Senin, 02 September 2013

Dandelion

Aku juga lebih mencintaimu seperti Linn yang dulu membersamai.
Aku juga bisa menyimpanmu sebagai kenangan yang sengaja kupaketkan untuk tujuan tak beralamat.
Naifkah?
Jika tanya itu mencuat, biarkan itu masih menjadi susunan logika yang mungkin tidak akan terjawab.
Kamu tahu kan, alasanku menjadikanmu corak dalam hidupku?
Ini masih tentang flosofimu, dear.
Ini tentang ringkihmu yang sungguh sangat rela terbawa udara, ah, lebih tepatnya angin.
Tetapi juga sangat rela bertumbuh di pijakan yang lain.
Aku sungguh--benar-benar-- mencintai lembutmu yang lungsai, putih.
Bahkan aku lebih mencintaimu ketika senja juga menerpaimu.
Oh, senja?
Aku sangatlah yakin engkau mengenalnya.

Aku tahu, biasnya kadang kala memudarkan lembut putihmu.
Kadang kala juga jingganya membelai-belai bebatangmu.
Hm, lagi, saat ini masih mencintaimu seperti senja, juga Linn.

Lebih tepatnya memadukan kalian.

Senja, Linn, juga Dandelion.

Indahkan ? ^_^ 





 Bersama pagi yang riuh.

Bumi Lasinrang, 2 September 2013

Senin, 05 Agustus 2013

Dari yang terlewati: ke-21 tahun

Mungkin bola oranye itu masih seperti dulu
Masih seperti ketika rasa kagum pada awan bertambah-tambah
Masih seperti udara yang menduduki pelupuk mata
Ada yang masih selalu dinanti dalam kekata bibir yang lebih senang membungkam

Ada yang masih selalu diinginkan dalam kepingan-kepingan impian juga harapan-harapan
Desah-desah itu juga masih seperti itu

Selalu ada banyak tanya dan juga perkiraan (?)
Ruh dan jasad
Belum ada masa yang bisa memisahkan kita
Kita masih seperti dulu, yang bersama merasakan gelitik sendu, juga belai bahagia



Kembali menemui waktu disenyapan penghujung senja
 
VAA Makassar, 5 Agustus 2013


Selasa, 23 Juli 2013

Kabut



Pada sesenggukan waktu
Yang melerai asa dan harapan
Ada kisah disini
Yang juga menggabungkan cerita-cerita, kami
Pada sepuluh pemikiran
Sepuluh rasa 
Sepuluh tujuan
Sepuluh langkah
Sepuluh asa
Ada yang membuatnya mengabut
Meremangkan gerak yang berpadu
Ada picik yang menyelubung
Ada tulus yang berjarak, memantik masa
Ada sapa ramah
Ada diam yang tak mengharapkan kekata
Ada keinginan yang terpendam untuk kembali menjangkau masa 
Menjangkau dekat yang mengabur
Pada tuntutan-tuntutan yang menginjak
Kewajiban. Ya, kewajiban yang mengiba pada gelar dan pandangan
Kita
Bahwa sesungguhnya terjebak pada sakral “pengabdian” dibeberapa waktu dan zona asing
Kita 
Menyatukan sulitnya keping pada dinding-dinding kayu
Mengikuti beberapa harapan-harapan pribumi
Bahkan hanya sekedar ucapan terima kasih dan lengkungan bibir sumringah
Juga jamuan-jamuan pengisi perut
Ada sesangkaan yang cukup tak menjangkau 
Pada tepisan-tepisan yang membalik
Dan dari ketulusan yang membagi-bagi logika
Ya. Ada cerita disini
Tentang fajar yang membawa gigil
Tentang malam yang merobek mimpi
Juga tentang senja yang menjadikan waktu meranum jingga
Ya. Cerita masih akan tetap disini
Jika tapak-tapak kaki kita beranjak, kembali meniti asa dalam jejaran metropolitan “kota daeng”, kampus oranye
Jika rasa yang sempat membelai prinsip yang mengukuh
Jika prasangka-prasangka atas tanggung jawab 
Kita 
Sesunguhnya masih saja membuai dalam kehangatan jalinan ukhuwah
Yang masih betah membagi-bagi potongan-potongan topeng wajah.




Yang menginspirasi kabut
 
Labae-Watampone, 22-23 Juli 2013


(KKN UNM  Angk. XXIX 2013, Posko IV, Desa Labae, Kecamatan Citta, Kabupaten Soppeng)