Tampilkan postingan dengan label tentangnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentangnya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

Yakini

Betapa , bahwa melungsai ikatan adalah sebuah cara menguatkan ikatan pada sisi-sisi yang lain.

Ingatlah ini, perempuan.

Seorang yang pernah membersamaimu, yang rela menampung sedihmu, yang menyiapkan sepasang telinganya untuk mendengar kekatamu, yakini, bahwa suatu waktu dia akan tertarik pada potongan-potongan dimensi yang lain.

Yakini, bahwa ia tak akan  selalu menggenggam tanganmu sebagai persaudaraan.

Suatu saat akan ada tangan lain yang lebih kokoh untuk menguatkannya. Akan ada jemari lain yang membasuh linangan-linangan matanya. Dan akan ada sepasang tangan  lebih luas yang bisa lapangkan rentangan pelukannya lebih dalam.
Bukan kedua tanganmu lagi, perempuan.

Yakini itu, perempuan.

Lihatlah, bahkan mungkin akan ada sepasang tangan persaudaraan lain, yang sejak dulu hadir diam-diam.
Yang sejak dulu pernah dengan senang hati membiarkan celoteh-celotehmu, keluh-keluhmu, bercampur bersama diam dan kepingan matanya yang peduli.
Mungkin, sama sekali belum pula sepenuhnya kausadari hadirnya.
Tapi, bersama waktu, dia bukan hanya seseorang yang semula datang diam-diam mendengarmu.

Yakini, ia juga akan seperti yang lain.
Akan pergi.


Makassar, 15 Juni 2014







Senin, 02 Juni 2014

Gamang


Bahwa memilih jodoh: sebuah keniscayaan.

“Aku akan menikah. Mohon doa restumu. Telah kuputuskan mencari yang lain. Sebab kutahu, tiga tahun ke depan kau tak ada rencana untuk menikah. Sedangkan usiaku pasti semakin menua. Maaf atas segala khilaf. Semoga dirimu pun segera menemukan jodoh.  Jangan sampai karir dan impian muda menelantarkan usiamu, sehingga dirimu tak sadar telah menua.”

Kutahu. Iya, kutahu bahwa sebuah keniscayaan sangat patut untuk diusahakan. Kelak agar sesuai dengan keinginan hati.

Lantas, ketika harapan-harapan telah lama menjenjal pada masa-masa penantian, masih betahkah setiap hati masing-masing kita gamang pada keheningan derak-derak waktu?

Sudahlah. Bahkan diam saja masih tetap kurasa bingung menoleh pada keputusan-keputusan.
Mengetahui itu, adalah bukan hal yang mudah.

Bahkan ketika bait-bait doa masih saja saling berebut takdir, kaki-kaki ini juga masih tetap mengiba untuk mengokoh.

Bahwa hal itu bukanlah hal yang mudah.

Merapal mimpi pada prasangka-prasangka, bukan pula semudah yang dibayangkan.

Pada pertalian hidup, pada ijab qabul yang mengikat, pada rencana-rencana hidup, masa depan, anak-pinak, harta, ibadah.

Pada Lauh Mahfuz (?)

Iya, semua adalah kenisyaan (yang) masih patut diusahakan.

Semua tak datang sendiri, berlomba-lomba untuk saling ditentukan waktu.

Rasai juga ini, rasai.

Bahwa memilih bukanlah hal yang mudah.

Tak semudah mengharap-harap pada kecukupan janji-janji. Pada keinginan-keinginan semu.

Ingat, ingatlah ini.

Bahwa pertalian lelaki dan perempuan adalah keniscayaan dalam kasih sayang-Nya yang tidak akan bisa mengelupas.

 Bahwa hidup pada hal yang berbeda butuh masa yang saling bergerak bersama.

Mengertilah, bahwa ini bukan pengingkaran.

Ini bukan pula hal yang perlu dipaksa.

Tapi ini adalah memahami.


Tentang sebuah pesan pagi tadi, 

VAA Makassar, 2 Juni 2014


Untukmu:
Kutahu, bahwa menanti sejak tiga tahun yang lalu, bukan hal yang mudah bagimu.
Semoga kelak yang ditunjukkan-Nya adalah yang terbaik dipilihkan sebagai pendamping dan ibu bagi anak-anakmu.
Semoga Allah selalu menghimpunmu pada kebaikan-kebaikan-Nya, pada kasih-kasih lembut-Nya, dan kemurahan-Nya.
Aamiin.


Sabtu, 24 Mei 2014

Telikung

“Karena Allah memilih dia untukmu, dan memilihmu untuknya.”
(Rahma Afnan)

Percayalah, ketika masa telah ditentukan waktu putusannya untuk menggugurkan kering-kering layu bebatangan kuncup, maka Sang Penentu hanya andil pada kepastian-kepastian. Percayalah, ketika semai-semai berbagai kisah dipautkan dalam jalinan potongan-potongan kekata, maka diri bukanlah lagi seserahan pada yang menginginkan.

Ketika ikatan-ikatan dengan sengaja menghimpun rasa-rasa yang memanusia, kepercayaan akan perlahan tumbuh membangun jiwa-jiwa. Itulah, bahwa menelikungkan hati-hati pada anjuran-Nya, adalah sebuah kemuliaan pada penghambaan insan-insan.

Mendewasa bukan suatu hal yang mudah. Kejutan-kejutan kecil terkadang muncul menampakkan malu-malu. Ya, itu karena kita telah sama-sama belajar. Belajar memahami dari masing-masing diri kita.

Baiklah. Mungkin waktu agak tertinggal ketika menuliskan ini.

Kusebut kamu perempuan yang lain, Kak.

Beberapa kisah menjadikan aura hidup kita sangat basah. Mengingat jelas, bahwa perbedaan fiqrah tak pernah menjadi masalah bagi kita untuk memahami titah-Nya.

Dulu, Kak, ada siang menjelang senja yang seksama mencoba memahami keluh-keluhmu. Siang itu menjadikan kalimat-kalimat kita menguap tak tentu arah. Iya Kak, mungkin kau sadari pula betapa kesalnya dirimu, saat itu.

Bukan hanya pada waktu itu saja. Masih pada siang yang berbeda, ada cerita-cerita yang kau coba embunkan dari gerahnya hatimu. Dari tuturmu, nampak jelas hentakan-hentakan itu di telingaku. Kau sampaikan itu, mungkin pula untuk kaucoba menyirami hatimu.

“Ini bisa kau jadikan sebuah cerpen.”

Begitu saranmu, ketika kedua mataku hanya bisa tersenyum sambil sedikit menanggapi.
Baiklah, Kak. Itu kisah tentang kerisauanmu, dulu sekali. Terkadang sama sekali tidak menyangka, bahwa memahami dan memaknai sebuah kisah, tak mesti pada tiap-tiap manusia yang kita anggap seideologi.

Ataukah mungkin hanya butuh kuping yang mau rela mendengar dengan perhatian? Mungkinkah pula kau sudah terlanjur menganggapku sebagai penyimak yang baik, Kak? Padahal kukira ada banyak adik-adikmu yang seperti perkiraanku. Entahlah.

Kemarin, kabar bahagiamu telah dimuarakan pada Lauhul Mahfudz.

Haru-haru itu masih melekat diingatanku sampai hari ini, Kak. Masih teringat pula, ketika selalu berusaha menemanimu dalam prosesi-prosesi sakral yang telah lama kaunanti. Ya, masih teringat pula ketika goresan-goresan wajah kecemasanmu sempat tergaris bersama kebahagiaan.

Bahkan, ketika juang dakwahmu masih tetap kaupertahankan, saat waktu-waktu menjadikannya tak sesuai dengan risalah-risalah-Nya yang telah lama kaupahami. Dan haru itu kembali hadir untuk istiqomahmu, Kak.

Bahagia selalu tercurah untukmu, yang telah mendapati teman hidup di sisa usiamu.

Benar, bahwa dia adalah seorang terbaik yang telah dipilihkan untukmu, untuk anak-anakmu yang soleh dan solehah, kelak.

Benar, bahwa dia seorang adalah lelaki terbaik yang bersamamu akan selalu menjaga dan membimbing dalam tapak-tapak kehidupanmu, Kak.

Mungkin pula akan ada banyak cerita yang lahir ketika telikung itu telah melewatkan waktu pada kalian.

Semoga berkah selalu dan senantiasa tercurah pada kalian untuk sama-sama mendewasa, menua, dan menyetia di dunia maupun di akhirat kelak.

“Barakallahu lakuma wa Baraka ‘alaikuma wal jama’ah bainakuma fii khair.”












Sebuah kado pernikahan untuk:
Kak Ayu Nirmawati Muhammad (Maros, 21 Mei 2014)
“Maaf, belum bisa memberimu kado pernikahan di dunia nyata, karena terlupakan waktu itu.” :D


Makassar, 22-24 Mei 2014

Senin, 13 Januari 2014

Buatmu yang (me)rindu

Yang membaca. Simak ini:

Hei, jika hatimu beberapa waktu menginginkan sendiri, apa yang kamu lakukan?
Ketika kedua tangan yang berbeda dalam beberapa waktu tak bersentuh, adakah sedikit tanya kabar pada pemilik tangan itu?
Jika wajah-wajah dan berpasang-pasang bibir tak saling bersapa, saling berceloteh dalam beberapa waktu, akan kau lakukan apa ketika menemukannya kembali dalam ruang yang berbeda?
Pikirmu dia menghilang?
ah, tidak. Dia tak menghilang. Ia masih tetap ada.
Bahkan ketika kau merindukannya, ia masih tetap ada.
Dia tahu bahwa kau merindukannya.
Dia  juga tahu bahwa sebenarnya ia tak sendiri, meski saat ini dia memilih untuk sendiri.
Dia peka. Dia tahu kapan sebenarnya waktu bisa diwujudkan pada pertemuan-pertemuan.
Tetapi, ini kali ia tak menginginkan pertemuan.
Ia bahkan tak menginginkan ada sejuta pertanyaan yang mungkin menyerangnya, tatkala pertemuan terjadi tanpa menyengaja.

Tiga tahun, tiga bulan, lebih beberapa hari.
Tahukah kalian, bahwa masing-masing diri tiap kita memiliki kisah sendiri?
Kisah ketika kaki-kaki lugu kita menginjakkan jejak di almamater berkampus ungu.
Bertemu dengan berbagai macam manusia yang baru (oh, mungkin itu kali pertama kita bertemu).
Sambil enggan dan malu-malu berusaha mengenal satu sama lain.
Rela menyerahkan diri pada setitik ilmu yang ada di kampus.
Karib. Sahabat. Juga konflik.
Kita. Ah, kita. Masih saja meragukan jika “kita” masih menyandang dalam kebersamaan yang tak utuh.
Itu bukan kita. Tapi kalian.
Dan diri ini sadar sepenuhnya, bahwa saat ini bukanlah bagian dari “kita”.
Mengapa?
Sederhana. Karena saat ini, diri ini, memilih tenggelam pada sandang “kita” yang lain.
Yang begitu mengubah dunianya sangat kontras.
Yang berbeda. Tanpa kejaran-kejaran akhir studi.
Belajar. Diri ini masih tetap belajar.
Tapi dengan bentuk yang berbeda.
Ya. Belajar pada makna di setiap sisi-sisi kehidupan.
Sungguh memilih itu, dalam beberapa waktu.
Mengapa?
Karena saat ini merasa jenuh.
Jenuh?
Ya. Jenuh pada gerak-gerak yang berulang. Pada sesuatu yang biasa, lebih menjemukan.
Diri ini ingin menatap dunia luar. Memandang beberapa yang luput dari pikiran kalian.
Seperti impian tiap-tiap kalian. Meraih toga tahun ini.
Akan kuberi selamat, pelukan, dan senyuman terbaik, jika kalian telah sukses meraihnya.
Akan kudatangi kalian, tanpa perlu diminta.

Hei. Ingat, ya. Perempuan yang dicari itu,bBaik-baik saja saat ini.
Meski dia sedikit rapuh pada tubuh ringkihnya.
 Dia tidak menghilang. Dia masih ada.
Masih tak bosan menapakkan kaki-kakinya di cerita lain.
Masih mencari dan menciptakan dunianya sendiri. Juga kisahnya.
Tahukah engkau, saat ini benar-benar dia memilih diam.
Diam untuk menyampaikan apa yang saat ini dia lakukan.
Dia hanya tidak ingin terganggu untuk sapa kabar yang menanyakannnya.
Tenang. Dia masih baik-baik saja. Dia tidak menghilang.
Dia hanya memilih untuk mengurung dirinya sendiri pada kisah lain, pada waktu ini.
Dia lebih memilih berkutat pada kepentingan orang banyak. Untuk jiwa-jiwa tunas yang sama-sama belajar.
Dia sesungguhnya tak suka pada khawatir yang berlebihan. Bahkan pun ketika pada suatu saat kau menemukannya.
Itulah, dia yang introvert.
Dia memilih menjadi bagian di kisah yang lain. Bukan di kisah kalian saat ini.
Ya. Itulah dia. Yang selalu diam ketika masing-masing kalian dikumpulkan dalam ruang-ruang kuliah yang sama.
Tapi sesungguhnya memang dia tidak diam dalam gambaran wajahnya.  
Bahwa sesungguhnya dia berontak. Pada pemikiran-pemikirannya hingga kini. Pada gerak-gerak jarinya dikumpulan kata.
Ingat. Dia tidak menghilang. Hanya lebih memilih menempatkan dirinya di kisah yang lain, saat ini.

Terima kasih untuk kalian yang masih mencari jejak diri ini. Terima kasih telah mengingat (meski saat ini masih merasa terlupakan).
Selamat berjuang untuk kalian, yang sedang menggempur kisah bersama.
Terima kasih telah berkenan membaca kabar ini. 

Benar. Bahwa tiap-tiap manusia dalam dimensi, memiliki kisahnya masing-masing.

Tak perlu terlalu mengkhawatirkan. Dia akan baik-baik saja. Yakinlah. ^_^




Dalam sisa gerimis malam,
VAA Makassar, 13 Januari 2014

Rabu, 01 Januari 2014

TOWR FLP Sulsel 2013: Kontemplasi dan Cerita-Cerita

Baiklah. Mungkin waktu telah sangat jauh tertinggal ketika kutuliskan ini. Ada banyak yang terlewatkan. Tentang cerita-cerita. Kisah-kisah. Karena hanya masalah waktu dan kesalahpahaman keinginan. Apa yang salah ketika urusan-urusan saling menindih, saling berdesakan, tanpa memikirkan betapa ringkihnya tubuh ini?

Ah. Tak lain ini adalah kesia-siaan yang  kembali terulang.

Penyesalan!

Penyesalan datang lagi, ya?
Sudah berapa lama kau membuang-buang lagi waktumu?
sudah berapa banyak kekata yang tidak kau acuhkan untuk rumah keduamu ini?
Seberapa pentingnya urusan-urusan itu, sehingga belakangan kamu memilih untuk diam tak berkata dalam beberapa waktu?

Bukankah diluar sana telah banyak ide yang menawarkan dirinya untuk kau nyatakan dalam himpunan kata?
Bukankah keberpihakanmu pada banyak orang, pada tangan-tangan remaja mereka, pada kajian-kajian kalam-Nya, (pada sosialismu, lebih tepatnya) membuatmu anyir pada kekatamu yang dulu?

Sudahlah, hati. Kutahu, bahwa aku telah sangat banyak melewatkan waktu. Melewatkan banyak lipatan-lipatan peristiwa yang seharusnya –dulu- bisa kurekam dalam ikatan-ikatan kata. Maka, berusaha kuhadirkan diriku pada suatu waktu yang menyeretku untuk memaksa memeluk kembali kekata.

Ya! Kembali memeluknya dari dekapan yang melonggar. Dekapan yang –dulu- kuibaratkan sebagai salah satu jalan hidupku. Menjadi seorang penulis.

Ia Yang Maha Menyayangi. Yang akhirnya mengiznkan raga ini bisa berkumpul (kembali) bersama pejuang pena. Meski amanah dan tuntutan lain juga merengek untuk diperhatikan. Tapi bermula lagi kepada niat ini, yang ingin mengembalikan gairah menulis yang telah lama terkikis oleh kepadatan retorika dalam gerak-gerak lainnya.

Baiklah. Akan kuceritakan -lebih tepatnya mencoba merekam jejak-jejak melalui kata- kisah akhir di penghujung desember akhir tahun ini. Sebagai penebus kesalahanku.

Bermula, ketika akhir tahun di dua tahun yang lalu (desember 2011), Allah menakdirkanku dan beberapa calon penulis lainnya duduk bersama dalam suatu kegiatan “TOWR FLP Sulsel 2011 Pucak, Maros” dan juga bergabung di keluarga besar Forum Lingkar Pena (FLP).

Tiga hari kami diberikan ilmu, saling berbagi kisah dan juga cerita. Masih teringat jelas juga dari candaan kami yang mengalir saat malam sebelum meninggalkan Pucak, bersama “Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi”. Heboh juga kami saat itu, mendeklarasikan terbentuknya “keluarga” itu.
Sangat teringat jelas keakraban kami, Fiqah, Wina, Arini, Neya, Icha, Cita, Army, Suthe’, Ima, dan juga diriku.

Namun, setelah lebih kurang dua tahun kemudian, saat TOWR di Bantimurung kemarin, hanya aku dan Fiqah yang bisa ikut kembali berkontribusi di kegiatan TOWR Sulsel di Bantimurung, meskipun bukan lagi sebagai peserta, tetapi sebagai panitia di kegiatan ini.

Tapi mungkin seperti itulah jalannya. Kami tak bisa berkumpul bersama lagi, mengingat tuntutan akademik yang masih mereka prioritaskan belakangan ini, dan juga tuntutan-tuntutan lainnya.

Namun Fiqah, ya, Fiqah. Si perempuan Azure Azalea yang juga saat itu ,ternyata, merindukan kehadiran Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Tapi entah diriku yang terkadang malu-malu jika harus mengekspos Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Entah kenapa.

Dua puluh tujuh hingga dua puluh sembilan desember 2013 -kurang lebih dua tahun sejak kebersamaan di Pucak ada di hidupku(kami)- masih mutlak bahwa setiap tempat memiliki cerita. Setiap peristiwa memiliki kenangannya sendiri.

Bantimurung. Sebuah tempat wisata di kabupaten Maros, yang terkenal dengan kupu-kupu dan air terjunnya. Lokasi ini sungguh sangat tidak asing bagiku, baik nama maupun tempatnya. Ini sungguh sangat berbeda dengan Pucak, yang dulunya sangat asing nama dan tempatnya bagiku, meski berada di kabupaten yang sama.

Dua puluh tujuh desember, siang itu, tepatnya hari Jumat. Sungguh jumat barokah. Kami dipertemukan dalam satu kepentingan. Sama-sama berkepentingan menuntut ilmu, apapun peran kami dalam kegiatan itu. Kami sama-sama datang untuk belajar.

Setelah berkumpul di sebuah lokasi sebelum berangkat, akhirnya kami berada di lokasi kegiatan. Subhanallah, seketika terkagum-kagum dengan lokasi TOWR kali ini. Sebuah penginapan yang memiliki kolam renang dengan air berwarna hijau, (cukup bertanya-tanya juga, kenapa air kolamnya berwarna hijau, berbeda dengan kolam renang anak-anak yang tampak jauh memamng airnya sangat jernih) pohon kelapa dan karts yang menjadi latarnya. Tak lupa pula awan yang sesekali melepaskan gerimis. Semuanya terlihat tersusun secara apik.
      
 Malam akhirnya bertemu kami, setidaknya mempertemukan kami dalam forum. Kami memulai malam itu dengan materi “Dakwah dan Kepenulisan”. Ibunda Rahmawati Latief, nama yang tidak asing bagiku namun kali pertama bertemu dalam kehangatan beliau malam itu, bergabung dan menyuguhkan kami ilmu. Kembali menyadarkan kami, bahwa menulis haruslah memiliki tujuan yang baik, bahwa menulis hanya untuk kebaikan, untuk kemaslahatan ummat. Sangat tersadar dengan garis besar yang disampaikan beliau. Sadar akan beban seorang penulis terhadap tulisan-tulisan yang dibuat. Bahwa segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan, kelak.

Keesokan pagi, mengantarkan kami pada suguhan materi Mbak Afifah Afra. Salah satu penulis yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Ah, juga karyanya. Bukunya yang tidak sempat kumiliki karena kehabisan. Kekagumanku pada karya-karya beliau, semakin membuat penasaran untuk memiliki buku-bukunya.

Siang menjelang sore datang, Mbak Dalasari Pera menyapa kami dengan ilmu-ilmu puisinya. Keberuntunganku menemani beliau selama menyampaikan materi, kembali menambah ilmuku dalam perpuisian. Rasanya rindu, rindu sekali ingin kembali menyelami dunia puisi yang telah lama jauh.

Singkatnya, Kak S. Gegge Mappangewa juga setia hadir menemani kami. Membimbing dan mengarahkan kami dalam kepenulisan, juga motivasi menulisnya yang sangat bermanfaat.

Hingga, pagi hari terakhir pada sesi travel writing, tak kalah menariknya ketika kami berhasil menaklukkan ratusan anak tangga yang mendaki, curam, becek, dan licin untuk mencapai gua mimpi. Di gua mimpi, kami sempat mengamati stalaktit dan stalagmit, meski tidak secara menyeluruh ke dalam gua. Tapi kami beruntung sudah menaklukkan perjalanan menuju gua. Juga air terjun yang saling memburu deras, setelah ditemani hujan dan gerimis.
                                                bersama Kak Irna, Kak Dian, Ika, dan Kak Mita

Terakhir. Setelah semua sesi selesai, setelah rangkaian penutupan juga telah dirampungkan, kami bersiap untuk berpisah. Tak lupa juga menggendong Asiyah Salsabila, putri dari salah satu peserta TOWR, ibu muda yang berusia 18 tahun, Shafiyah Zakiah. Bahagia juga bisa bertemu keduanya. Dua perempuan yang menyatu dalam keluarga besar FLP. Beruntung bisa mengenalmu, Zakiah. Banyak belajar darimu (meski cuma banyak memerhatikan gerak-gerikmu mengurus Asiyah disela-sela menerima materi, juga semangatmu mengikuti kegiatan hingga selesai tanpa terbebani tanggung jawab sebagai seorang ibu), setidaknya ini juga sebagai bekal bagiku sebelum menjadi seorang ibu. 

Senang bisa menggendongmu, Asiyah. Semoga tetap seperti itu, menjadi anak sholeha dan tidak rewel. Akan selalu merindukanmu, adik cantik. Semoga kita bisa dipertemukan dan menggendongmu kembali di lain waktu.

Satu lagi yang tidak akan terlupakan dari kisah ini. Ketika kami berpisah, saling berjabat tangan dan berpelukan. Erat, erat sekali. Berharap itu bukanlah yang terakhir. Sebagai salah satu bahasa tubuh dari indahnya ukhuwah kita dan indahnya pertemuan kita.

Semakin berharap. Semoga ini bukanlah yang terakhir. Tetapi ini sebagai permulaan yang manis untuk kita, sama-sama memperjuangkan Dakwah bil Qalam.  

Semoga.  ^_^

Momen sebelum berpisah: para akhwat panitia dan SC


Bersama hujan dalam Ashar,

VAA Makassar, 1 Januari 2014



Rabu, 30 Januari 2013

Buku Catatan Harian


Mungkin saat ini, malam telah merengkuh tanyaku. Tentang kisah yang pernah kucari. Tentang cerita-cerita yang menciptakanku, juga mereka saat ini.
Dan akhirnya telah kutemukan. Sebuah buku berwarna hitam. Hitam pada kekusaman demu yang menempel. Pada bentuk klasik yang kusukai.
Ya,  mungkin ini yang mampu menjelaskan sebagian kisah hidup lelakiku.


Buku catatan harian. Sebuah buku sederhana, namun bermakna menggambarkan waktu yang menyediakan kisah tentangmu dan kisah dengannya. Ah, seketika ketidakwajaran cemburu itu hadir.


Tak ada yang terlalu istimewa, ketika membuka setiap halaman demi halaman kertas berbintik cokelat. Sebuah berita dari surat kabar, kumpulan kosa kata Bugis dan Makassar (yang mungkin dengan sengaja kau kumpulkan untuk tetap kau ingat), juga kudapati barisan-barisan ayat suci-Nya, serta harapan dan doa-doa (untuk kedua orang tuamu). Terenyuh. 


Beberapa lembar terlewati, catatan-catatan kerja, juga beberapa halaman kosong.
Ada banyak tanya yang serta-merta membuatku semakin penasaran. Masihkah ada sebuah tulisan tantang cerita? Membuka lagi, lagi, lagi. Dapat. 


Sebuah tulisan curahan hatimu tentang sebuah kisah cintamu (ah, saya masih saja merasa sungkan jika menyebut satu kata itu). Pada seorang perempuan yang engkau temui beberapa tahun silam. Ada beberapa kesan yang mendalam. Dan lagi-lagi membuatku cemburu ketika mengeja tulisanmu.


Mungkin saja engkau bahagia dan tersenyum malu, ketika mendapatiku membaca buku catatan harianmu yang kudapatkan malam ini, tanpa kau kira sebelumnya. 


 Tenanglah. Bukumu hanya kupinjam sebentar (tapi jangan cari buku ini, jika suatu saat engkau tidak pernah melihatnya lagi di meja kerjamu). Karena ingin kutulis beberapa kisah hidupmu, juga kisah pertemuanmu dengan seorang yang juga sangat kukasihi seperti dirimu.


Wanita yang telah dipilihkan-Nya menjadi tulang rusukmu. Menjadikannya pendamping hidupmu. Dan sahabat disisa usiamu. Ibuku.


Ya, engkau wahai lelakiku yang kisahmu akan kutorehkan pada berlembar-lembar kertas yang tertuliskan kisahmu dari buku catatan harianmu. Yang mungkin suatu saat nanti akan engkau baca sembari tersenyum seperti diriku malam ini, yang telah membaca buku catatan harianmu.


Lelakiku, engkau hanya perlu menanti waktu karena kesungguhanku. Tetaplah bersabar. Karena aku juga mencintaimu karena-Nya dengan kesabaran yang kau miliki hingga kini. 

Semakin kucintai engkau karena Allah….

Pinrang, 30 Januari 2013

Minggu, 27 Januari 2013

Untukmu, Wahai Sang “Penagih” Amanah


Ini masih tentangmu, wahai sang “penagih “ amanah.


Ini masih tentangku, yang mencoba mengerti akan makna “amanah”.


Ah, mungkin engkau tidak akan pernah tahu isi hati orang-orang penanggung amanah. Kurasa seperti itu pula yang engkau rasakan sebagai pemberi amanah, yang juga menanggung amanah.


Semua tak mudah. 


Bahkan tak sebanding, jika beberapa tuntutan-tuntutan atau bahkan amanah lain menggantung pada pundak yang lemah (ini).


Bahkan tak seperti itu, jika ingin juga membandingkan tuntutan-tuntutan yang bisa saja datang dan pergi. Hadir dan kembali. Ataupun tak teracuhkan.


“Ah, penghianat amanah!”


Tak! Aku tak ingin jika suatu saat engkau menyebutku seperti itu. 


Karena aku juga tak ingin engkau menuntutku terlalu keras, wahai engkau yang mendewakan amanah.


Sebab ada sejuta alasan menjadikan amanah itu tertangguhkan, bukan dilepaskan ataupun diingkari.


Itu juga karena (beberapa) amanah….








Tentang curahan hati yang meradang,
Pinrang, Januari 2013