Tampilkan postingan dengan label lesapan makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lesapan makna. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2015

Monolog Rindu 12: Cahaya


Kelak,

apa yang dijawab mata ini,
apa yang dijawab telinga ini,
apa yang dijawab mulut ini,
apa yang dijawab tangan ini,
apa yang dijawab kaki ini,
apa yang dijawab hati ini,

ketika ditanyai, “Untuk apa kau gunakan disepanjang usiamu di dunia?”

sedang ketidaksadaran itu selalu menebal

menutup cahaya-cahaya-Nya

pada jiwa yang selalu abai dan lalai

lantas, dalam bulan yang berusaha meluaskan cahaya-cahaya itu, dirasa tak cukup masa kehadirannya

kutahu, hadirnya akan pasti ada

akan tetap ada dalam tahun-tahun

tetapi, tak pernah kuketahui, izin-Nya terhadapku akan masih ada untuk kembali bertemu.  



Waktu penghabisan Ramadhan,

Pinrang, 29 Ramadhan 1436 Hijriah/ 16 Juli 2014

Senin, 01 Juni 2015

Monolog Rindu 11: Hati


(Sebuah Pesan dan Nasihat)


“Selalu jaga sikap hatimu, Nak. Sebab hati adalah pengontrol jiwa 
dan kekuatan tubuhmu.”

Pada kisah-kisah yang kaulalui, tidak ada jaminan, bahwa hatimu akan tetap baik-baik saja disetiap waktu. 

Nak, ketika kau memutuskan untuk mengasihi siapa pun layaknya saudara, kau harus siap menerima segala baik dan buruk yang ada padanya.

Karena kau tahu pula, setiap manusia adalah tempat segala laku yang khilaf.

Nak, ingat ini. Ketika sebuah hati yang pernah kaupercaya, tiba-tiba disuatu waktu melukai dan menyayat-nyayat hatimu, rawatlah luka-luka yang ditimbulkannya hingga sembuh. Tidak perlu kau pelihara benci, Nak.

Sebab memelihara benci dan memendam hingga membentuknya menjadi gumpalan dendam, adalah salah satu cara untuk  menyakiti dirimu sendiri.

Hatimu haruslah kuat, Nak. Melebihi kuatnya tubuhmu. 

Bagi siapa pun yang telah kau anggap menyakiti hatimu, sesungguhnya tidak semua berniat jahat padamu, Nak. Tidak semua. 

Setiap manusia punya warna masing-masing. Punya laku yang sama sekali tidak bisa kita paksakan untuk selalu memahami diri kita sendiri. 

Bisakah kau lapangkan hatimu sejenak, tanpa mendorong egomu yang negatif itu, Nak?

Lapangkan.

Bersabarlah.

Menerimalah. 

Memaafkan. Bukankah banyak petunjuk-petunjuk-Nya yang mengajarkan hati kita untuk menjadi lebih pemaaf?

Bukankah ketika sebuah hati sedang rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh?



Disisa hujan pertama dalam senja,
Makassar, Juni 2015



Sabtu, 02 Mei 2015

Padamu Yang Kelak Menjadi (Kita)

Disadari atau tidak, semua kisah akan menemui masanya. Tiap-tiapnya akan bertemu pada takdir yang entah. Jelaslah, semua kaki-kaki kisah akan terhenti pada waktu yang telah ditetapkan, pada takdirnya.

Padamu, dan sepenggalan kisah waktu itu. Yang tak mampu lagi tertolak. Sudah tergores pada lembaran-lembaran hidup.

 Pada apa yang akhirnya terciptakan pertemuan-pertemuan?

Mungkin, mungkin saja hati ini selalu sangsi pada hal yang mengejutkan. Pada segala macam bentuk peristiwa yang terkadang belum bisa dipahami nalar. Tetapi, apakah lebih baik mengikuti hati dibandingkan takdir, yang jelas tampak dan tujuannya?

Sempat kutanyakan ini pada sesiapa pun yang paham. Katanya, “Pilihlah pada kecenderungan hatimu. Mantapkan pada sujud-sujud istikharahmu. Sebab tak semua ikatan bisa terjalin dan bertahan hanya bermodal perasaan ataupun cinta. Menunda niat itu, tak baik. Bisa jadi setan telah menghalangi untuk ibadah.”

Kecenderungan. Apakah yang dimaksud kecenderungan itu adalah pada seseorang yang telah lama ada? Seseorang yang tidak asing, yang pernah menyimpan harapan-harapannya dalam bilangan tahun?

Ataukah kecenderungan itu ada pada seseorang yang sama sekali hadirnya tidak pernah disangka?  

Dan, ah. Tetiba saja merasa belum waktunya menyadari itu. 

Sudah siapkah diri ini menjalin ikatan sakral yang (dulu) pernah selalu diingkari hanya dengan dalih ‘belum siap’?

“Tak perlu kata siap, jika takdir sudah berbicara. Bukankah setiap kelahiran dan kematian juga tidak pernah meminta dan menunggu kata siap? Begitu pula takdir yang ini. Kau tak bisa menolak, jika takdir telah memilih waktu dan memilihmu. Kamu hanya butuh meyakinkan diri dan ridha atas ketetapan-Nya.”

“Kenapa mesti menolak jika dia orang yang soleh?”

Itu ucap dua orang perempuan, yang usianya tak seluas dewasanya yang lebih lapang. Lantas ucap mereka sejak saat itu, telah mengubah dalihku saat ini.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Salahkah jika kutuliskan ini untukmu?

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Kutuliskan ini, ketika menemukanmu adalah abstrak. Ketika risau itu pernah mendekat.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Tahukah kau, bahwa diwaktu-waktu ini, memilih untuk menaruh harap padamu (seseorang yang entah) adalah hal yang naif menurutku? Bahkan belum pernah ada sekelebat pun rupa wajah yang tergambar dibenakku, tentangmu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Meski, memang pernah ada seseorang yang menaruh harap dan kujauhkan kecenderungan itu padanya. Tetapi tetap, tetap saja hati ini belum bisa memijak pada kecenderungan sesiapa pun. Meskipun yang ditunjukkan-Nya masih seperti serabun embun-embun yang menempel di jendela.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Akhirnya menyadari, bahwa memutuskan untuk menjemput takdir itu, adalah sebaik-baik pilihan. Cepat ataupun lambat.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Saat ini, (bukan nanti) kutunggu kau menjemputku diantara cemas-cemas yang meraba hadirmu. Ya, jika waktu telah menunjukkan takdir dibulan dan ditahun ini juga. Akan kutunggu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Harapku tak banyak. Tetap baikkan dirimu. Seperti aku yang juga sedang memantaskan diri, untukmu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Biarkan, biarkan doa-doaku mengalir disungai-sungai harapmu. Dan juga harap pada-Nya.




Disela keputusan-keputusan, hujan, dan sesapan secangkir sekoteng


Makassar-Pinrang, akhir April-Mei 2015


Sabtu, 25 April 2015

Sesungguhnya Kematian Itu Dekat Dik, Sangat Dekat!

“April pekan ini meluruhkan hujan dalam senja. Hari agung yang diberkahi, serta doa-doa yang mengalir tanpa henti. Dan seketika doa-doa itu menemui waktunya, menemui masanya.” 

Senja pada pertemuan-pertemuan hari ini, sempat mempertemukan wajah-wajah dalam gedung-gedung. Ada berbagai macam ekspresi. Senang, sedih, gelisah. Menyatu pada tembok-tembok ruangan, kelas, koridor.

Siang tadi, pesan singkatmu masuk. Baiklah, kita akan bertemu lagi (setelah kali terakhir bertemu jumat lalu), sore nanti. Mungkin akan ada lagi perbincangan hangat dan cerita lucumu yang bisa kunikmati hari ini, pikirku.

Padahal, ketika waktu menyorot ke belakang, hanya ada hitungan bulan-bulan kita saling mengenal. Bukan tahun.

Ya. Dan ternyata takdir sungguh sangat tegas menghampiri waktumu, Dik.

Sore tadi, ketika masih ingin menahanmu lebih lama untuk banyak bercerita, gelisahmu sungguh sangat nampak. Juga semakin memucatkan warna disisi-sisi bibirmu. Ada sesuatu yang membuatmu gelisah, Dik.

Dan firasat ternyata bukan menjadi hal yang bisa mencegahmu.

“Saya buru-buru, Kak. Ada amanah yang menunggu. Padahal rasanya masih rindu dengan Kakak. ” Katamu, sambil menjabat tanganku dan memeluk tubuh kurusku. Erat. Erat sekali.

“Senin depan kita ketemu lagi ya, Kak. Saya mau banyak tahu tentang FLP.”

Ah, setiap bertemu, barisan pena itu yang selalu kau tanyakan. Itu inginmu, yang sudah sejak dua tahun kau impikan, bisa bergabung bersama dikeluarga barisan pena. Mencipta karya-karya sastra. Bahkan pun, inginku membaca puisi-puisi yang pernah kau buat dan kau ceritakan, ternyata pula tidak bisa menemui masanya.

Itu inginmu sejak dua tahun lalu. Bahkan mungkin, sejak segan itu ada saat kata-kata dan senyum perkenalan yang sudah lama ingin kau lontarkan pada sikapku yang dingin.

“Wah, ternyata kalau sudah kenal, kakak beda ya? Dulu waktu belum kenal, kakak kelihatannya cuek dan jutek dengan saya.”

Jumat lalu kau berceloteh seperti itu, dan kujelaskan pula dengan banyak tawa. Kita sama-sama tertawa menengahi sikapku yang tidak sepenuhnya seperti kau katakan.

Dan harapan untuk bisa bercerita lebih banyak lagi disenja tadi, pupus sudah. Dan takdir telah benar-benar menjemputmu diujung Jumat ini.

Namun  hanya bisa menjanjikan waktu untuk bertemu lagi dirabu depan.
” Sekalian mengurus tetek bengek tugas akhir kampus.” Ujarku.
 Iya, dan kau mengiyakan. Tapi ada ragu yang kulihat.
“Nanti dikabari lagi ya, Kak. Kakak semangat, harus lulus tahun ini!” ucapmu yang selalu disertai senyuman manis.

Mendapat semangat ditengah-tengah kepenatan dalam berhadapan tugas akhir, serasa seperti ada yang menegukkan air di sela-sela kejenuhan.

Dan deras hujan membungkus malam ini, membawa kabarmu padaku, Dik. Kabar yang tidak pernah disangka akan mendatangi. Kabar yang dirasa akan banyak menguras buliran air dari mata siapa pun yang mengenalmu. Terkecuali mata kakakmu ini.

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun….

Dan dedaunan catatan dalam Lauh Mahfudz telah gugur. 

Semoga Jannah yang kau raih, Dik Suryaningsih (Si Perindu).

Lafadz doa dikirimkan untukmu.



 Dalam pelukan duka,

Makassar, 24 April 2015.

Rabu, 15 April 2015

Monolog Rindu 10: Maple

Mengejar mimpi, tak semudah kau memimpikan dan memunculkannnya dalam batok kepala dan sugestimu. Mengejar mimpi, sama saja mendapati kejutan-kejutan yang beberapa diantaranya bisa saja menyakitkan langkahmu.”



“Bunuh saja mimpi itu, lalu kuburkan dalam-dalam. Jika sama sekali tidak ada usaha yang kau segerakan.”

Menusuk sekali. Bukankah itu dulu yang pernah kau lontarkan, ketika harapan-harapan itu telah pupus dan putus asa itu diam-diam datang dengan seringainya?

Ternyata bukan. Bukan lagi erangan seperti itu yang menjadikan lecutan semangat itu kembali bangun. Iya. Bukan lagi.

Lantas?

Ada yang mesti saya raih. Ah, saya? Bukan kita lagi?

Bukan.

Baiklah. Segala mimpi dan impian yang dulu, dulu pernah ditunaskan saat itu. Saat ini bukan lagi mimpi yang mesti menjadi harapan-harapan yang harus ada dalam tujuan hidup.

Bukan lagi.

Ya, meskipun banyak yang mengatakan, bahwa ketika kamu memiliki harapan dan impian, sama saja kau memiliki tujuan hidup. Tidak mengalir seperti biasanya.

Pahamilah. Ada yang masih mesti saya raih sebelumnya.

Sebelum mengejar impian memijakkan kaki di ranah maple bermusim.

Raih?

Apa itu?

Ini tentang sebuah kelokan yang tidak disangka-sangka, tepatnya.

Ini tentang mimpi yang dulu, dulu sekali.

Dan atmosfirnya mulai kembali berkelabat ketika semua yang kita sebut mimpi, impian, mulai bercahaya satu per satu.

Pahami.

Sebab meraih itu, adalah mencapai segala-galanya, tanpa sesal, tanpa keluh, namun mengabadi.

Ingin kau tahu?

Iya.

Rindu itu.

Rindu kembali pada pelukan-Nya.

Rindu yang mesti segera dituntaskan.

Menjelang petang,

Makassar, April 2015

Senin, 13 April 2015

Monolog Rindu 9: Kekanak


Mungkin, saat ini kita telah lelah, pada derap-derap  harap yang dibuai waktu.

Mungkin, kita telah jengah pada jiwa-jiwa kita, yang dulu pernah hanya banyak bicara.

Mungkin, pula, pernah ada kisah-kisah yang telah kita lewatkan, seiring keraguan-keraguan yang dulu, dan selalu saja berusaha kita pahami bersama.
….

Ketika bulan-bulan penghujan saat itu datang berbaris-baris.

Ditangan-tangan hujan yang basah, sekali waktu ada potongan gerak yang menunjukkan tawa-tawa pada rerintik.

Dari bujukan dalam rumah, payung warna-warni yang mengembang, punggung yang menjauh dari riuh hujan, pundak tegap, wibawa kebapakan, dan penerimaan dekapan perempuan yang hangat dilapisi handuk lembut.

Dulu, pada penerimaan-penerimaan riang bersama angin dan hujan, pernah ada deretan-deretan mimpi dan harap-harap yang berubah-ubah.

Dulu, dari setiap rengekan-rengekan, selalu ada tumpukan-tumpukan ingin, yang dalam durasinya menunggu ditemui pada masanya.

Dulu, dari ratap-ratap yang bersusun pada jelang lelap, elusan-elusan doa mengalir melalui ubun-ubun kecil yang bertaut selimut.

Sedang pada waktunya yang saat ini telah mendewasa, menatap apa yang menjadi sangsi, adalah selesapan ragu pada langkah-langkahnya yang terlalu jauh menapak. Terlalu jauh menghindar.

Menemui pesan ibu, sesungguhnya hidup adalah tak mudah, hidup adalah menerima, hidup adalah memberi, hidup adalah semua yang dicecap, walau tak suka.

Ketika jarak disuatu waktu mengiris rindu,  

Tatapi tumpukan-tumpukan waktu yang pernah memberi ruang, untuk hadir dalam kasih dan kasih.


Sebab mendewasa adalah niscaya,

Makassar, Pebruari-April 2015


Rabu, 12 November 2014

Monolog Rindu 8: Hujan


“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan bijian yang dapat dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).”
(QS.Qaf: 7-11)


Sungguhkah, bila selesapan kemarau hanya bisa dilakukan hujan ketika itu? Tentang sore yang hampir menemui petang, tanah daeng yang dibeberapa waktunya, melepas kemarau dalam hari berulangnya pada tahun-tahun.

Hari itu, pada pertemuan-pertemuan, bila rindu pada hujan semakin melekat, mengapa para pelintas tiap jalan menambah laju mereka seakan menjauh?

Adakah yang menikmatinya kala itu?

Tiga hari yang lalu, hujan menemui bumi. Menguapkan aroma-aroma tanah, bebatu, aspal, pijakan. Sebelumnya mendorong gerimis sebagai pengantarnya, menemui makhluk-makhluk yang tak pandai bersyukur.

Bilakah keluh-keluh bulan kemarau, turut menguap bersama hujan kala itu?

Sedang beberapa pertemuan yang terencana juga turut melontarkan keluh-keluh kehadirannya.

Pula sanggupkah, pelan-pelan kehadiran hujan mampu meredam gerutu-gerutu, kala bulan-bulan kemarau?

Tetapi, basah dikemudian waktu mungkin akan sama seperti gerutu-gerutu kemarau.

Tahukah, kau?

Saat langit sore itu dilekati rubung awan kelabu, lalu, sekelebat muncul wajah-wajah mereka yang pernah memeluk tubuh. Memeluk tubuh kecil yang gigil, kala itu, jelang malam semakin larut sembari nyanyian pengantar tidur sangat lembut mengalun ditelinga. Tak luput, beberapa kisah, dongeng, sirah nabawiyah, turut diperdengarkan agar kelopak mata mengatup dengan tenang.

Ketika telah dewasa,

Entah yang menjadikan apa, air-air langit selalu saja menjelma khawatir pada gigil yang mendekap. Selalu menjauh, merasa tak boleh menyentuh dingin bulir-bulirnya. Lantas, enggan adalah pilihan.

Ketika beberapa waktu, hujan menjadi begitu tebalnya. Pepohon melampai, meluruhkan dedaun. Pada dinginnya yang menusuk, pernah, pernah ada yang membisik pula disela-sela riuhnya.

Berkata,

“Ketika kauhindari saat seperti ini, bukankah kau telah menghindari nikmat keberkahan-Nya dari tiap-tiap tetes?”


Sore keempat, setelah hujan menuntaskan kemarau,


Makassar, Nopember 2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Monolog Rindu 7: Kemarau



Kemarau adalah penerimaan yang lapang. Kemarau adalah penerimaan pada jejak-jejak angin yang kering lagi berat.

Apalah yang menyadarkan kita, bahwa tanah-tanah telah jemu pada ocehan dan keluhan kaki?

Apalah yang menggelitik kita, bahwa debu-debu yang selalu tertolak pada kedua lubang hidung, sedang kita selalu saja menghirupnya di jalan-jalan kota?

Ketika musim basah datang tanpa henti-henti, beberapa ocehan juga selalu mengikut pada sepatu-sepatu kita yang basah, ujung-ujung rok kita yang kotor karena ulah cipratan, tubuh-tubuh kita yang gigil dan seketika menjadi pemalas ketika dingin membungkus, dan kepala-kepala kita yang terasa ringan ketika bulir-bulir air langit menyentuh sela-sela rambut.

Kemarau. Matahari mungkin agak garang pada masa-masa ini. Iya, mungkinkah? Ataukah mungkin saja matahari sedang menyingkirkan awan abu-abu dimusimnya ini?

Kemarau. Di musim ini, tak banyak yang menyadari, umpatan-umpatan gerah berada di tengah-tengah siang.

Tak taukah, tanpa sadar bahwa sebenarnya mereka merindukan musim yang basah?

Kemarau. Sama halnya pada penghidupan. Dari beberapa kisah, ternyata, musim kematian telah menggandeng kemarau. Tahun ini. Iya, tahun ini.

Kemarau. Telah banyak mengantarkan insan-insan pada keribaan-Nya.

Kemarau. Apakah ketika kita merindui hujan, sedang pelajaran yang diberikan kemarau akan membuat kita lupa?

Kemarau. Apakah ketika teriknya siang, sedang pelajaran yang diberikan hujan akan membuat kita lupa?

Kemarau. Seperti pada musim kematian yang menemani, seperti hujan yang enggan nampak, pernahkah kita menyadari, bahwa mengembalikan rindu pada keduanya hanya ditujukan pada penciptanya?

  

Sore dan kemarau dalam Oktober, 2014

Selasa, 14 Oktober 2014

Monolog Rindu 6: Pulang



Ini adalah Oktober. Saat-saat kemarau datang menggandeng angin. Kemarau telah melatih angin menjadi lebih tegas. Pun, pada siang-siang dan malam-malam, kemarau telah menjadikan rindu menelikung pada: Pulang.

Pulang?

Berbicara pulang, bukankah selasar rumah selalu lapang dan sejuk untuk kita tempati duduk bersama?

Seperti dibeberapa waktu, kita selalu terjebak pada sangka-sangka yang resah. Pada beberapa waktu, kita selalu saja dengan lemah menerima sesuatu yang semestinya tidak kita terima. Kita selalu menganggap, bahwa hidup tak mesti selalu membahagiakan diri kita sendiri.

Ya. Dan lagi waktu selalu kejam menggiring kita pada penyesalan-penyesalan.

Dari semua yang pernah kita lalui, adakah waktu yang lebih berat seperti kemarin? Seperti yang kita rasakan, berat itu terlalu menghimpit dada dan kepala kita. Terlalu menyesakkan kita yang introvert. Terlalu menunjukkan bahwa kita terkadang abai pada hati kita masing-masing.

Ingatkah September kemarin yang penuh ujian?
Ingatkah Agustus kemarin yang terlalu lelah?
Ingatkah Juli kemarin yang menyendiri?

Baiklah. Pada beberapa suara teduh yang menemani kita, memilih pulang adalah jawabannya. Pulang pada diri kita sendiri. Menemukan kembali diri kita sendiri, ketika waktu (kemarin) telah menjadikan kita memilih untuk membaginya.

Pulang adalah sebaik-baik perjalanan. Seperti yang pernah kita katakan.

Dan setelah kita pulang, pernahkah kita sedikit berusaha memahami, bahwa pulang sesungguhnya adalah saat kita tak mampu lagi bergerak dan berbicara?


Bahwa pulang sesungguhnya adalah saat kita betul-betul sendiri, bertanggung jawab atas apa yang pernah kita lakukan bersama waktu.

(Bersama pagi)

Makassar, 14 Oktober 2014

Rabu, 10 September 2014

Monolog Rindu 5: Berita Kematian

“Tiap-tiap diri yang melekat pada nyawa, suatu waktu, akan merasakan kematian. Pasti. Bahkan pun ketika kaumerasa tidak mampu menerima. Dan ketika kau merasa bahwa hidup tak mestinya sangat singkat.”



 Ingatlah, bahwa hidup memang tak selamanya berpihak pada ingin-ingin dan bahagiamu. Bahkan pun kematian, yang sesungguhnya sangat dekat kehadirannya.

Ingatlah, bahwa hidup tak akan selalu menemanimu dan menemaninya.

Ingatlah, bahwa merasa “siap” menghadapi kematian adalah satu-satunya cara terbaik untuk kaubisa menerima.




Pada bulan yang banyak mengantar berita kematian,

Makassar, September 2014

Senin, 08 September 2014

Monolog Rindu 4: Ini Tentang Rindumu, Dik

“Menanggung rindu memang berat, perempuan. Bahkan mungkin lebih berat ketika kauputuskan untuk tidak menyampaikannya pada yang kaurindukan.”




Tersebutlah pada suatu senja yang enggan kembali mencipta monolog tentang rindu. Iya. Seketika itu, sangat jelas rindu betul-betul merekat. Menempel pada ingatan-ingatan yang sungguh ingin melupa.

Dik, di beberapa waktu yang berucapkan rindumu yang berjarak, entah mengapa hampa-hampa selalu saja menjelma pada ketegaran yang sungguh rapuh.

Pikirmu, kakakmu ini tegar menyembunyikan rindunya, Dik?

Yang kautahu mungkin seperti itu.

Kakakmu ini tak seperti dirimu, yang dengan mudahnya meluahkan rindu.

Tak seperti dirimu.

Dik, andai kautahu pula, tiap-tiap rindu yang pernah (pun) kausisipkan pada jarak-jarak waktu yang membawamu saat ini, sesungguhnya ada beberapa tanya-tanya yang pernah hinggap.

Sungguh, seberat itukah kaumenanggung rindumu, Dik?

Seberat itu pulakah ketika kaumenanggung rindu yang selalu ingin kauluahkan, ketika pun terkadang kakakmu ini tak menyadari?

Ah, mungkin kakakmu ini terlalu betah menyembunyikan rindu-rindunya dibalik perjalanan-perjalanan, terlalu betah dengan diamnya.

 Ataukah mungkin terlalu betah dengan mengamatinya.

 Dik, seperti yang pernah diketahuinya, kakakmu telah tahu, bahwa rindu tak mesti terumbar.

Tak mesti semua orang mengetahui.

Cukup itu, Dik.

Dan, ketika rindumu kembali menghampiri, kirimkanlah doa-doa.

Sebab mendoakan adalah cara yang lebih damai untuk menjadikan rindumu tetap senyap.


Akhir Agustus-September 2014


Rabu, 27 Agustus 2014

Monolog Rindu 3: Tentang Diam Bapak


Sepi menutup. Ketika diammu tidak lagi hangat. Pada kedatangan renggas-renggas waktu yang mengantarkan masing-masing ego pilihan.

Sesaat dalam pelan-pelan waktu yang menggiring pertemuan-pertemuan, pernah ada percaan keraguan dalam diammu. Mungkin itu adalah keraguan rasa yang dimiliki anakmu ini.

Pak, ketika anakmu ini memutuskan sejak dulu, tak akan ada seorang lelaki pun yang menggantikan tempatmu pada kagum-kagumnya. Tidak akan ada seorang lelaki pun yang bisa menggantikanmu sebagai sosok yang selalu menginspirasinya. Tidak akan!

Dikedua bola mata dan hati anakmu ini, diammu adalah hangat yang sulit luruh. Diammu adalah genggaman-genggaman nasihat, dari dan untuk perjalanan hidup. Diammu adalah sesuatu yang selalu ditunggunya, bersama saling menyeduhkan cerita-cerita.

Masih kauingat kan, pak, ketika perlahan-lahan anakmu ini semakin antusias mendekati Tuhan?

Masih kauingat kan, pak, ketika anakmu ini memutuskan untuk menutup helai-helai rambutnya, tidak sama seperti menutup yang hanya sekadar?

Masih kauingat kan, pak, ketika sebuah waktu mengantarkan kita duduk bersama, di rumah kita yang dikepung deras hujan, sedang kita saling menangisi keadaan?

            Ketika kali terakhir anakmu ini pulang, kenapa tak lagi dilihatnya diammu yang hangat seperti dulu?

Lantas, kenapa diammu berubah dingin, pak?

Kenapa, pak?



Pinrang-Makassar, Agustus 2014



Senin, 04 Agustus 2014

Monolog rindu 2: Tentang Rumah (Kita)


            Dari sudut-sudut waktu, mungkin saja, bahwa asa-asa bisa saja perlahan menjadi layu, mati tak berbekas. Asa-asa yang dulu pernah disemai pada harap-harap yang tertanam, membunga, membuah, dan meranum.

Pernahkah, ketika sepotong waktu datang dengan pongahnya, lalu merampas segalanya yang telah kau simpan baik-baik, Bu?

Pernahkah, ketika sepotong waktu datang dengan pongahnya, lalu merampas segala inginmu yang mengharap, Bu?

Pernahkah, ketika sepotong cemas datang dengan pongahnya, disebagian impian-impianmu, Bu?

Andai engkau tahu, Bu.

Anakmu ini tak lagi bisa menyelaraskan harap-harapmu pada harap-harapnya pula. Anakmu ini telah menatap lebar-lebar hidup. Telah banyak pasrah pada jalan-jalan yang dipilihnya. Telah banyak pahit-pahit yang payah ditelannya, meski tak seperti payahmu yang lebih berat, Bu.

Bu, anakmu ini telah memilih jalannya sendiri.

Pada harap-harapmu pula yang indah, sesungguhnya ada ingin anakmu, yang sangat dalam untuk memijakkan kaki pada jejak-jejak impiannya sendiri.

Bu, ketika anakmu ini menyerapi rumah (kita).

Kutahu, pernah ada banyak kecewa yang tergores di wajahmu, Bu. Ketika diputuskannya membagi perhatiannnya pada yang lain.

Bu, ketika siku-siku rumah tak lagi ada banyak waktu untuk kita resapi bersama, apakah kerelaanmu masih tetap ada jikalau waktu menarik anakmu ini, tanpa kaukira-kira?

Bu, ketika anakmu ini ditarik oleh waktu, memilih berada di rumah-rumahnya yang lain adalah kesungguhan yang tak boleh kautolak. Jangan.

Anakmu telah betah disana. Anakmu ini telah banyak belajar pada manusia-manusia kuat. Banyak belajar pada lekuk-lekuk hidup yang belum pernah kauajarkan, Bu.

Sungguh, di rumah-rumah itu, anakmu ini banyak memahami hidup, banyak memaknai segala rasa yang pernah pula sangat tidak disukainya, Bu.

Bu, tak pantaskah, jikalau anakmu ini masih menginginkanmu mengajarinya terus mendewasa, tanpa terlalu keras kauinginkan sesuai inginmu?

Percayalah, Bu.

Anakmu ini masih ingin tetap bisa menikmati pecahan-pecahan kenangan masa kecil, bersamamu di teras rumah. Iya, masih ingin diingatnya beberapa tawa-tawa dan sedih yang pernah dipautkan dikedua tangan kecilnya.

Bu, mesti sekeras apa lagi anakmu ini meyakinkanmu?

Ingat, Bu. Rumah (kita) bukan satu-satunya rumah yang akan selalu kukunjungi, kuresapi, dan kunikmati lipatan-lipatan waktu didalamnya, Bu.

Karena ada banyak rumah-rumah kecil yang selalu menunggu kehadiran anakmu ini, Bu.

Percayalah, Bu.

Rumah (kita) akan tak mudah luruh, ketika anakmu ini memutuskan membagi sebagian hidupnya di rumah-rumah kecilnya.
Iya. Karena anakmu ini akan selalu punya alasan untuk pulang, ke rumah (kita).



Makassar, Agustus 2014


Sabtu, 21 Juni 2014

KITA: Bersama Waktu-Waktu

(Untuk dua perempuan: Dikpa Sativa dan Srie Sagimoon)

             Kita tak pernah bisa membantah. Bahwa hidup selalu seperti lapisan-lapisan tajam atas nyawa masing-masing kita. Bahwa hidup serupa warna-warna lugu yang sewaktu patuh menyelimuti tubuh-tubuh kita.

 Kepada malam kemarin, yang membiarkan uapan-uapan kisah saling berebut didekap hujan. Kutahu, ketika waktuku selalu saja menunjukkan benci pada gigil.

Ada yang menarik. Baberapa hal yang mesti selalu kita perbincangkan. Pada malam yang ikut menyimak kehangatan. Iya. Bahwa kita tahu, harapan-harapan itu tak boleh hilang. Tapi harus tetap menumbuh. Sebab, jejak-jejak kita belum jauh memijak.

Pada siang menuju senja ini. Apa yang selalu tertinggal pada pertemuan-pertemuan jengkal di istana-Nya?

Mendewasa adalah sebuah niscaya.

Hidup adalah kekuatan-kekuatan.

Benar, bahwa hidup adalah banyak-banyak belajar dan memaknai.   

Terima kasih kepada dua perempuan. Mengingat kalian pada sepotong perjalanan hidup adalah sebuah tumpukan kekuatan yang lembut.

Dan mencintai kalian adalah sebuah pilihan yang menenangkan.



Terima kasih.

Uhibbukumfillaah. 

Minggu, 15 Juni 2014

Yakini

Betapa , bahwa melungsai ikatan adalah sebuah cara menguatkan ikatan pada sisi-sisi yang lain.

Ingatlah ini, perempuan.

Seorang yang pernah membersamaimu, yang rela menampung sedihmu, yang menyiapkan sepasang telinganya untuk mendengar kekatamu, yakini, bahwa suatu waktu dia akan tertarik pada potongan-potongan dimensi yang lain.

Yakini, bahwa ia tak akan  selalu menggenggam tanganmu sebagai persaudaraan.

Suatu saat akan ada tangan lain yang lebih kokoh untuk menguatkannya. Akan ada jemari lain yang membasuh linangan-linangan matanya. Dan akan ada sepasang tangan  lebih luas yang bisa lapangkan rentangan pelukannya lebih dalam.
Bukan kedua tanganmu lagi, perempuan.

Yakini itu, perempuan.

Lihatlah, bahkan mungkin akan ada sepasang tangan persaudaraan lain, yang sejak dulu hadir diam-diam.
Yang sejak dulu pernah dengan senang hati membiarkan celoteh-celotehmu, keluh-keluhmu, bercampur bersama diam dan kepingan matanya yang peduli.
Mungkin, sama sekali belum pula sepenuhnya kausadari hadirnya.
Tapi, bersama waktu, dia bukan hanya seseorang yang semula datang diam-diam mendengarmu.

Yakini, ia juga akan seperti yang lain.
Akan pergi.


Makassar, 15 Juni 2014