang beberapa pertemuan yang terencana juga turut melontarkan keluh-keluh kehadirannya.

Pula sanggupkah, pelan-pelan kehadiran hujan mampu meredam gerutu-gerutu, kala bulan-bulan kemarau?

Tetapi, basah dikemudian waktu mungkin akan sama seperti gerutu-gerutu kemarau.

Tahukah, kau?

Saat langit sore itu dilekati rubung awan kelabu, lalu, sekelebat muncul wajah-wajah mereka yang pernah memeluk tubuh. Memeluk tubuh kecil yang gigil, kala itu, jelang malam semakin larut sembari nyanyian pengantar tidur sangat lembut mengalun ditelinga. Tak luput, beberapa kisah, dongeng, sirah nabawiyah, turut diperdengarkan agar kelopak mata mengatup dengan tenang.

Ketika telah dewasa,

Entah yang menjadikan apa, air-air langit selalu saja menjelma khawatir pada gigil yang mendekap. Selalu menjauh, merasa tak boleh menyentuh dingin bulir-bulirnya. Lantas, enggan adalah pilihan.

Ketika beberapa waktu, hujan menjadi begitu tebalnya. Pepohon melampai, meluruhkan dedaun. Pada dinginnya yang menusuk, pernah, pernah ada yang membisik pula disela-sela riuhnya.

Berkata,

“Ketika kauhindari saat seperti ini, bukankah kau telah menghindari nikmat keberkahan-Nya dari tiap-tiap tetes?”


Sore keempat, setelah hujan menuntaskan kemarau,


Makassar, Nopember 2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Monolog Rindu 7: Kemarau



Kemarau adalah penerimaan yang lapang. Kemarau adalah penerimaan pada jejak-jejak angin yang kering lagi berat.

Apalah yang menyadarkan kita, bahwa tanah-tanah telah jemu pada ocehan dan keluhan kaki?

Apalah yang menggelitik kita, bahwa debu-debu yang selalu tertolak pada kedua lubang hidung, sedang kita selalu saja menghirupnya di jalan-jalan kota?

Ketika musim basah datang tanpa henti-henti, beberapa ocehan juga selalu mengikut pada sepatu-sepatu kita yang basah, ujung-ujung rok kita yang kotor karena ulah cipratan, tubuh-tubuh kita yang gigil dan seketika menjadi pemalas ketika dingin membungkus, dan kepala-kepala kita yang terasa ringan ketika bulir-bulir air langit menyentuh sela-sela rambut.

Kemarau. Matahari mungkin agak garang pada masa-masa ini. Iya, mungkinkah? Ataukah mungkin saja matahari sedang menyingkirkan awan abu-abu dimusimnya ini?

Kemarau. Di musim ini, tak banyak yang menyadari, umpatan-umpatan gerah berada di tengah-tengah siang.

Tak taukah, tanpa sadar bahwa sebenarnya mereka merindukan musim yang basah?

Kemarau. Sama halnya pada penghidupan. Dari beberapa kisah, ternyata, musim kematian telah menggandeng kemarau. Tahun ini. Iya, tahun ini.

Kemarau. Telah banyak mengantarkan insan-insan pada keribaan-Nya.

Kemarau. Apakah ketika kita merindui hujan, sedang pelajaran yang diberikan kemarau akan membuat kita lupa?

Kemarau. Apakah ketika teriknya siang, sedang pelajaran yang diberikan hujan akan membuat kita lupa?

Kemarau. Seperti pada musim kematian yang menemani, seperti hujan yang enggan nampak, pernahkah kita menyadari, bahwa mengembalikan rindu pada keduanya hanya ditujukan pada penciptanya?

  

Sore dan kemarau dalam Oktober, 2014

Selasa, 14 Oktober 2014

Monolog Rindu 6: Pulang



Ini adalah Oktober. Saat-saat kemarau datang menggandeng angin. Kemarau telah melatih angin menjadi lebih tegas. Pun, pada siang-siang dan malam-malam, kemarau telah menjadikan rindu menelikung pada: Pulang.

Pulang?

Berbicara pulang, bukankah selasar rumah selalu lapang dan sejuk untuk kita tempati duduk bersama?

Seperti dibeberapa waktu, kita selalu terjebak pada sangka-sangka yang resah. Pada beberapa waktu, kita selalu saja dengan lemah menerima sesuatu yang semestinya tidak kita terima. Kita selalu menganggap, bahwa hidup tak mesti selalu membahagiakan diri kita sendiri.

Ya. Dan lagi waktu selalu kejam menggiring kita pada penyesalan-penyesalan.

Dari semua yang pernah kita lalui, adakah waktu yang lebih berat seperti kemarin? Seperti yang kita rasakan, berat itu terlalu menghimpit dada dan kepala kita. Terlalu menyesakkan kita yang introvert. Terlalu menunjukkan bahwa kita terkadang abai pada hati kita masing-masing.

Ingatkah September kemarin yang penuh ujian?
Ingatkah Agustus kemarin yang terlalu lelah?
Ingatkah Juli kemarin yang menyendiri?

Baiklah. Pada beberapa suara teduh yang menemani kita, memilih pulang adalah jawabannya. Pulang pada diri kita sendiri. Menemukan kembali diri kita sendiri, ketika waktu (kemarin) telah menjadikan kita memilih untuk membaginya.

Pulang adalah sebaik-baik perjalanan. Seperti yang pernah kita katakan.

Dan setelah kita pulang, pernahkah kita sedikit berusaha memahami, bahwa pulang sesungguhnya adalah saat kita tak mampu lagi bergerak dan berbicara?


Bahwa pulang sesungguhnya adalah saat kita betul-betul sendiri, bertanggung jawab atas apa yang pernah kita lakukan bersama waktu.

(Bersama pagi)

Makassar, 14 Oktober 2014

Senin, 08 September 2014

Monolog Rindu 4: Ini Tentang Rindumu, Dik

“Menanggung rindu memang berat, perempuan. Bahkan mungkin lebih berat ketika kauputuskan untuk tidak menyampaikannya pada yang kaurindukan.”




Tersebutlah pada suatu senja yang enggan kembali mencipta monolog tentang rindu. Iya. Seketika itu, sangat jelas rindu betul-betul merekat. Menempel pada ingatan-ingatan yang sungguh ingin melupa.

Dik, di beberapa waktu yang berucapkan rindumu yang berjarak, entah mengapa hampa-hampa selalu saja menjelma pada ketegaran yang sungguh rapuh.

Pikirmu, kakakmu ini tegar menyembunyikan rindunya, Dik?

Yang kautahu mungkin seperti itu.

Kakakmu ini tak seperti dirimu, yang dengan mudahnya meluahkan rindu.

Tak seperti dirimu.

Dik, andai kautahu pula, tiap-tiap rindu yang pernah (pun) kausisipkan pada jarak-jarak waktu yang membawamu saat ini, sesungguhnya ada beberapa tanya-tanya yang pernah hinggap.

Sungguh, seberat itukah kaumenanggung rindumu, Dik?

Seberat itu pulakah ketika kaumenanggung rindu yang selalu ingin kauluahkan, ketika pun terkadang kakakmu ini tak menyadari?

Ah, mungkin kakakmu ini terlalu betah menyembunyikan rindu-rindunya dibalik perjalanan-perjalanan, terlalu betah dengan diamnya.

 Ataukah mungkin terlalu betah dengan mengamatinya.

 Dik, seperti yang pernah diketahuinya, kakakmu telah tahu, bahwa rindu tak mesti terumbar.

Tak mesti semua orang mengetahui.

Cukup itu, Dik.

Dan, ketika rindumu kembali menghampiri, kirimkanlah doa-doa.

Sebab mendoakan adalah cara yang lebih damai untuk menjadikan rindumu tetap senyap.


Akhir Agustus-September 2014


Senin, 04 Agustus 2014

Monolog rindu 2: Tentang Rumah (Kita)


            Dari sudut-sudut waktu, mungkin saja, bahwa asa-asa bisa saja perlahan menjadi layu, mati tak berbekas. Asa-asa yang dulu pernah disemai pada harap-harap yang tertanam, membunga, membuah, dan meranum.

Pernahkah, ketika sepotong waktu datang dengan pongahnya, lalu merampas segalanya yang telah kau simpan baik-baik, Bu?

Pernahkah, ketika sepotong waktu datang dengan pongahnya, lalu merampas segala inginmu yang mengharap, Bu?

Pernahkah, ketika sepotong cemas datang dengan pongahnya, disebagian impian-impianmu, Bu?

Andai engkau tahu, Bu.

Anakmu ini tak lagi bisa menyelaraskan harap-harapmu pada harap-harapnya pula. Anakmu ini telah menatap lebar-lebar hidup. Telah banyak pasrah pada jalan-jalan yang dipilihnya. Telah banyak pahit-pahit yang payah ditelannya, meski tak seperti payahmu yang lebih berat, Bu.

Bu, anakmu ini telah memilih jalannya sendiri.

Pada harap-harapmu pula yang indah, sesungguhnya ada ingin anakmu, yang sangat dalam untuk memijakkan kaki pada jejak-jejak impiannya sendiri.

Bu, ketika anakmu ini menyerapi rumah (kita).

Kutahu, pernah ada banyak kecewa yang tergores di wajahmu, Bu. Ketika diputuskannya membagi perhatiannnya pada yang lain.

Bu, ketika siku-siku rumah tak lagi ada banyak waktu untuk kita resapi bersama, apakah kerelaanmu masih tetap ada jikalau waktu menarik anakmu ini, tanpa kaukira-kira?

Bu, ketika anakmu ini ditarik oleh waktu, memilih berada di rumah-rumahnya yang lain adalah kesungguhan yang tak boleh kautolak. Jangan.

Anakmu telah betah disana. Anakmu ini telah banyak belajar pada manusia-manusia kuat. Banyak belajar pada lekuk-lekuk hidup yang belum pernah kauajarkan, Bu.

Sungguh, di rumah-rumah itu, anakmu ini banyak memahami hidup, banyak memaknai segala rasa yang pernah pula sangat tidak disukainya, Bu.

Bu, tak pantaskah, jikalau anakmu ini masih menginginkanmu mengajarinya terus mendewasa, tanpa terlalu keras kauinginkan sesuai inginmu?

Percayalah, Bu.

Anakmu ini masih ingin tetap bisa menikmati pecahan-pecahan kenangan masa kecil, bersamamu di teras rumah. Iya, masih ingin diingatnya beberapa tawa-tawa dan sedih yang pernah dipautkan dikedua tangan kecilnya.

Bu, mesti sekeras apa lagi anakmu ini meyakinkanmu?

Ingat, Bu. Rumah (kita) bukan satu-satunya rumah yang akan selalu kukunjungi, kuresapi, dan kunikmati lipatan-lipatan waktu didalamnya, Bu.

Karena ada banyak rumah-rumah kecil yang selalu menunggu kehadiran anakmu ini, Bu.

Percayalah, Bu.

Rumah (kita) akan tak mudah luruh, ketika anakmu ini memutuskan membagi sebagian hidupnya di rumah-rumah kecilnya.
Iya. Karena anakmu ini akan selalu punya alasan untuk pulang, ke rumah (kita).



Makassar, Agustus 2014


Jumat, 18 Juli 2014

Memeluk Bahagia



“Bahkan bahagia juga bisa hadir dalam senyap.”

Bagi sebahagian besar manusia, bahagia adalah sebuah yang didapati pada senyum-senyum, kabar-kabar baik, impian yang terwujud, tentang rasa, dan apapun yang menjadikannya melekat dalam ingatan.

Termasuk yang pernah mengatakan bahwa bahagia juga bisa hadir dalam senyap.

Bahagia?

Adakah yang bisa mendefinisikan bahagia menyerupa apa?

Apakah sepenuhnya bahagia adalah ketika engkau mendapatkan apa yang telah lama kauimpikan?

Yang kauinginkan?

Jika betul adanya seperti itu, pernahkah kaumerasa bahagia, ketika kegagalan-kegagalan saling berebut menghimpitmu?

Apakah bahagia adalah ketika semua hal yang kauinginkan berjalan sesuai dengan harap-harapmu? Seperti yang kau inginkan?

Jika betul adanya seperti itu, pernahkah kaumerasa bahagia, ketika ketidaksesuaian inginmu akhirnya datang sekenanya tanpa kauminta?

Apakah bahagia adalah ketika semua hal-hal perih yang pernah kauinjak untuk menghilang, tetapi semuanya tetap berkeras tak payah?

Apakah bahagia adalah ketika semua hal-hal membuatmu tersenyum manis dan wajah-wajah yang kaudapati berbalik semringah?

Bahagia.

Kepadamu, yang selama ini terus-menerus mencari bahagia, pada jalan-jalan becek, kumuh-kumuh rumah, kebisingan kota, kepenatan tubuh, angan-angan, hiruk pikuk hedonis, helaian udara, atau pun pada sunyi-sunyi.

Kabari, kabariku ketika bahagia tak pernah datang dari dirimu sendiri.

Kabariku, ketika bahagia hanya kautemukan di luar, bersama manusia-manusia lain.

Ah, apakah tak pernah kaupikir bahwa bahagia ada adalam dirimu sendiri, tanpa perlu kaucari?

Seberapa teganya bahagia seenak jidatnya bisa meninggalkanmu seperti itu?

Bahagia itu sesungguhnya bisa kaubentuk sendiri.

Campurkan dengan titik-titik warna yang kausukai.

Warna yang pernah kaucerita waktu itu. Tentang warna yang selalu membuatmu lupa pada masa lalu.

Peluk.

Peluklah bahagia, seperti pernah kaumemeluk tubuh-tubuh yang kausayangi, bersama bahagia.



Menjelang penghabisan Ramadhan,

Makassar, 18 Juli 2014


Kamis, 10 Juli 2014

Monolog Rindu

            Menuliskan rindu, teringat dengan seorang yang tak pernah jemu menuliskan kata berlima huruf ini. Iya. Dan akhirnya rindu itu benar-benar merangkul, pada malam sebelum kepulangan. Rindu itu datang dengan senyumnya yang menjengah.

Meski pada rindu-rindu yang kemarin telah disambut ‘debat’ pada pilihan calon penguasa tahta negeri ini, tetapi sungguh rindu itu seketika mengeras membatu, Bu. Dan, tak semestinya masing-masing kita memilih untuk diam dingin pada ego.

Aih, sudahlah, Bu.

Diam-diam, ternyata ada sebuah rindu yang pernah kusembunyikan dari saku heningku.

Pernah menyimpan rindu itu, ketika memilih kewajaran dan menjadikannya sebagai sebuah hal yang ‘biasa-biasa’ saja, Bu.

Tetapi, entah. Di tengah sisa gerimis yang meniupkan malam kali ini, rindu itu menguat, Bu.

Rindu itu seperti menari-nari di kamarku, dibeberapa hari kumemilih untuk mengurung diri dari celoteh-celoteh rumah ini.

Ada sangat banyak yang pernah kulalui diluar sana, Bu.

Mungkin kau pun sadari, sekarang anakmu ini mulai cerewet, sok tahu, suka protes, sok benar.

Iya kan, Bu?

Ah, Bu. Dunia diluar sana sangat kejam.

Jikalau kautahu, mungkin tak sekejam yang pernah kaurasakan ketika juga pernah hidup diatas tanah kota itu, dulu sekali.

Dia lebih kejam, Bu.

Bahkan mungkin pernah mengiris-iris hati dan isi perut anakmu ini. Kekejamannya pernah menjadikan beberapa tangis dengan terpaksa disimpannya dalam senyum-senyum sok tegar. Menyimpannya dibalik beberapa hambar. Pernah pula menjadikan kedua kaki anakmu ini tak bisa diam, gelisah, Bu.

Ah, Bu.

Menuliskan ini, sebenarnya anakmu ini rindu. 
Sangat rindu.

Pada siapa?

Ingin kau tahu, Bu?

Iya, Bu. 

Anakmu ini rindu pada Pemilik Rindu, yang pernah disimpannya dalam saku hening.

Sangat rindu pada waktu tidur panjang yang mengembalikan pulang pada-Nya.


Pinrang, 10 Juli 2014





Sabtu, 24 Mei 2014

Telikung

“Karena Allah memilih dia untukmu, dan memilihmu untuknya.”
(Rahma Afnan)

Percayalah, ketika masa telah ditentukan waktu putusannya untuk menggugurkan kering-kering layu bebatangan kuncup, maka Sang Penentu hanya andil pada kepastian-kepastian. Percayalah, ketika semai-semai berbagai kisah dipautkan dalam jalinan potongan-potongan kekata, maka diri bukanlah lagi seserahan pada yang menginginkan.

Ketika ikatan-ikatan dengan sengaja menghimpun rasa-rasa yang memanusia, kepercayaan akan perlahan tumbuh membangun jiwa-jiwa. Itulah, bahwa menelikungkan hati-hati pada anjuran-Nya, adalah sebuah kemuliaan pada penghambaan insan-insan.

Mendewasa bukan suatu hal yang mudah. Kejutan-kejutan kecil terkadang muncul menampakkan malu-malu. Ya, itu karena kita telah sama-sama belajar. Belajar memahami dari masing-masing diri kita.

Baiklah. Mungkin waktu agak tertinggal ketika menuliskan ini.

Kusebut kamu perempuan yang lain, Kak.

Beberapa kisah menjadikan aura hidup kita sangat basah. Mengingat jelas, bahwa perbedaan fiqrah tak pernah menjadi masalah bagi kita untuk memahami titah-Nya.

Dulu, Kak, ada siang menjelang senja yang seksama mencoba memahami keluh-keluhmu. Siang itu menjadikan kalimat-kalimat kita menguap tak tentu arah. Iya Kak, mungkin kau sadari pula betapa kesalnya dirimu, saat itu.

Bukan hanya pada waktu itu saja. Masih pada siang yang berbeda, ada cerita-cerita yang kau coba embunkan dari gerahnya hatimu. Dari tuturmu, nampak jelas hentakan-hentakan itu di telingaku. Kau sampaikan itu, mungkin pula untuk kaucoba menyirami hatimu.

“Ini bisa kau jadikan sebuah cerpen.”

Begitu saranmu, ketika kedua mataku hanya bisa tersenyum sambil sedikit menanggapi.
Baiklah, Kak. Itu kisah tentang kerisauanmu, dulu sekali. Terkadang sama sekali tidak menyangka, bahwa memahami dan memaknai sebuah kisah, tak mesti pada tiap-tiap manusia yang kita anggap seideologi.

Ataukah mungkin hanya butuh kuping yang mau rela mendengar dengan perhatian? Mungkinkah pula kau sudah terlanjur menganggapku sebagai penyimak yang baik, Kak? Padahal kukira ada banyak adik-adikmu yang seperti perkiraanku. Entahlah.

Kemarin, kabar bahagiamu telah dimuarakan pada Lauhul Mahfudz.

Haru-haru itu masih melekat diingatanku sampai hari ini, Kak. Masih teringat pula, ketika selalu berusaha menemanimu dalam prosesi-prosesi sakral yang telah lama kaunanti. Ya, masih teringat pula ketika goresan-goresan wajah kecemasanmu sempat tergaris bersama kebahagiaan.

Bahkan, ketika juang dakwahmu masih tetap kaupertahankan, saat waktu-waktu menjadikannya tak sesuai dengan risalah-risalah-Nya yang telah lama kaupahami. Dan haru itu kembali hadir untuk istiqomahmu, Kak.

Bahagia selalu tercurah untukmu, yang telah mendapati teman hidup di sisa usiamu.

Benar, bahwa dia adalah seorang terbaik yang telah dipilihkan untukmu, untuk anak-anakmu yang soleh dan solehah, kelak.

Benar, bahwa dia seorang adalah lelaki terbaik yang bersamamu akan selalu menjaga dan membimbing dalam tapak-tapak kehidupanmu, Kak.

Mungkin pula akan ada banyak cerita yang lahir ketika telikung itu telah melewatkan waktu pada kalian.

Semoga berkah selalu dan senantiasa tercurah pada kalian untuk sama-sama mendewasa, menua, dan menyetia di dunia maupun di akhirat kelak.

“Barakallahu lakuma wa Baraka ‘alaikuma wal jama’ah bainakuma fii khair.”












Sebuah kado pernikahan untuk:
Kak Ayu Nirmawati Muhammad (Maros, 21 Mei 2014)
“Maaf, belum bisa memberimu kado pernikahan di dunia nyata, karena terlupakan waktu itu.” :D


Makassar, 22-24 Mei 2014

Kamis, 22 Mei 2014

Lepuh

(Untuk perempuan yang pernah memahami di beberapa waktu)

Jikalau telikung waktu bukan musabab penyelaras rasa, apa yang menjadikannya melekat? Sama halnya pada lepasan-lepasan masa yang berlalu dengan ringannya, apa yang selalu menjadikannya patut disesali? Selalu riskan jika memilih untuk hanya mendiamkan ataupun memilih raut datar.

Hei, bibir. Apa yang menjadikanmu selama ini begitu licin? Begitu tajam menusuk-nusuk positif hati Adam?

Apa yang salah?

Hei, wajah. Apa pula yang menyebabkan elokmu begitu didamba? Bukankah riak-riak kesucian lebih utama menjaganya?

Jikalau lepas-lepas sipu menjadi rona dan ranum, apa yang menghalanginya untuk mengelak tenggelam pada rayuan-rayuan picisan?

Untukmu yang sepertiku:

Ketika kita telah memahami diam-diam yang dirasa lebih berarti ketika berkata, selalu seperti saja hati meronta.

Sebab kutahu jika renggas-renggas angin -pula pernah disuatu detik- memilih meninggalkan dedaun coklat yang kita tatap bersama. Kelip-kelip juga pernah menjadi karib kita pada senja yang marun.

Disuatu waktu pula, senyummu pernah bercerita panjang tentang impianmu menjejak negeri berantah. Mengaminkannya dalam senyumku adalah sebuah kasih sayang harapan.

Sama sepertimu, impianku juga sepertimu.
Kesyukuran yang berarti ketika Tuhan menjadikan kita tanpa sekat, dalam jalinan persaudaraan.

Untukmu yang (kelak tidak boleh) sepertiku:

Mafhum ketika kekhawatiran-kekhawatiranku menepuk keingintahuanmu. Ada cerita yang selalu kusisipkan untuk menjadi pelajaran dalam hidupmu. Meskipun berkisah dalam hal yang tak boleh kau ikuti.

Mengingat kenangan, bukan pula suatu hal yang mesti menjadikan helai-helai kisah terlihat seperti bunga. Mengingat kenangan, sama seperti ketika jiwa-jiwa masih betah duduk diam menatap debu jalanan yang saling berkejaran. Ya, mengingat kenangan bukan sesuatu yang penting untuk kita kisahkan, bahkan untuk menertawainya. Seperti itulah, ketika mengingat kenangan menyamakan dengan lepuh yang menghitam.

Kamu tahu kan, lepuh itu?

Ya. Semua lepuh di dunia ini adalah sakit. Tak indah, selalu kurang sedap untuk kau tatap pula. Bahkan ketika ia mengering, bekasnya tak selamanya bisa pudar. Mungkin bisa juga menambah kerih di lapisan-lapisan kulitmu.

Ingat ini, perempuan. Kenangan tidak selalu enak menjadi teman seduhan kopi atau teh yang kau candu dalam cangkirmu di awal hari. Juga untuk lamunanmu ketika menatap rinai dari balik jendela kamarmu. Karena kenangan adalah wajah dari masa lalu. Ia picik. Selalu saja datang dengan seenak jidatnya. Bahkan sewaktu-waktu juga akan pergi sekenanya, bersama keraguan-keraguan hatimu.

Ingatlah, perempuan.  Jangan pernah biarkan kenangan menaklukkan kita seperti saat hujan bersama dingin yang kadang kala sama-sama membuat kita terbaring lemah. Jangan lagi jadikan itu sebagai pembicaraan dari topik-topik perbincangan kita.

Perempuan, kamu ingat kan, tentang bunga randa tapak yang selalu kusukai? Masih kau ingat, tentang filosofinya? Mungkin terkadang kamu bosan ketika kubercuap panjang lebar tentang bunga ini. Tapi tak apalah, jika itu tidak cukup buruk kau biarkan ceritaku singgah sesaat di telingamu. Tak apa, itu juga menjadi harapku: cukup jadikan filosofi bunga itu untuk sebagian dalam prinsip hidupmu.

Harap-harapku untukmu, seperti harap-harapmu untukku, perempuan.
Terima kasih telah memahamiku di beberapa waktu.
Semoga Allah masih memperkenankan kita bersama, saling memahami.

Selalu. 

(Uhibbuki fillah, ukhti) ^_^


VAA Makassar, 19 Mei 2014

Selasa, 14 Januari 2014

Lelaki Pengubah Zaman

Engkau yang menjadi tuntunan dalam lipatan-lipatan masa
Pada kerasnya kukuhmu
Juga peluh
Tangis
Juga jaminan jannah-Nya
Selalu saja hati-hati baru yang merindukanmu
Sujud-sujudmu yang menggema semesta
Menolehkan insan-insan yang redup
Apa yang mampu kami jawab, ketika wasiatmu dipinta pada waktunya kelak?
Meskipun pula gerak-gerak ummatmu masih berwajah dua
Tuluskah?
Masihkah cinta dan keimanan itu merindukanmu?
Yaa, Muhammad, Rasul Allah!




Dalam masa kelahirannya,

VAA Makassar, 14 Januari 2014