Senin, 01 Juni 2015

Monolog Rindu 11: Hati


(Sebuah Pesan dan Nasihat)


“Selalu jaga sikap hatimu, Nak. Sebab hati adalah pengontrol jiwa 
dan kekuatan tubuhmu.”

Pada kisah-kisah yang kaulalui, tidak ada jaminan, bahwa hatimu akan tetap baik-baik saja disetiap waktu. 

Nak, ketika kau memutuskan untuk mengasihi siapa pun layaknya saudara, kau harus siap menerima segala baik dan buruk yang ada padanya.

Karena kau tahu pula, setiap manusia adalah tempat segala laku yang khilaf.

Nak, ingat ini. Ketika sebuah hati yang pernah kaupercaya, tiba-tiba disuatu waktu melukai dan menyayat-nyayat hatimu, rawatlah luka-luka yang ditimbulkannya hingga sembuh. Tidak perlu kau pelihara benci, Nak.

Sebab memelihara benci dan memendam hingga membentuknya menjadi gumpalan dendam, adalah salah satu cara untuk  menyakiti dirimu sendiri.

Hatimu haruslah kuat, Nak. Melebihi kuatnya tubuhmu. 

Bagi siapa pun yang telah kau anggap menyakiti hatimu, sesungguhnya tidak semua berniat jahat padamu, Nak. Tidak semua. 

Setiap manusia punya warna masing-masing. Punya laku yang sama sekali tidak bisa kita paksakan untuk selalu memahami diri kita sendiri. 

Bisakah kau lapangkan hatimu sejenak, tanpa mendorong egomu yang negatif itu, Nak?

Lapangkan.

Bersabarlah.

Menerimalah. 

Memaafkan. Bukankah banyak petunjuk-petunjuk-Nya yang mengajarkan hati kita untuk menjadi lebih pemaaf?

Bukankah ketika sebuah hati sedang rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh?



Disisa hujan pertama dalam senja,
Makassar, Juni 2015



Sabtu, 02 Mei 2015

Padamu Yang Kelak Menjadi (Kita)

Disadari atau tidak, semua kisah akan menemui masanya. Tiap-tiapnya akan bertemu pada takdir yang entah. Jelaslah, semua kaki-kaki kisah akan terhenti pada waktu yang telah ditetapkan, pada takdirnya.

Padamu, dan sepenggalan kisah waktu itu. Yang tak mampu lagi tertolak. Sudah tergores pada lembaran-lembaran hidup.

 Pada apa yang akhirnya terciptakan pertemuan-pertemuan?

Mungkin, mungkin saja hati ini selalu sangsi pada hal yang mengejutkan. Pada segala macam bentuk peristiwa yang terkadang belum bisa dipahami nalar. Tetapi, apakah lebih baik mengikuti hati dibandingkan takdir, yang jelas tampak dan tujuannya?

Sempat kutanyakan ini pada sesiapa pun yang paham. Katanya, “Pilihlah pada kecenderungan hatimu. Mantapkan pada sujud-sujud istikharahmu. Sebab tak semua ikatan bisa terjalin dan bertahan hanya bermodal perasaan ataupun cinta. Menunda niat itu, tak baik. Bisa jadi setan telah menghalangi untuk ibadah.”

Kecenderungan. Apakah yang dimaksud kecenderungan itu adalah pada seseorang yang telah lama ada? Seseorang yang tidak asing, yang pernah menyimpan harapan-harapannya dalam bilangan tahun?

Ataukah kecenderungan itu ada pada seseorang yang sama sekali hadirnya tidak pernah disangka?  

Dan, ah. Tetiba saja merasa belum waktunya menyadari itu. 

Sudah siapkah diri ini menjalin ikatan sakral yang (dulu) pernah selalu diingkari hanya dengan dalih ‘belum siap’?

“Tak perlu kata siap, jika takdir sudah berbicara. Bukankah setiap kelahiran dan kematian juga tidak pernah meminta dan menunggu kata siap? Begitu pula takdir yang ini. Kau tak bisa menolak, jika takdir telah memilih waktu dan memilihmu. Kamu hanya butuh meyakinkan diri dan ridha atas ketetapan-Nya.”

“Kenapa mesti menolak jika dia orang yang soleh?”

Itu ucap dua orang perempuan, yang usianya tak seluas dewasanya yang lebih lapang. Lantas ucap mereka sejak saat itu, telah mengubah dalihku saat ini.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Salahkah jika kutuliskan ini untukmu?

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Kutuliskan ini, ketika menemukanmu adalah abstrak. Ketika risau itu pernah mendekat.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Tahukah kau, bahwa diwaktu-waktu ini, memilih untuk menaruh harap padamu (seseorang yang entah) adalah hal yang naif menurutku? Bahkan belum pernah ada sekelebat pun rupa wajah yang tergambar dibenakku, tentangmu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Meski, memang pernah ada seseorang yang menaruh harap dan kujauhkan kecenderungan itu padanya. Tetapi tetap, tetap saja hati ini belum bisa memijak pada kecenderungan sesiapa pun. Meskipun yang ditunjukkan-Nya masih seperti serabun embun-embun yang menempel di jendela.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Akhirnya menyadari, bahwa memutuskan untuk menjemput takdir itu, adalah sebaik-baik pilihan. Cepat ataupun lambat.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Saat ini, (bukan nanti) kutunggu kau menjemputku diantara cemas-cemas yang meraba hadirmu. Ya, jika waktu telah menunjukkan takdir dibulan dan ditahun ini juga. Akan kutunggu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Harapku tak banyak. Tetap baikkan dirimu. Seperti aku yang juga sedang memantaskan diri, untukmu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Biarkan, biarkan doa-doaku mengalir disungai-sungai harapmu. Dan juga harap pada-Nya.




Disela keputusan-keputusan, hujan, dan sesapan secangkir sekoteng


Makassar-Pinrang, akhir April-Mei 2015


Sabtu, 25 April 2015

Sesungguhnya Kematian Itu Dekat Dik, Sangat Dekat!

“April pekan ini meluruhkan hujan dalam senja. Hari agung yang diberkahi, serta doa-doa yang mengalir tanpa henti. Dan seketika doa-doa itu menemui waktunya, menemui masanya.” 

Senja pada pertemuan-pertemuan hari ini, sempat mempertemukan wajah-wajah dalam gedung-gedung. Ada berbagai macam ekspresi. Senang, sedih, gelisah. Menyatu pada tembok-tembok ruangan, kelas, koridor.

Siang tadi, pesan singkatmu masuk. Baiklah, kita akan bertemu lagi (setelah kali terakhir bertemu jumat lalu), sore nanti. Mungkin akan ada lagi perbincangan hangat dan cerita lucumu yang bisa kunikmati hari ini, pikirku.

Padahal, ketika waktu menyorot ke belakang, hanya ada hitungan bulan-bulan kita saling mengenal. Bukan tahun.

Ya. Dan ternyata takdir sungguh sangat tegas menghampiri waktumu, Dik.

Sore tadi, ketika masih ingin menahanmu lebih lama untuk banyak bercerita, gelisahmu sungguh sangat nampak. Juga semakin memucatkan warna disisi-sisi bibirmu. Ada sesuatu yang membuatmu gelisah, Dik.

Dan firasat ternyata bukan menjadi hal yang bisa mencegahmu.

“Saya buru-buru, Kak. Ada amanah yang menunggu. Padahal rasanya masih rindu dengan Kakak. ” Katamu, sambil menjabat tanganku dan memeluk tubuh kurusku. Erat. Erat sekali.

“Senin depan kita ketemu lagi ya, Kak. Saya mau banyak tahu tentang FLP.”

Ah, setiap bertemu, barisan pena itu yang selalu kau tanyakan. Itu inginmu, yang sudah sejak dua tahun kau impikan, bisa bergabung bersama dikeluarga barisan pena. Mencipta karya-karya sastra. Bahkan pun, inginku membaca puisi-puisi yang pernah kau buat dan kau ceritakan, ternyata pula tidak bisa menemui masanya.

Itu inginmu sejak dua tahun lalu. Bahkan mungkin, sejak segan itu ada saat kata-kata dan senyum perkenalan yang sudah lama ingin kau lontarkan pada sikapku yang dingin.

“Wah, ternyata kalau sudah kenal, kakak beda ya? Dulu waktu belum kenal, kakak kelihatannya cuek dan jutek dengan saya.”

Jumat lalu kau berceloteh seperti itu, dan kujelaskan pula dengan banyak tawa. Kita sama-sama tertawa menengahi sikapku yang tidak sepenuhnya seperti kau katakan.

Dan harapan untuk bisa bercerita lebih banyak lagi disenja tadi, pupus sudah. Dan takdir telah benar-benar menjemputmu diujung Jumat ini.

Namun  hanya bisa menjanjikan waktu untuk bertemu lagi dirabu depan.
” Sekalian mengurus tetek bengek tugas akhir kampus.” Ujarku.
 Iya, dan kau mengiyakan. Tapi ada ragu yang kulihat.
“Nanti dikabari lagi ya, Kak. Kakak semangat, harus lulus tahun ini!” ucapmu yang selalu disertai senyuman manis.

Mendapat semangat ditengah-tengah kepenatan dalam berhadapan tugas akhir, serasa seperti ada yang menegukkan air di sela-sela kejenuhan.

Dan deras hujan membungkus malam ini, membawa kabarmu padaku, Dik. Kabar yang tidak pernah disangka akan mendatangi. Kabar yang dirasa akan banyak menguras buliran air dari mata siapa pun yang mengenalmu. Terkecuali mata kakakmu ini.

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun….

Dan dedaunan catatan dalam Lauh Mahfudz telah gugur. 

Semoga Jannah yang kau raih, Dik Suryaningsih (Si Perindu).

Lafadz doa dikirimkan untukmu.



 Dalam pelukan duka,

Makassar, 24 April 2015.