Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2015

Monolog Rindu 11: Hati


(Sebuah Pesan dan Nasihat)


“Selalu jaga sikap hatimu, Nak. Sebab hati adalah pengontrol jiwa 
dan kekuatan tubuhmu.”

Pada kisah-kisah yang kaulalui, tidak ada jaminan, bahwa hatimu akan tetap baik-baik saja disetiap waktu. 

Nak, ketika kau memutuskan untuk mengasihi siapa pun layaknya saudara, kau harus siap menerima segala baik dan buruk yang ada padanya.

Karena kau tahu pula, setiap manusia adalah tempat segala laku yang khilaf.

Nak, ingat ini. Ketika sebuah hati yang pernah kaupercaya, tiba-tiba disuatu waktu melukai dan menyayat-nyayat hatimu, rawatlah luka-luka yang ditimbulkannya hingga sembuh. Tidak perlu kau pelihara benci, Nak.

Sebab memelihara benci dan memendam hingga membentuknya menjadi gumpalan dendam, adalah salah satu cara untuk  menyakiti dirimu sendiri.

Hatimu haruslah kuat, Nak. Melebihi kuatnya tubuhmu. 

Bagi siapa pun yang telah kau anggap menyakiti hatimu, sesungguhnya tidak semua berniat jahat padamu, Nak. Tidak semua. 

Setiap manusia punya warna masing-masing. Punya laku yang sama sekali tidak bisa kita paksakan untuk selalu memahami diri kita sendiri. 

Bisakah kau lapangkan hatimu sejenak, tanpa mendorong egomu yang negatif itu, Nak?

Lapangkan.

Bersabarlah.

Menerimalah. 

Memaafkan. Bukankah banyak petunjuk-petunjuk-Nya yang mengajarkan hati kita untuk menjadi lebih pemaaf?

Bukankah ketika sebuah hati sedang rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh?



Disisa hujan pertama dalam senja,
Makassar, Juni 2015



Sabtu, 02 Mei 2015

Padamu Yang Kelak Menjadi (Kita)

Disadari atau tidak, semua kisah akan menemui masanya. Tiap-tiapnya akan bertemu pada takdir yang entah. Jelaslah, semua kaki-kaki kisah akan terhenti pada waktu yang telah ditetapkan, pada takdirnya.

Padamu, dan sepenggalan kisah waktu itu. Yang tak mampu lagi tertolak. Sudah tergores pada lembaran-lembaran hidup.

 Pada apa yang akhirnya terciptakan pertemuan-pertemuan?

Mungkin, mungkin saja hati ini selalu sangsi pada hal yang mengejutkan. Pada segala macam bentuk peristiwa yang terkadang belum bisa dipahami nalar. Tetapi, apakah lebih baik mengikuti hati dibandingkan takdir, yang jelas tampak dan tujuannya?

Sempat kutanyakan ini pada sesiapa pun yang paham. Katanya, “Pilihlah pada kecenderungan hatimu. Mantapkan pada sujud-sujud istikharahmu. Sebab tak semua ikatan bisa terjalin dan bertahan hanya bermodal perasaan ataupun cinta. Menunda niat itu, tak baik. Bisa jadi setan telah menghalangi untuk ibadah.”

Kecenderungan. Apakah yang dimaksud kecenderungan itu adalah pada seseorang yang telah lama ada? Seseorang yang tidak asing, yang pernah menyimpan harapan-harapannya dalam bilangan tahun?

Ataukah kecenderungan itu ada pada seseorang yang sama sekali hadirnya tidak pernah disangka?  

Dan, ah. Tetiba saja merasa belum waktunya menyadari itu. 

Sudah siapkah diri ini menjalin ikatan sakral yang (dulu) pernah selalu diingkari hanya dengan dalih ‘belum siap’?

“Tak perlu kata siap, jika takdir sudah berbicara. Bukankah setiap kelahiran dan kematian juga tidak pernah meminta dan menunggu kata siap? Begitu pula takdir yang ini. Kau tak bisa menolak, jika takdir telah memilih waktu dan memilihmu. Kamu hanya butuh meyakinkan diri dan ridha atas ketetapan-Nya.”

“Kenapa mesti menolak jika dia orang yang soleh?”

Itu ucap dua orang perempuan, yang usianya tak seluas dewasanya yang lebih lapang. Lantas ucap mereka sejak saat itu, telah mengubah dalihku saat ini.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Salahkah jika kutuliskan ini untukmu?

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Kutuliskan ini, ketika menemukanmu adalah abstrak. Ketika risau itu pernah mendekat.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Tahukah kau, bahwa diwaktu-waktu ini, memilih untuk menaruh harap padamu (seseorang yang entah) adalah hal yang naif menurutku? Bahkan belum pernah ada sekelebat pun rupa wajah yang tergambar dibenakku, tentangmu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Meski, memang pernah ada seseorang yang menaruh harap dan kujauhkan kecenderungan itu padanya. Tetapi tetap, tetap saja hati ini belum bisa memijak pada kecenderungan sesiapa pun. Meskipun yang ditunjukkan-Nya masih seperti serabun embun-embun yang menempel di jendela.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Akhirnya menyadari, bahwa memutuskan untuk menjemput takdir itu, adalah sebaik-baik pilihan. Cepat ataupun lambat.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Saat ini, (bukan nanti) kutunggu kau menjemputku diantara cemas-cemas yang meraba hadirmu. Ya, jika waktu telah menunjukkan takdir dibulan dan ditahun ini juga. Akan kutunggu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Harapku tak banyak. Tetap baikkan dirimu. Seperti aku yang juga sedang memantaskan diri, untukmu.

Padamu, yang kelak menjadi Kita….
Biarkan, biarkan doa-doaku mengalir disungai-sungai harapmu. Dan juga harap pada-Nya.




Disela keputusan-keputusan, hujan, dan sesapan secangkir sekoteng


Makassar-Pinrang, akhir April-Mei 2015


Sabtu, 25 April 2015

Sesungguhnya Kematian Itu Dekat Dik, Sangat Dekat!

“April pekan ini meluruhkan hujan dalam senja. Hari agung yang diberkahi, serta doa-doa yang mengalir tanpa henti. Dan seketika doa-doa itu menemui waktunya, menemui masanya.” 

Senja pada pertemuan-pertemuan hari ini, sempat mempertemukan wajah-wajah dalam gedung-gedung. Ada berbagai macam ekspresi. Senang, sedih, gelisah. Menyatu pada tembok-tembok ruangan, kelas, koridor.

Siang tadi, pesan singkatmu masuk. Baiklah, kita akan bertemu lagi (setelah kali terakhir bertemu jumat lalu), sore nanti. Mungkin akan ada lagi perbincangan hangat dan cerita lucumu yang bisa kunikmati hari ini, pikirku.

Padahal, ketika waktu menyorot ke belakang, hanya ada hitungan bulan-bulan kita saling mengenal. Bukan tahun.

Ya. Dan ternyata takdir sungguh sangat tegas menghampiri waktumu, Dik.

Sore tadi, ketika masih ingin menahanmu lebih lama untuk banyak bercerita, gelisahmu sungguh sangat nampak. Juga semakin memucatkan warna disisi-sisi bibirmu. Ada sesuatu yang membuatmu gelisah, Dik.

Dan firasat ternyata bukan menjadi hal yang bisa mencegahmu.

“Saya buru-buru, Kak. Ada amanah yang menunggu. Padahal rasanya masih rindu dengan Kakak. ” Katamu, sambil menjabat tanganku dan memeluk tubuh kurusku. Erat. Erat sekali.

“Senin depan kita ketemu lagi ya, Kak. Saya mau banyak tahu tentang FLP.”

Ah, setiap bertemu, barisan pena itu yang selalu kau tanyakan. Itu inginmu, yang sudah sejak dua tahun kau impikan, bisa bergabung bersama dikeluarga barisan pena. Mencipta karya-karya sastra. Bahkan pun, inginku membaca puisi-puisi yang pernah kau buat dan kau ceritakan, ternyata pula tidak bisa menemui masanya.

Itu inginmu sejak dua tahun lalu. Bahkan mungkin, sejak segan itu ada saat kata-kata dan senyum perkenalan yang sudah lama ingin kau lontarkan pada sikapku yang dingin.

“Wah, ternyata kalau sudah kenal, kakak beda ya? Dulu waktu belum kenal, kakak kelihatannya cuek dan jutek dengan saya.”

Jumat lalu kau berceloteh seperti itu, dan kujelaskan pula dengan banyak tawa. Kita sama-sama tertawa menengahi sikapku yang tidak sepenuhnya seperti kau katakan.

Dan harapan untuk bisa bercerita lebih banyak lagi disenja tadi, pupus sudah. Dan takdir telah benar-benar menjemputmu diujung Jumat ini.

Namun  hanya bisa menjanjikan waktu untuk bertemu lagi dirabu depan.
” Sekalian mengurus tetek bengek tugas akhir kampus.” Ujarku.
 Iya, dan kau mengiyakan. Tapi ada ragu yang kulihat.
“Nanti dikabari lagi ya, Kak. Kakak semangat, harus lulus tahun ini!” ucapmu yang selalu disertai senyuman manis.

Mendapat semangat ditengah-tengah kepenatan dalam berhadapan tugas akhir, serasa seperti ada yang menegukkan air di sela-sela kejenuhan.

Dan deras hujan membungkus malam ini, membawa kabarmu padaku, Dik. Kabar yang tidak pernah disangka akan mendatangi. Kabar yang dirasa akan banyak menguras buliran air dari mata siapa pun yang mengenalmu. Terkecuali mata kakakmu ini.

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun….

Dan dedaunan catatan dalam Lauh Mahfudz telah gugur. 

Semoga Jannah yang kau raih, Dik Suryaningsih (Si Perindu).

Lafadz doa dikirimkan untukmu.



 Dalam pelukan duka,

Makassar, 24 April 2015.

Sabtu, 08 November 2014

Nopember: dalam tanda-tanda

Membiarkan oktober dalam kemarau. Satu keputusan bijak dengan turut membiarkan persoalanmu pergi bersama angin dan debu-debunya.

Menatap, bahwa hidup tidak melulu menjadikanmu cemas.

Seperti melesatkan waktu, rasa-rasa yang pernah kaucemaskan, sungguh, bukan perkara pahit untuk sekadar membincangkannya pada perempuan-perempuan yang selama ini bersedia menyiapkan pendengarannya untuk kaupinjam.

Perempuan,

dari semua kisah-kisah yang pernah menjejal otakmu, adakah sedikit pun keyakinanmu luruh pada balasan waktu?

Bukankah yang pernah sering kaukatakan, sejauh sepasang kakimu melangkah, pasti tetap akan kembali pulang pada langkah pertama?

Perempuan,

Keberanianmu yang menegaskan rasanya, dia, yang pernah hampir-hampir menggoyahkan pertahananmu, percaya saja, bahwa setiap hal yang pernah berjarak akan dipertemukan pada satu waktu.

Tentang hari keenam dalam nopember tahun ini.

Meski lugumu sempat ingin kau tunjukkan pada pertemuan siang itu, sepertinya itu tak perlu untuk sekedar kau putuskan mengelak.

Menghindar?

Tak juga, perempuan.

Dia, yang pernah membawamu dalam gamang. Yang pernah membawamu pada segala hal yang tidaklah mudah.

Pada pertemuan siang itu, pada perbincangan-perbincangan ringan, yang sesungguhnya sama sekali tak menyangka. 

Terkejutkah kau, perempuan?

Iya, tak menyangka, pada kali terakhir pertemuanmu terjadi ditiga tahun yang lalu, seingatmu.

Dan benar pada saat itu, siang menjelmakan dirimu menjadi kelu. Mungkin tak pernah kausangka, bahkan pun menghadirkan pertemuan itu dalam angan-anganmu.

Mengetahui, pada Juni kemarin, yang mengabarkan dirinya pada berita gamang.

Lantas, pada saat itu kau menghindarkah, perempuan?

Sedang siang saat itu, lagi-lagi sangat sulit kaulontarkan satu pun kata padanya.

Perempuan,

Salahkah kau bersikap demikian?

Salah pada apa?

Pada kesendiriannya yang ternyata masih mengharap-harap hatimu hingga kini?


Dua hari setelah hari keenam dalam nopember,



Makassar, 2014

Rabu, 01 Januari 2014

TOWR FLP Sulsel 2013: Kontemplasi dan Cerita-Cerita

Baiklah. Mungkin waktu telah sangat jauh tertinggal ketika kutuliskan ini. Ada banyak yang terlewatkan. Tentang cerita-cerita. Kisah-kisah. Karena hanya masalah waktu dan kesalahpahaman keinginan. Apa yang salah ketika urusan-urusan saling menindih, saling berdesakan, tanpa memikirkan betapa ringkihnya tubuh ini?

Ah. Tak lain ini adalah kesia-siaan yang  kembali terulang.

Penyesalan!

Penyesalan datang lagi, ya?
Sudah berapa lama kau membuang-buang lagi waktumu?
sudah berapa banyak kekata yang tidak kau acuhkan untuk rumah keduamu ini?
Seberapa pentingnya urusan-urusan itu, sehingga belakangan kamu memilih untuk diam tak berkata dalam beberapa waktu?

Bukankah diluar sana telah banyak ide yang menawarkan dirinya untuk kau nyatakan dalam himpunan kata?
Bukankah keberpihakanmu pada banyak orang, pada tangan-tangan remaja mereka, pada kajian-kajian kalam-Nya, (pada sosialismu, lebih tepatnya) membuatmu anyir pada kekatamu yang dulu?

Sudahlah, hati. Kutahu, bahwa aku telah sangat banyak melewatkan waktu. Melewatkan banyak lipatan-lipatan peristiwa yang seharusnya –dulu- bisa kurekam dalam ikatan-ikatan kata. Maka, berusaha kuhadirkan diriku pada suatu waktu yang menyeretku untuk memaksa memeluk kembali kekata.

Ya! Kembali memeluknya dari dekapan yang melonggar. Dekapan yang –dulu- kuibaratkan sebagai salah satu jalan hidupku. Menjadi seorang penulis.

Ia Yang Maha Menyayangi. Yang akhirnya mengiznkan raga ini bisa berkumpul (kembali) bersama pejuang pena. Meski amanah dan tuntutan lain juga merengek untuk diperhatikan. Tapi bermula lagi kepada niat ini, yang ingin mengembalikan gairah menulis yang telah lama terkikis oleh kepadatan retorika dalam gerak-gerak lainnya.

Baiklah. Akan kuceritakan -lebih tepatnya mencoba merekam jejak-jejak melalui kata- kisah akhir di penghujung desember akhir tahun ini. Sebagai penebus kesalahanku.

Bermula, ketika akhir tahun di dua tahun yang lalu (desember 2011), Allah menakdirkanku dan beberapa calon penulis lainnya duduk bersama dalam suatu kegiatan “TOWR FLP Sulsel 2011 Pucak, Maros” dan juga bergabung di keluarga besar Forum Lingkar Pena (FLP).

Tiga hari kami diberikan ilmu, saling berbagi kisah dan juga cerita. Masih teringat jelas juga dari candaan kami yang mengalir saat malam sebelum meninggalkan Pucak, bersama “Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi”. Heboh juga kami saat itu, mendeklarasikan terbentuknya “keluarga” itu.
Sangat teringat jelas keakraban kami, Fiqah, Wina, Arini, Neya, Icha, Cita, Army, Suthe’, Ima, dan juga diriku.

Namun, setelah lebih kurang dua tahun kemudian, saat TOWR di Bantimurung kemarin, hanya aku dan Fiqah yang bisa ikut kembali berkontribusi di kegiatan TOWR Sulsel di Bantimurung, meskipun bukan lagi sebagai peserta, tetapi sebagai panitia di kegiatan ini.

Tapi mungkin seperti itulah jalannya. Kami tak bisa berkumpul bersama lagi, mengingat tuntutan akademik yang masih mereka prioritaskan belakangan ini, dan juga tuntutan-tuntutan lainnya.

Namun Fiqah, ya, Fiqah. Si perempuan Azure Azalea yang juga saat itu ,ternyata, merindukan kehadiran Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Tapi entah diriku yang terkadang malu-malu jika harus mengekspos Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Entah kenapa.

Dua puluh tujuh hingga dua puluh sembilan desember 2013 -kurang lebih dua tahun sejak kebersamaan di Pucak ada di hidupku(kami)- masih mutlak bahwa setiap tempat memiliki cerita. Setiap peristiwa memiliki kenangannya sendiri.

Bantimurung. Sebuah tempat wisata di kabupaten Maros, yang terkenal dengan kupu-kupu dan air terjunnya. Lokasi ini sungguh sangat tidak asing bagiku, baik nama maupun tempatnya. Ini sungguh sangat berbeda dengan Pucak, yang dulunya sangat asing nama dan tempatnya bagiku, meski berada di kabupaten yang sama.

Dua puluh tujuh desember, siang itu, tepatnya hari Jumat. Sungguh jumat barokah. Kami dipertemukan dalam satu kepentingan. Sama-sama berkepentingan menuntut ilmu, apapun peran kami dalam kegiatan itu. Kami sama-sama datang untuk belajar.

Setelah berkumpul di sebuah lokasi sebelum berangkat, akhirnya kami berada di lokasi kegiatan. Subhanallah, seketika terkagum-kagum dengan lokasi TOWR kali ini. Sebuah penginapan yang memiliki kolam renang dengan air berwarna hijau, (cukup bertanya-tanya juga, kenapa air kolamnya berwarna hijau, berbeda dengan kolam renang anak-anak yang tampak jauh memamng airnya sangat jernih) pohon kelapa dan karts yang menjadi latarnya. Tak lupa pula awan yang sesekali melepaskan gerimis. Semuanya terlihat tersusun secara apik.
      
 Malam akhirnya bertemu kami, setidaknya mempertemukan kami dalam forum. Kami memulai malam itu dengan materi “Dakwah dan Kepenulisan”. Ibunda Rahmawati Latief, nama yang tidak asing bagiku namun kali pertama bertemu dalam kehangatan beliau malam itu, bergabung dan menyuguhkan kami ilmu. Kembali menyadarkan kami, bahwa menulis haruslah memiliki tujuan yang baik, bahwa menulis hanya untuk kebaikan, untuk kemaslahatan ummat. Sangat tersadar dengan garis besar yang disampaikan beliau. Sadar akan beban seorang penulis terhadap tulisan-tulisan yang dibuat. Bahwa segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan, kelak.

Keesokan pagi, mengantarkan kami pada suguhan materi Mbak Afifah Afra. Salah satu penulis yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Ah, juga karyanya. Bukunya yang tidak sempat kumiliki karena kehabisan. Kekagumanku pada karya-karya beliau, semakin membuat penasaran untuk memiliki buku-bukunya.

Siang menjelang sore datang, Mbak Dalasari Pera menyapa kami dengan ilmu-ilmu puisinya. Keberuntunganku menemani beliau selama menyampaikan materi, kembali menambah ilmuku dalam perpuisian. Rasanya rindu, rindu sekali ingin kembali menyelami dunia puisi yang telah lama jauh.

Singkatnya, Kak S. Gegge Mappangewa juga setia hadir menemani kami. Membimbing dan mengarahkan kami dalam kepenulisan, juga motivasi menulisnya yang sangat bermanfaat.

Hingga, pagi hari terakhir pada sesi travel writing, tak kalah menariknya ketika kami berhasil menaklukkan ratusan anak tangga yang mendaki, curam, becek, dan licin untuk mencapai gua mimpi. Di gua mimpi, kami sempat mengamati stalaktit dan stalagmit, meski tidak secara menyeluruh ke dalam gua. Tapi kami beruntung sudah menaklukkan perjalanan menuju gua. Juga air terjun yang saling memburu deras, setelah ditemani hujan dan gerimis.
                                                bersama Kak Irna, Kak Dian, Ika, dan Kak Mita

Terakhir. Setelah semua sesi selesai, setelah rangkaian penutupan juga telah dirampungkan, kami bersiap untuk berpisah. Tak lupa juga menggendong Asiyah Salsabila, putri dari salah satu peserta TOWR, ibu muda yang berusia 18 tahun, Shafiyah Zakiah. Bahagia juga bisa bertemu keduanya. Dua perempuan yang menyatu dalam keluarga besar FLP. Beruntung bisa mengenalmu, Zakiah. Banyak belajar darimu (meski cuma banyak memerhatikan gerak-gerikmu mengurus Asiyah disela-sela menerima materi, juga semangatmu mengikuti kegiatan hingga selesai tanpa terbebani tanggung jawab sebagai seorang ibu), setidaknya ini juga sebagai bekal bagiku sebelum menjadi seorang ibu. 

Senang bisa menggendongmu, Asiyah. Semoga tetap seperti itu, menjadi anak sholeha dan tidak rewel. Akan selalu merindukanmu, adik cantik. Semoga kita bisa dipertemukan dan menggendongmu kembali di lain waktu.

Satu lagi yang tidak akan terlupakan dari kisah ini. Ketika kami berpisah, saling berjabat tangan dan berpelukan. Erat, erat sekali. Berharap itu bukanlah yang terakhir. Sebagai salah satu bahasa tubuh dari indahnya ukhuwah kita dan indahnya pertemuan kita.

Semakin berharap. Semoga ini bukanlah yang terakhir. Tetapi ini sebagai permulaan yang manis untuk kita, sama-sama memperjuangkan Dakwah bil Qalam.  

Semoga.  ^_^

Momen sebelum berpisah: para akhwat panitia dan SC


Bersama hujan dalam Ashar,

VAA Makassar, 1 Januari 2014



Senin, 05 Agustus 2013

Dari yang terlewati: ke-21 tahun

Mungkin bola oranye itu masih seperti dulu
Masih seperti ketika rasa kagum pada awan bertambah-tambah
Masih seperti udara yang menduduki pelupuk mata
Ada yang masih selalu dinanti dalam kekata bibir yang lebih senang membungkam

Ada yang masih selalu diinginkan dalam kepingan-kepingan impian juga harapan-harapan
Desah-desah itu juga masih seperti itu

Selalu ada banyak tanya dan juga perkiraan (?)
Ruh dan jasad
Belum ada masa yang bisa memisahkan kita
Kita masih seperti dulu, yang bersama merasakan gelitik sendu, juga belai bahagia



Kembali menemui waktu disenyapan penghujung senja
 
VAA Makassar, 5 Agustus 2013


Sabtu, 04 Agustus 2012

Ini Masih Tentang Waktu


Ini masih tentang waktu
Masa
Selalu saja ada pijak-pijak lengang yang tak teracuh
Selalu ada lekuk-lekuk rasa
Selalu
Tentang napas-napas yang berarti
Berarti saat itu bermakna memberi
Memberi
Cerah, riang, bahagia, muram, sedih, gundah, risau, geram, amarah
Beribu-ribu makna dalam kisah warna
Warna
Mengapa ada tanya?
Itulah hidup
Kehidupan
Abadi?
Hanya fana.



VAA Makassar, 3-4 Agustus 2012/ 16 Ramadhan 1433
Menjelang milad yang ke-20

Jumat, 06 Maret 2009

“Pesawat hampir jatuh di daerahku !”

Selasa, 3 Maret 2009, pukul 23.10 WITA. Malam itu, kulalui dengan perasaan kaget,
takut, dan membuatku sport jantung. Kenapa, karena peristiwa itu tak akan pernah kulupa seumur hidupku. Gini ceritanya, malam itu, sebelum tidur aku sedang maskeran (maklum cewek!), sambil nunggu maskernya kering, aku ngobrol dengan saudara kembarku, sambil denger radio. Selang beberapa menit, terdengar suara bergemuruh, kayak ada pesawat lewat. Pikirku sih, pesawatnya cuma numpang lewat doang, tapi kok, kedua kalinya, suaranya terdengar lebih nyaring. Nah, dari situ aku sempat mikir, kok pesawat cuma numpang lewat aja, suara pesawatnya terdengar lebih dari sekali, dan suaranya menandakan kalau pesawatnya bolak-balik.
Aku sempat panik, segera keluar dari kamar, dan keluar rumah, memastikan sebenarnya, apa yang sedang terjadi. Ternyata, ibu dan adikku sudah berada di luar rumah, dan menyaksikan apa yang sedang terjadi.
Dugaanku ternyata benar, sekitar beberapa ratus meter di atas kakiku berpijak, ada sebuah pesawat yang berputar-putar, sampai sesekali lampunya berkedip-kedip. Dari situ rasa khawatirku langsung muncul, apa pesawat itu akan mendarat darurat? Karena berputar-putar di atas daerahku hampir setengah jam. Aku juga berfikir pesawat itu akan mendarat di sawah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku (sekitar 100 meter).
Tidak beberapa lama kemudian, tetangga di depan rumahku, keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Karena sekitar rumahku suasananya sangat sepi, mereka semua tak menyangka kalau suara yang terdengar beberapa kali itu, adalah suara pesawat yang berputar-putar. Sempat juga kami melihat ekor pesawat itu, mengeluarkan cahaya putih kebiru-biruan, kayak percikan api gitu deh! Trus, gerak pesawat itu kadang turun, naik, dan lampu merahnya berkedip-kedip. Ini, bukan mimpi loh!
Eh, ternyata memang pesawat itu kayaknya mau mendarat. Tapi, tak lama kemudian, pesawat itu terbang mengarah ke arah barat. Nah, tetangga di depan rumah beranggapan kalo kemungkinan pesawat itu akan mendarat di laut ... desa langnga (beberapa kilometer dari tempat tinggalku, kota Pinrang).
Setelah kejadian yang sempat membuatku deg-degan dan gemetaran, aku sempat penasaran, di mana sih pesawat itu akan mendarat? Apa betul, pesawat tadi akan mendarat darurat? Wallahu ‘alam. Tapi pikirku, kemungkinan besok atau lusa, media cetak atau elektronik akan memberitakan peristiwa itu.
Esoknya di sekolah, aku menceritakan peristiwa yang telah kualami waktu malam. Tapi, tidak semua temanku yang tahu. Namun, ada yang bilang kalo pesawat itu sempat lewat di atas bukit Paleteang, dan di kecamatan Talabangi (ke arah utara dari kota Pinrang). Kalau mau diperkirakan, kemungkinan pesawat itu mendaratnya di sungai atau sawah. Karena kedua tempat itu dekat dengan sawah (bukit Paleteang) dan sungai (kecamatan Talabangi) dan tidak ada laut di sekitar situ. Walllahu’alam.
Tapi aku heran, kenapa sampai saat ini tak ada media elektronik atau pun cetak yang memberitakan peristiwa tersebut. Padahal, pada malam kejadian, bayak warga yang keluar rumah dan menyaksikan hal tersebut. Sampai-sampai jalan ramai, padahal sudah hampir tengah malam (tidak seperti malam biasanya, suasana jam segitu sudah sepi). Yah, sungguh kita juga tak bisa menunjukkan bukti, peristiwa itu benar-benar terjadi, karena tidak ada audiovisual yang menunjukkan hal itu memang terjadi. Tapi, banyak kok yang sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Ya, ditunggu aja kalo mungkin ada berita mengenai hilangnya pesawat itu. Hm..hm.. jadi, peristiwa yang di atas mengingatkanku pada peristiwa misteri hilangnya pesawat Adam air yang sampai saat ini korbannya belum diketahui, dan buruknya maskapai penerbangan negara kita. :) bG!

NB: Sampai saat artikel ini diposting, gak ada tuh berita tentang pesawat yang hampir jatuh itu.