Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2012

Jika Engkau Yakin


Bilamasa ?

Meski teguh masih berkabut

Gegap-gegap masih memburu-buru prinsip

Perlu ?

Hakulyakin?

Cecar-cecar pula mengeriap

Fanatik ?

Lamat-lamat membungkus rasa yang memaut ideologi

Aklamasi ?

Lepas-lepas majemuk, menghimpit ego

Harap mencapai hulul ?

Meski gering-gering minoritas telah terendap

Sejak dulu

Kala Sya’ban berakhir dalam Hijriah

Kala manzilah-manzilah hilal yang (masih) tak nampak.


Pinrang, 21 Juli 2012 
(2 Ramadhan 1433 H)
Saat malam berhias bulan tinggi dan penuh




Jumat, 20 Juli 2012

Bulan Memucat






Pendar, menyeliapkah ia ?

Pijar, melampaikah ia ?

Bukan!

Itu bulat, Sayang

Ataukah, campurannya bak aurora ?

Tidak!

Ia tak berwarna jamak. Tak mendua. Sendiri

Hei, tunggu dulu!

Ataukah ia menyerupai lapis-lapis lengkung spektrum yang indah?

Mungkinkah juga, ia pecahan-pecahan kelip yang menyebar ?

Bukan seperti itu, Sayang

Lantas ?

Pandang bulatnya yang mengawang. Ia olak tanpa ongok. Lugu. Menguning putih, mengawah

Tapi, terkadang hanya kulihatnya sepotong, bahkan nampak celurit. Mengapa tak bulat melingkar?

Itu karena ia hadir tanpa onar, nanar, hiruk

Selalu datang dengan khidmat, sumirat, berdenyar-denyar, melepas marun

Lihatlah !

Ia hadir kembali dipetang ini, Sayang

Tetapi, kini ia menggandeng kelabu !


VAA Makassar, 10 Juni 2012 

Membenam Renjana





Rindu-rindu perlahan mengalit
Sesak sekejap melinang bulir bening
Ada berjuta-juta masa amarah
Emosi                            
Membahak
Senyum renyai
Kembali dengan pelan, berderai-derai
Tahukah, kau?
Disini, masih ada setitik luka!
Yang dulu tersimpan dalam nilam
Rasa hati yang membuatnya begini
Ingatkah, kau?
Dulu, risau itu masih menyerenjang sempurna, kokoh
 Memaut angan-angan yang memimpi
Terserak pada ilusi-ilusi
Elegi bercerita pula pada desah-desah gundahan waktu
Hari, tak lagi bersahaja!
Inikah, renjana?
Masihkah prasangka-prasangka mengeriap?
Seperti dulu?
Indahkah seperti deskriptif itu?
Seperti desau?
Ataukah, hanya bisikan?
Cukup!
Pergilah, dengan cerita itu
Torehkan dengan nazam-nazam keluguan
Azalkan pada fabula-fabula yang merambat
Lalu,
Biarkan lenyap, melesap, terbawa silir.

VAA Makassar (menjelang senja), 11-12 Juni 2012

Kontemplasi Senja



Senja di Losari, 12 Juli 2012 (Foto: Reski Sululing)



Kerik-kerik kericau murai

Perlahan

Mengerumit titian senja

Keriang-keriut, mengerih perih

Mengerinjang, ragu, mengingsut

Pekat hitam menjelang

Magenta

Pergilah, petang!

Intrik-intrik, mengulum-ngulum malam dari pelik

Sebab kerical pun menghasta, tanpa nista di jalan-jalan kota

Masihkah rupa menoreh cinta yang bersepuh?

Mungkinkah pula, gaung-gaung aulia masih terserak pada keluguan eksaltasi?

Oh!

Kontemplasi bertempa senja

Melimbung ilusi

Menggantung asa.


VAA Makassar, 10 Juni 2012


Selasa, 14 Februari 2012

Remuk Rengsa

Ia datang laksana angin
Kadang menyentak berserak
Mengembus perlahan
Menari gemulai
Bak risau zahir di lakon hidup
Dua keping terekat
Riam rasa urung bersibak
Semu, tentang makna penyatuan
Meranggaskan riuh jiwa
Menguasai angan-angan
Usaikah?
Usahkah?
Ah, diriku remuk! 



VAA Makassar, 9 Februari 2012