Tampilkan postingan dengan label Yang Menginspirasiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yang Menginspirasiku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2014

TOWR FLP Sulsel 2013: Kontemplasi dan Cerita-Cerita

Baiklah. Mungkin waktu telah sangat jauh tertinggal ketika kutuliskan ini. Ada banyak yang terlewatkan. Tentang cerita-cerita. Kisah-kisah. Karena hanya masalah waktu dan kesalahpahaman keinginan. Apa yang salah ketika urusan-urusan saling menindih, saling berdesakan, tanpa memikirkan betapa ringkihnya tubuh ini?

Ah. Tak lain ini adalah kesia-siaan yang  kembali terulang.

Penyesalan!

Penyesalan datang lagi, ya?
Sudah berapa lama kau membuang-buang lagi waktumu?
sudah berapa banyak kekata yang tidak kau acuhkan untuk rumah keduamu ini?
Seberapa pentingnya urusan-urusan itu, sehingga belakangan kamu memilih untuk diam tak berkata dalam beberapa waktu?

Bukankah diluar sana telah banyak ide yang menawarkan dirinya untuk kau nyatakan dalam himpunan kata?
Bukankah keberpihakanmu pada banyak orang, pada tangan-tangan remaja mereka, pada kajian-kajian kalam-Nya, (pada sosialismu, lebih tepatnya) membuatmu anyir pada kekatamu yang dulu?

Sudahlah, hati. Kutahu, bahwa aku telah sangat banyak melewatkan waktu. Melewatkan banyak lipatan-lipatan peristiwa yang seharusnya –dulu- bisa kurekam dalam ikatan-ikatan kata. Maka, berusaha kuhadirkan diriku pada suatu waktu yang menyeretku untuk memaksa memeluk kembali kekata.

Ya! Kembali memeluknya dari dekapan yang melonggar. Dekapan yang –dulu- kuibaratkan sebagai salah satu jalan hidupku. Menjadi seorang penulis.

Ia Yang Maha Menyayangi. Yang akhirnya mengiznkan raga ini bisa berkumpul (kembali) bersama pejuang pena. Meski amanah dan tuntutan lain juga merengek untuk diperhatikan. Tapi bermula lagi kepada niat ini, yang ingin mengembalikan gairah menulis yang telah lama terkikis oleh kepadatan retorika dalam gerak-gerak lainnya.

Baiklah. Akan kuceritakan -lebih tepatnya mencoba merekam jejak-jejak melalui kata- kisah akhir di penghujung desember akhir tahun ini. Sebagai penebus kesalahanku.

Bermula, ketika akhir tahun di dua tahun yang lalu (desember 2011), Allah menakdirkanku dan beberapa calon penulis lainnya duduk bersama dalam suatu kegiatan “TOWR FLP Sulsel 2011 Pucak, Maros” dan juga bergabung di keluarga besar Forum Lingkar Pena (FLP).

Tiga hari kami diberikan ilmu, saling berbagi kisah dan juga cerita. Masih teringat jelas juga dari candaan kami yang mengalir saat malam sebelum meninggalkan Pucak, bersama “Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi”. Heboh juga kami saat itu, mendeklarasikan terbentuknya “keluarga” itu.
Sangat teringat jelas keakraban kami, Fiqah, Wina, Arini, Neya, Icha, Cita, Army, Suthe’, Ima, dan juga diriku.

Namun, setelah lebih kurang dua tahun kemudian, saat TOWR di Bantimurung kemarin, hanya aku dan Fiqah yang bisa ikut kembali berkontribusi di kegiatan TOWR Sulsel di Bantimurung, meskipun bukan lagi sebagai peserta, tetapi sebagai panitia di kegiatan ini.

Tapi mungkin seperti itulah jalannya. Kami tak bisa berkumpul bersama lagi, mengingat tuntutan akademik yang masih mereka prioritaskan belakangan ini, dan juga tuntutan-tuntutan lainnya.

Namun Fiqah, ya, Fiqah. Si perempuan Azure Azalea yang juga saat itu ,ternyata, merindukan kehadiran Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Tapi entah diriku yang terkadang malu-malu jika harus mengekspos Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Entah kenapa.

Dua puluh tujuh hingga dua puluh sembilan desember 2013 -kurang lebih dua tahun sejak kebersamaan di Pucak ada di hidupku(kami)- masih mutlak bahwa setiap tempat memiliki cerita. Setiap peristiwa memiliki kenangannya sendiri.

Bantimurung. Sebuah tempat wisata di kabupaten Maros, yang terkenal dengan kupu-kupu dan air terjunnya. Lokasi ini sungguh sangat tidak asing bagiku, baik nama maupun tempatnya. Ini sungguh sangat berbeda dengan Pucak, yang dulunya sangat asing nama dan tempatnya bagiku, meski berada di kabupaten yang sama.

Dua puluh tujuh desember, siang itu, tepatnya hari Jumat. Sungguh jumat barokah. Kami dipertemukan dalam satu kepentingan. Sama-sama berkepentingan menuntut ilmu, apapun peran kami dalam kegiatan itu. Kami sama-sama datang untuk belajar.

Setelah berkumpul di sebuah lokasi sebelum berangkat, akhirnya kami berada di lokasi kegiatan. Subhanallah, seketika terkagum-kagum dengan lokasi TOWR kali ini. Sebuah penginapan yang memiliki kolam renang dengan air berwarna hijau, (cukup bertanya-tanya juga, kenapa air kolamnya berwarna hijau, berbeda dengan kolam renang anak-anak yang tampak jauh memamng airnya sangat jernih) pohon kelapa dan karts yang menjadi latarnya. Tak lupa pula awan yang sesekali melepaskan gerimis. Semuanya terlihat tersusun secara apik.
      
 Malam akhirnya bertemu kami, setidaknya mempertemukan kami dalam forum. Kami memulai malam itu dengan materi “Dakwah dan Kepenulisan”. Ibunda Rahmawati Latief, nama yang tidak asing bagiku namun kali pertama bertemu dalam kehangatan beliau malam itu, bergabung dan menyuguhkan kami ilmu. Kembali menyadarkan kami, bahwa menulis haruslah memiliki tujuan yang baik, bahwa menulis hanya untuk kebaikan, untuk kemaslahatan ummat. Sangat tersadar dengan garis besar yang disampaikan beliau. Sadar akan beban seorang penulis terhadap tulisan-tulisan yang dibuat. Bahwa segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan, kelak.

Keesokan pagi, mengantarkan kami pada suguhan materi Mbak Afifah Afra. Salah satu penulis yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Ah, juga karyanya. Bukunya yang tidak sempat kumiliki karena kehabisan. Kekagumanku pada karya-karya beliau, semakin membuat penasaran untuk memiliki buku-bukunya.

Siang menjelang sore datang, Mbak Dalasari Pera menyapa kami dengan ilmu-ilmu puisinya. Keberuntunganku menemani beliau selama menyampaikan materi, kembali menambah ilmuku dalam perpuisian. Rasanya rindu, rindu sekali ingin kembali menyelami dunia puisi yang telah lama jauh.

Singkatnya, Kak S. Gegge Mappangewa juga setia hadir menemani kami. Membimbing dan mengarahkan kami dalam kepenulisan, juga motivasi menulisnya yang sangat bermanfaat.

Hingga, pagi hari terakhir pada sesi travel writing, tak kalah menariknya ketika kami berhasil menaklukkan ratusan anak tangga yang mendaki, curam, becek, dan licin untuk mencapai gua mimpi. Di gua mimpi, kami sempat mengamati stalaktit dan stalagmit, meski tidak secara menyeluruh ke dalam gua. Tapi kami beruntung sudah menaklukkan perjalanan menuju gua. Juga air terjun yang saling memburu deras, setelah ditemani hujan dan gerimis.
                                                bersama Kak Irna, Kak Dian, Ika, dan Kak Mita

Terakhir. Setelah semua sesi selesai, setelah rangkaian penutupan juga telah dirampungkan, kami bersiap untuk berpisah. Tak lupa juga menggendong Asiyah Salsabila, putri dari salah satu peserta TOWR, ibu muda yang berusia 18 tahun, Shafiyah Zakiah. Bahagia juga bisa bertemu keduanya. Dua perempuan yang menyatu dalam keluarga besar FLP. Beruntung bisa mengenalmu, Zakiah. Banyak belajar darimu (meski cuma banyak memerhatikan gerak-gerikmu mengurus Asiyah disela-sela menerima materi, juga semangatmu mengikuti kegiatan hingga selesai tanpa terbebani tanggung jawab sebagai seorang ibu), setidaknya ini juga sebagai bekal bagiku sebelum menjadi seorang ibu. 

Senang bisa menggendongmu, Asiyah. Semoga tetap seperti itu, menjadi anak sholeha dan tidak rewel. Akan selalu merindukanmu, adik cantik. Semoga kita bisa dipertemukan dan menggendongmu kembali di lain waktu.

Satu lagi yang tidak akan terlupakan dari kisah ini. Ketika kami berpisah, saling berjabat tangan dan berpelukan. Erat, erat sekali. Berharap itu bukanlah yang terakhir. Sebagai salah satu bahasa tubuh dari indahnya ukhuwah kita dan indahnya pertemuan kita.

Semakin berharap. Semoga ini bukanlah yang terakhir. Tetapi ini sebagai permulaan yang manis untuk kita, sama-sama memperjuangkan Dakwah bil Qalam.  

Semoga.  ^_^

Momen sebelum berpisah: para akhwat panitia dan SC


Bersama hujan dalam Ashar,

VAA Makassar, 1 Januari 2014



Jumat, 01 November 2013

Siluet Oktober

Yang memenjarakan kerinduan. Dalam hempasan-hempasan sesal. Ada pula yang menafikan rindu. Dalam susunan-susunan bahagia.

Oktober. Ini waktu yang perlahan meluruh-luruhkan sesangkaan. Menghimpit-himpit prasangka. Mematahkan rindangan-rindangan harap.

Ini waktu yang menunjukkan kasih yang tak berharap. Pada pemberian-pemberian dari titah Tuhan. Tentang pengorbanan bapak terhadap anak lelakinya.

Ini waktu yang masih menghimpun rindu. Pada jarak-jarak yang menjauhkan. Pada tuntutan tanggung jawab.

Oktober. Yang mendatangkan kisah yang lalu. Pada telisik yang tak ingin terjangkau. Tak ingin sapaan kembali. Hanya menginginkannya raup dalam bisikan tetes hujan yang meluruh satu-satu.

Rinai! Menampakkan riuh anggunnya yang berteratap. Memaksa aroma tanah menyatu pada udara. Bahkan pada kelakar langit yang mengabu. Melesapkan hening-hening duka.

Mengenai duka. Adakah yang menyulutnya selain kematian? Pada yang merasakan irisan-irisan luka di tubuh kecil. Juga erangan perih.

Ini waktu, yang juga menunjukkan selesap prasangka dalam dugaan-dugaan. Meraba tanggung jawab. Mengusap keyakinan-keyakinan harap dalam amanah. 

Oktober. Ini waktu yang selalu menjadikan rindu beriringan dalam desahan-desahan hujan. Tetapi menjadikan senja memilih menyelimutkan jingganya di keabuan awan.



Di balik orange akhir Oktober yang mulai menghilang
Bersama kepakan para burung di langit menuju pulang
Atau di bawah atmosfer yang kembali tenang
Aku melihat bebayang namun serupa.
Mereka dalam beragam raga.
Tapi mau kunamakan apa?  *





*nukilan dari (https://www.facebook.com/ayu.p.ahmad.1?hc_location=timeline)



Dipenghujung bulan ke sepuluh, dalam sisa tetes air langit,

VAA Makassar, 31 Oktober 2013

Sabtu, 28 September 2013

Kepada Perempuan Merah Muda

Ada hal yang sangat sederhana ketika dua makhluk Tuhan dipertemukan –entah pernah kenal sebelumnya ataupun tidak—dalam tatanan waktu. Selalu saja ada alasan untuk hanya sekedar menyapa, bercerita, menanyakan kabar, juga hal-hal yang remeh temeh dalam dunianya masing-masing. 
Makhluk Tuhan yang kiranya selalu menyimpan baik-baik putaran-putaran peristiwa dalam memorinya, yang terkadang dijuluki sebagai “ahli sejarah”. 
Perempuan.
Salah satu bentuk makhluk Tuhan yang –entah sengaja ataupun tidak—sesungguhnya tercipta sebagai pendamping, pelengkap, pengokoh, dalam hidup lelaki. Dirasa tak lengkap ketika dalam separuh kehidupan seorang lelaki tak didampingi seorang perempuan. Itu pulalah sebuah alasan yang menjadikan Tuhan menciptakannya hidup berdampingan.

Baiklah.  Perempuan merah muda, tahukah, bahwa ada sesuatu yang seketika mengesiap di pikiranku, saat membaca salah satu tulisanmu?

Tentang lelaki. Lebih tepatnya, tentang perempuan dan lelaki. Otak ini selalu saja merasa terganggu ketika hal-hal yang membicarakan lelaki dan perempuan tergambar sangat jelas.

Bahkan sangat benar adanya, bahwa dalam masa-masa tertentu, perempuan sangatlah enggan jika dunianya disusupi lelaki.

Ada banyak perempuan yang memilih memberikan batas-batas dalam laku kehidupannya.
Apa daya, sebagai makhluk yang rentan fitnah, kehormatan perempuan terkadang merasa dirobek-robek oleh sang lelaki.

 Kepada Adam*

Tahukah kau setiap benih yang kau tabuh sangat membekas di hati kami, para hawa
Tahukah kau apa pun yang kau lontarkan meski itu dusta, membuat kami melayang
Tahukah kau sesuci apa pun hati kami slalu saja ada hal yang bisa membuat kami merah merona
Tahukah kau puisi picisan yang kau cipta sangat mudah membuat kami tak bisa berkata-kata…

Mengapa? 
Karena lelaki (masih) tak mampu menempatkan hal yang seharusnya dan tidak seharusnya.

Masih ketika seorang perempuan sangat ingin terhindar dari selisik lelaki.
Kadang kala kesal menghampirinya. Juga meradang.
Sebab lakonnya sering kali tertangkap kesalahpahaman.
Itu bukanlah apa-apa. 

 …Kepada adam
Sebab kata-kata itu adalah doa… setidaknya ini sebuah peringatan
Bahwa puitismu , gombalmu, janjimu, adalah doa…

Perempuan merah muda. Ini juga bukan  perkara asing dalam kehidupanku, juga kehidupanmu.
Namun hal itu juga yang (sangat) kubenci.
Membencinya karena tak berhak! 


…Umbarlah cintamu di saat kau benar-benar melabuhkan pada seorang saja
Kepada yang telah halal bagimu…

Kukira kita sepaham (semoga saja) tentang hal itu. 
Tergambar dari tampilan fisikmu. Juga beberapa pembicaraan singkat dalam masa pengabdian kita. 
Ketika ditanya, lagi-lagi karena prinsip.


 …Namun, sungguh kesalahan tidak utuh padamu saja…
Akibat tak akan tercipta jikalau sebab tak ada.

 Sesalku,

Kepadamu adam.

Bahwa memilih untuk menanti. Sambil memantaskan diri, adalah pilihan satu-satunya. Yang dirasa sangat wajar dan melindungi. Kuharap kamu juga seperti itu, perempuan merah muda. 

Semoga.





Pinky, sepertinya akan ada hari-hari yang lain untuk kita membagi kisah, kan?
Kuharap pinisi mau menerima kita ^_^

Senin, 02 September 2013

Dandelion

Aku juga lebih mencintaimu seperti Linn yang dulu membersamai.
Aku juga bisa menyimpanmu sebagai kenangan yang sengaja kupaketkan untuk tujuan tak beralamat.
Naifkah?
Jika tanya itu mencuat, biarkan itu masih menjadi susunan logika yang mungkin tidak akan terjawab.
Kamu tahu kan, alasanku menjadikanmu corak dalam hidupku?
Ini masih tentang flosofimu, dear.
Ini tentang ringkihmu yang sungguh sangat rela terbawa udara, ah, lebih tepatnya angin.
Tetapi juga sangat rela bertumbuh di pijakan yang lain.
Aku sungguh--benar-benar-- mencintai lembutmu yang lungsai, putih.
Bahkan aku lebih mencintaimu ketika senja juga menerpaimu.
Oh, senja?
Aku sangatlah yakin engkau mengenalnya.

Aku tahu, biasnya kadang kala memudarkan lembut putihmu.
Kadang kala juga jingganya membelai-belai bebatangmu.
Hm, lagi, saat ini masih mencintaimu seperti senja, juga Linn.

Lebih tepatnya memadukan kalian.

Senja, Linn, juga Dandelion.

Indahkan ? ^_^ 





 Bersama pagi yang riuh.

Bumi Lasinrang, 2 September 2013

Senin, 05 Agustus 2013

Dari yang terlewati: ke-21 tahun

Mungkin bola oranye itu masih seperti dulu
Masih seperti ketika rasa kagum pada awan bertambah-tambah
Masih seperti udara yang menduduki pelupuk mata
Ada yang masih selalu dinanti dalam kekata bibir yang lebih senang membungkam

Ada yang masih selalu diinginkan dalam kepingan-kepingan impian juga harapan-harapan
Desah-desah itu juga masih seperti itu

Selalu ada banyak tanya dan juga perkiraan (?)
Ruh dan jasad
Belum ada masa yang bisa memisahkan kita
Kita masih seperti dulu, yang bersama merasakan gelitik sendu, juga belai bahagia



Kembali menemui waktu disenyapan penghujung senja
 
VAA Makassar, 5 Agustus 2013


Selasa, 23 Juli 2013

Kabut



Pada sesenggukan waktu
Yang melerai asa dan harapan
Ada kisah disini
Yang juga menggabungkan cerita-cerita, kami
Pada sepuluh pemikiran
Sepuluh rasa 
Sepuluh tujuan
Sepuluh langkah
Sepuluh asa
Ada yang membuatnya mengabut
Meremangkan gerak yang berpadu
Ada picik yang menyelubung
Ada tulus yang berjarak, memantik masa
Ada sapa ramah
Ada diam yang tak mengharapkan kekata
Ada keinginan yang terpendam untuk kembali menjangkau masa 
Menjangkau dekat yang mengabur
Pada tuntutan-tuntutan yang menginjak
Kewajiban. Ya, kewajiban yang mengiba pada gelar dan pandangan
Kita
Bahwa sesungguhnya terjebak pada sakral “pengabdian” dibeberapa waktu dan zona asing
Kita 
Menyatukan sulitnya keping pada dinding-dinding kayu
Mengikuti beberapa harapan-harapan pribumi
Bahkan hanya sekedar ucapan terima kasih dan lengkungan bibir sumringah
Juga jamuan-jamuan pengisi perut
Ada sesangkaan yang cukup tak menjangkau 
Pada tepisan-tepisan yang membalik
Dan dari ketulusan yang membagi-bagi logika
Ya. Ada cerita disini
Tentang fajar yang membawa gigil
Tentang malam yang merobek mimpi
Juga tentang senja yang menjadikan waktu meranum jingga
Ya. Cerita masih akan tetap disini
Jika tapak-tapak kaki kita beranjak, kembali meniti asa dalam jejaran metropolitan “kota daeng”, kampus oranye
Jika rasa yang sempat membelai prinsip yang mengukuh
Jika prasangka-prasangka atas tanggung jawab 
Kita 
Sesunguhnya masih saja membuai dalam kehangatan jalinan ukhuwah
Yang masih betah membagi-bagi potongan-potongan topeng wajah.




Yang menginspirasi kabut
 
Labae-Watampone, 22-23 Juli 2013


(KKN UNM  Angk. XXIX 2013, Posko IV, Desa Labae, Kecamatan Citta, Kabupaten Soppeng)  

Rabu, 30 Januari 2013

Buku Catatan Harian


Mungkin saat ini, malam telah merengkuh tanyaku. Tentang kisah yang pernah kucari. Tentang cerita-cerita yang menciptakanku, juga mereka saat ini.
Dan akhirnya telah kutemukan. Sebuah buku berwarna hitam. Hitam pada kekusaman demu yang menempel. Pada bentuk klasik yang kusukai.
Ya,  mungkin ini yang mampu menjelaskan sebagian kisah hidup lelakiku.


Buku catatan harian. Sebuah buku sederhana, namun bermakna menggambarkan waktu yang menyediakan kisah tentangmu dan kisah dengannya. Ah, seketika ketidakwajaran cemburu itu hadir.


Tak ada yang terlalu istimewa, ketika membuka setiap halaman demi halaman kertas berbintik cokelat. Sebuah berita dari surat kabar, kumpulan kosa kata Bugis dan Makassar (yang mungkin dengan sengaja kau kumpulkan untuk tetap kau ingat), juga kudapati barisan-barisan ayat suci-Nya, serta harapan dan doa-doa (untuk kedua orang tuamu). Terenyuh. 


Beberapa lembar terlewati, catatan-catatan kerja, juga beberapa halaman kosong.
Ada banyak tanya yang serta-merta membuatku semakin penasaran. Masihkah ada sebuah tulisan tantang cerita? Membuka lagi, lagi, lagi. Dapat. 


Sebuah tulisan curahan hatimu tentang sebuah kisah cintamu (ah, saya masih saja merasa sungkan jika menyebut satu kata itu). Pada seorang perempuan yang engkau temui beberapa tahun silam. Ada beberapa kesan yang mendalam. Dan lagi-lagi membuatku cemburu ketika mengeja tulisanmu.


Mungkin saja engkau bahagia dan tersenyum malu, ketika mendapatiku membaca buku catatan harianmu yang kudapatkan malam ini, tanpa kau kira sebelumnya. 


 Tenanglah. Bukumu hanya kupinjam sebentar (tapi jangan cari buku ini, jika suatu saat engkau tidak pernah melihatnya lagi di meja kerjamu). Karena ingin kutulis beberapa kisah hidupmu, juga kisah pertemuanmu dengan seorang yang juga sangat kukasihi seperti dirimu.


Wanita yang telah dipilihkan-Nya menjadi tulang rusukmu. Menjadikannya pendamping hidupmu. Dan sahabat disisa usiamu. Ibuku.


Ya, engkau wahai lelakiku yang kisahmu akan kutorehkan pada berlembar-lembar kertas yang tertuliskan kisahmu dari buku catatan harianmu. Yang mungkin suatu saat nanti akan engkau baca sembari tersenyum seperti diriku malam ini, yang telah membaca buku catatan harianmu.


Lelakiku, engkau hanya perlu menanti waktu karena kesungguhanku. Tetaplah bersabar. Karena aku juga mencintaimu karena-Nya dengan kesabaran yang kau miliki hingga kini. 

Semakin kucintai engkau karena Allah….

Pinrang, 30 Januari 2013

Jumat, 24 Agustus 2012

Tergugu oleh Buku: Sisi Lain Tentang Pendidikan


Pagi menjelang siang. Entahlah, hal apa yang mendorong saya untuk menulis ini. Saat-saat menjelang dhuhur yang selesai diguyur hujan (waktu yang sering membuat malas), biasanya saya akan terlelap dan akan bangun ketika waktu menunjukkan waktu sangat siang (sekitar pukul 1-2 siang). 



Baiklah. Mungkin sebagian besar yang melihat gambar di atas akan bertanya. Indonesia Mengajar? Apa itu Indonesia Mengajar? Saya yakin, pertanyaan ini yang lumrah hadir di benak orang yang baru saja atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang Indonesia Mengajar.  
Hmm…. Saya tidak akan menjelaskan secara panjang lebar dan lebih mendetail tentang Indonesia Mengajar (judul buku baru yang saya miliki ini). Tetapi, saya akan berbagi untuk kau, kamu, engkau, dikau, mereka, atau bahkan dia (maaf, kalau ini berlebihan.hhe..) cerita tentang buku ini.
Bermula, tepat ketika awal bulan Ramadhan (lebih tepatnya lagi beberapa hari sebelum Hari Anak Nasional) melalui sebuah jejaring sosial di internet (baca: facebook), terpampang sebuah pengumuman dari salah satu fanpage (Indonesia Mengajar). Pengumuman yang berupa lomba menulis surat untuk anak-anak Indonesia, dalam rangka memeringati Hari Anak Nasional pada  tanggal 23 Juli.
Surat? Ehem, saya tidak menampik bahwa sebagian besar orang yang memiliki jenjang pendidikan yang hampir setara (bahkan dibawah) dengan jenjang pendidikan yang saya lalui saat ini, menulis surat adalah sesuatu hal yang sangat mudah bin gampang (tanpa perlu berpikir banyak) dalam sebuah proses menulis.  
Tetapi, entahlah. Saya bahkan cukup heran dengan niat saya untuk mengikuti lomba ini (bahkan sempat men-share ke beberapa teman tentang info lomba ini). Suatu hal yang tidak biasa, ketika saya lebih memilih untuk mengikuti lomba menulis cerpen, esai, atau menulis puisi (jika ada). Mungkin saja saya mencari pelampiasan atas kerinduan pada murid-murid kecil, ditempat saya mengajar (bekerja) karena selama ramadhan, kegiatan belajar-mengajar diliburkan total.
Lagi, saya dibuat bingung ketika akan menulis surat yang akan diikutkan lomba ini. Saya bingung harus menulis tentang apa (karena ini kali pertama saya mengikuti jenis lomba ini). Karena pada intinya, saya akan menulis surat untuk anak-anak Indonesia,  tepat di hari mereka, Hari Anak Nasional.
Setelah beberapa saat tertegun, mencari inspirasi, dan mengutak-atik (mengacak-acak) isi netbook saya, akhirnya tercetus sebuah judul untuk surat yang akan saya kirimkan. Sekolah untuk Ananda yang Berteman dengan Aksara Terbalik (judul yang cukup dan sangat panjang, memang). Jika ingin membaca isi suratnya, sila buka arsip blog ini pada tanggal 23 Juli 2012.
Tak perlu menunggu waktu lama untuk mengetahui hasil pengumuman lomba ini. Dan Alhamdulillah, karena keyakinan dari awal, surat saya masuk dalam lima karya terbaik berdasarkan hasil penilaian dari tim penilai (juri). Bahagia? Tentu. Bahagia, karena akhirnya sebuah kekalutan (ibu saya tentang anak didiknya) yang terpendam beberapa tahun terakhir, dapat terlampiaskan dalam sebuah tulisan (hal yang juga melatarbelakangi saya untuk menggeluti dunia pendidikan, kelak).
Tetapi, tak hanya itu. Saya juga bahagia (sangat) ketika tahu bentuk apresiasi yang diberikan pihak Indonesia Mengajar adalah sebuah buku (lengkap dengan tanda tangan ketua Indonesia Mengajar, Bapak Anies Baswedan, juga merchandise yang sangat menarik). 


Jujur, ini adalah satu-satunya euforia kemenangan yang sangat berkesan dan tidak akan terlupakan, dibandingkan euforia-euforia kemenangan lain yang pernah saya rasakan dari tulisan-tulisan saya. Mengapa?
Pertama, karena bentuk apresiasinya adalah sebuah buku (euforia yang paling saya sukai adalah mendapat buku yang tentunya gratis atau cuma-cuma.hhee..). Tetapi bukan hanya itu. Buku yang saya dapatkan ini, yang dibubuhi tanda tangan Bapak Anies Baswedan (ini lebih membahagiakan, dibanding mendapat tanda tangan penulis yang saya miliki bukunya), seketika membuat rasa sakit hati, kekesalan, dan penyesalan saya (karena sudah tiga kali batal mengikuti acara yang notabenenya menghadirkan Bapak Anies Baswedan yang saya kagumi pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan, di Makassar) langsung lenyap, melayang. 



Kedua, ada nilai lebih yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Walaupun sesungguhnya saya tidak cukup tertarik dengan buku jenis ini (kisah inspiratif) ketika di toko buku lebih banyak melirik dan memperhatikan buku-buku jenis sastra (fiksi), agama (islami), sosial, budaya, bahasa, pendidikan, dan motivasi. Entahlah (lagi), saya sama sekali tidak percaya dan cukup terperangah karena merasa sangat mendalami ketika membaca buku ini.
Saya hanya tidak bisa membayangkan, membaca buku ini dalam waktu tepat sepekan (berisi hampir lima ratus halaman), yang merupakan waktu paling lama saya membaca buku. Padahal, kemampuan membaca saya pada buku sekitar empat ratus halaman, kira-kira habis hanya dalam waktu dua sampai tiga hari (kalau sedang giat-giatnya membaca). Ehm….mungkin saja saya terlalu meresapinya.
Sampai-sampai ketika membaca, saya dibuat terharu dan menitikkan air mata. Menangis? Ya, ini adalah kali pertama saya menangis ketika membaca buku apapun (bahkan novel yang mengharu biru pun, menurut saya bisa kalah karena buku ini).
Ketiga, awal saya melihat buku ini, saya menganggap tidak begitu istimewa. Tetapi, setelah membacanya, Subhanallah! Saya banyak belajar tentang arti hidup dari buku ini. Tentang arti keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab, kerja keras, pengorbanan, saling menghormati, kreatifitas, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Saya banyak belajar dalam menghadapi anak-anak, tentunya. Banyak belajar dengan ‘jiwa-jiwa’ kecil mereka (anak-anak).
 Serta pengabdian. Pengabdian pada negara tercinta, bentuk patriotisme dari para anak muda (terbaik) yang rela meninggalkan hiruk-pikuk dan kenikmatan ibu kota, hanya untuk mendidik dan mengasah permata-permata kecil yang belum ‘nampak’ dari bagian terluar pulau (terpencil) Indonesia. Ini yang membuat saya terharu, sekaligus menjadi beban moral saya sebagai seorang yang terdidik.
Saya semakin tersadar, karena selama ini hanya bisa mengeluhkan segala sesuatu tentang pendidikan. Menyalahkan pemerintah dan keadaan. Selalu seperti itu. Tetapi, setelah membaca buku ini, jujur saya semakin sadar. Tak ada lagi waktu untuk hal itu. Ya. Karena ada sebuah beban moral, turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimana pun itu, dan kapan pun.
Teringat pula sepotong tulisan sinopsis (yang sempat pula saya share di timeline fb saya) dari buku ini: 

Sekarang bukan waktunya lagi untuk mengeluh, mengasihani, atau menghujat pemerintah. Lebih baik menyalakan lilin daripada terus-menerus mengutuki kegelapan. Kini waktunya beraksi, bersama berkontribusi membangun negeri dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukankah mendidik adalah tugas semua orang terdidik?

Inilah yang membuat saya tergugu. Tak bisa bisa menampik. Baru kali ini berpikir berulang-ulang pada apa yang telah saya baca. Setelah membaca buku ini, saya baru saja tahu dan (akan) ikut serta dalam konsep idealisme pendidikan (ini janji saya!). Ini pula yang telah membuka mata saya lebar-lebar pada arti pendidikan sesungguhnya. Bukan pada dunia pendidikan yang selama ini terhujat oleh orang-orang terdidiknya (baca: mahasiswa) yang selama ini selalu saja meresahkan.
Lebih banyak bertindak dibandingkan banyak omong besar (baca:merusak). Memberikan perubahan adalah sesuatu hal yang sangat penting daripada terus menceracau keburukan suatu hal (pendidikan) tanpa memberikan solusi. Ya, itu harapan saya selama ini. Bukan menjadikan pendidikan jadi terbelakang dan membicarakannya dengan melulu masalah. Bukan pula pendidikan dengan banyak menuntut terpenuhinya fasilitas dalam hal belajar-mengajar. Tetapi, pendidikan adalah dengan banyak memberi, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya*. Tentunya dengan menyebarkan sisi-sisi positif dari segala kekurangan dan ketakberdayaan yang ada.
Oh, iya. Setelah membaca buku ini, sebuah tulisan langsung saya rangakai tepat di bagian bawah tanda tangan bapak Anies Baswedan:

“Nantikan (kelak) kehadiran calon ibu gurumu ini, Nak. Insya Allah, sang Pemilik Waktu akan mengizinkan kita mengukir kenangan-kenangan indah yang istimewa, bersama di suatu saat nanti.”
-Ismi Kurnia Dewi Istiani-  :)

            Semoga!


Di sisa-sisa rinai siang,
Pinrang, 24 Agustus 2012


*Tulisan dari novel Sang Pemimpi (Andre Hirata)