Kamis, 16 Juli 2015

Monolog Rindu 12: Cahaya


Kelak,

apa yang dijawab mata ini,
apa yang dijawab telinga ini,
apa yang dijawab mulut ini,
apa yang dijawab tangan ini,
apa yang dijawab kaki ini,
apa yang dijawab hati ini,

ketika ditanyai, “Untuk apa kau gunakan disepanjang usiamu di dunia?”

sedang ketidaksadaran itu selalu menebal

menutup cahaya-cahaya-Nya

pada jiwa yang selalu abai dan lalai

lantas, dalam bulan yang berusaha meluaskan cahaya-cahaya itu, dirasa tak cukup masa kehadirannya

kutahu, hadirnya akan pasti ada

akan tetap ada dalam tahun-tahun

tetapi, tak pernah kuketahui, izin-Nya terhadapku akan masih ada untuk kembali bertemu.  



Waktu penghabisan Ramadhan,

Pinrang, 29 Ramadhan 1436 Hijriah/ 16 Juli 2014

Senin, 01 Juni 2015

Monolog Rindu 11: Hati


(Sebuah Pesan dan Nasihat)


“Selalu jaga sikap hatimu, Nak. Sebab hati adalah pengontrol jiwa 
dan kekuatan tubuhmu.”

Pada kisah-kisah yang kaulalui, tidak ada jaminan, bahwa hatimu akan tetap baik-baik saja disetiap waktu. 

Nak, ketika kau memutuskan untuk mengasihi siapa pun layaknya saudara, kau harus siap menerima segala baik dan buruk yang ada padanya.

Karena kau tahu pula, setiap manusia adalah tempat segala laku yang khilaf.

Nak, ingat ini. Ketika sebuah hati yang pernah kaupercaya, tiba-tiba disuatu waktu melukai dan menyayat-nyayat hatimu, rawatlah luka-luka yang ditimbulkannya hingga sembuh. Tidak perlu kau pelihara benci, Nak.

Sebab memelihara benci dan memendam hingga membentuknya menjadi gumpalan dendam, adalah salah satu cara untuk  menyakiti dirimu sendiri.

Hatimu haruslah kuat, Nak. Melebihi kuatnya tubuhmu. 

Bagi siapa pun yang telah kau anggap menyakiti hatimu, sesungguhnya tidak semua berniat jahat padamu, Nak. Tidak semua. 

Setiap manusia punya warna masing-masing. Punya laku yang sama sekali tidak bisa kita paksakan untuk selalu memahami diri kita sendiri. 

Bisakah kau lapangkan hatimu sejenak, tanpa mendorong egomu yang negatif itu, Nak?

Lapangkan.

Bersabarlah.

Menerimalah. 

Memaafkan. Bukankah banyak petunjuk-petunjuk-Nya yang mengajarkan hati kita untuk menjadi lebih pemaaf?

Bukankah ketika sebuah hati sedang rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh?



Disisa hujan pertama dalam senja,
Makassar, Juni 2015