Rabu, 13 Maret 2013

Menyibukkan Kenangan


Akan kuceritakan ini untukmu, wahai sang penjaga malam.


Ini bukan hanya sekedar keluh kesah dariku, yang sungguh masih betah dalam diam.

Yang masih rela membiarkan sakit pada kerinduan dan tetap muncul.
Ya. Sesungguhnya kisah telah cukup letih menyematkan diri dalam keragu-raguanku.
Ah, bukan. Bukan kisah. Tapi kenangan.
Kenangan yang kadang menyergap, menodong kebodohanku yang masih saja mengharap kenangan lain datang menjejal khayal.


Bahkan ketika kenangan menghadirkan sosoknya….
Menggambarkannya masih sama seperti masa lalu.
Tetapi, ketakutan-ketakutan memeluk. Seperti dulu.


Ketika kenangan yang menghadirkannya lungsai pada prinsip-prinsip. Mendeskripsikannya seperti pendosa.


Salahkah jika (berusaha) melupakan adalah pilihan?


Karena melupa, terkadang diri telah diperbudak kesibukan. Ah,sibuk. Sibuk. Sibuk. Sibuk.


Menjadikan (alasan) sibuk sebagai pemberi batasnya?


Sibuk hanya untuk alasan melupakan?


Atau berpura-pura sibuk?


Akan tetapi. Jikalau kenangan tak menyengaja berpura-pura menampakkan seringai dalam waktu, masihkah sibuk menyegera datang untuk menghalang?


Masihkah (kepura-puraan) itu bertahan?



Dalam penanda malam yang (menyibukkan)
VAA Makassar, 13 Maret 2013

Rabu, 30 Januari 2013

Buku Catatan Harian


Mungkin saat ini, malam telah merengkuh tanyaku. Tentang kisah yang pernah kucari. Tentang cerita-cerita yang menciptakanku, juga mereka saat ini.
Dan akhirnya telah kutemukan. Sebuah buku berwarna hitam. Hitam pada kekusaman demu yang menempel. Pada bentuk klasik yang kusukai.
Ya,  mungkin ini yang mampu menjelaskan sebagian kisah hidup lelakiku.


Buku catatan harian. Sebuah buku sederhana, namun bermakna menggambarkan waktu yang menyediakan kisah tentangmu dan kisah dengannya. Ah, seketika ketidakwajaran cemburu itu hadir.


Tak ada yang terlalu istimewa, ketika membuka setiap halaman demi halaman kertas berbintik cokelat. Sebuah berita dari surat kabar, kumpulan kosa kata Bugis dan Makassar (yang mungkin dengan sengaja kau kumpulkan untuk tetap kau ingat), juga kudapati barisan-barisan ayat suci-Nya, serta harapan dan doa-doa (untuk kedua orang tuamu). Terenyuh. 


Beberapa lembar terlewati, catatan-catatan kerja, juga beberapa halaman kosong.
Ada banyak tanya yang serta-merta membuatku semakin penasaran. Masihkah ada sebuah tulisan tantang cerita? Membuka lagi, lagi, lagi. Dapat. 


Sebuah tulisan curahan hatimu tentang sebuah kisah cintamu (ah, saya masih saja merasa sungkan jika menyebut satu kata itu). Pada seorang perempuan yang engkau temui beberapa tahun silam. Ada beberapa kesan yang mendalam. Dan lagi-lagi membuatku cemburu ketika mengeja tulisanmu.


Mungkin saja engkau bahagia dan tersenyum malu, ketika mendapatiku membaca buku catatan harianmu yang kudapatkan malam ini, tanpa kau kira sebelumnya. 


 Tenanglah. Bukumu hanya kupinjam sebentar (tapi jangan cari buku ini, jika suatu saat engkau tidak pernah melihatnya lagi di meja kerjamu). Karena ingin kutulis beberapa kisah hidupmu, juga kisah pertemuanmu dengan seorang yang juga sangat kukasihi seperti dirimu.


Wanita yang telah dipilihkan-Nya menjadi tulang rusukmu. Menjadikannya pendamping hidupmu. Dan sahabat disisa usiamu. Ibuku.


Ya, engkau wahai lelakiku yang kisahmu akan kutorehkan pada berlembar-lembar kertas yang tertuliskan kisahmu dari buku catatan harianmu. Yang mungkin suatu saat nanti akan engkau baca sembari tersenyum seperti diriku malam ini, yang telah membaca buku catatan harianmu.


Lelakiku, engkau hanya perlu menanti waktu karena kesungguhanku. Tetaplah bersabar. Karena aku juga mencintaimu karena-Nya dengan kesabaran yang kau miliki hingga kini. 

Semakin kucintai engkau karena Allah….

Pinrang, 30 Januari 2013

Minggu, 27 Januari 2013

Untukmu, Wahai Sang “Penagih” Amanah


Ini masih tentangmu, wahai sang “penagih “ amanah.


Ini masih tentangku, yang mencoba mengerti akan makna “amanah”.


Ah, mungkin engkau tidak akan pernah tahu isi hati orang-orang penanggung amanah. Kurasa seperti itu pula yang engkau rasakan sebagai pemberi amanah, yang juga menanggung amanah.


Semua tak mudah. 


Bahkan tak sebanding, jika beberapa tuntutan-tuntutan atau bahkan amanah lain menggantung pada pundak yang lemah (ini).


Bahkan tak seperti itu, jika ingin juga membandingkan tuntutan-tuntutan yang bisa saja datang dan pergi. Hadir dan kembali. Ataupun tak teracuhkan.


“Ah, penghianat amanah!”


Tak! Aku tak ingin jika suatu saat engkau menyebutku seperti itu. 


Karena aku juga tak ingin engkau menuntutku terlalu keras, wahai engkau yang mendewakan amanah.


Sebab ada sejuta alasan menjadikan amanah itu tertangguhkan, bukan dilepaskan ataupun diingkari.


Itu juga karena (beberapa) amanah….








Tentang curahan hati yang meradang,
Pinrang, Januari 2013