Rabu, 10 September 2014

Monolog Rindu 5: Berita Kematian

“Tiap-tiap diri yang melekat pada nyawa, suatu waktu, akan merasakan kematian. Pasti. Bahkan pun ketika kaumerasa tidak mampu menerima. Dan ketika kau merasa bahwa hidup tak mestinya sangat singkat.”



 Ingatlah, bahwa hidup memang tak selamanya berpihak pada ingin-ingin dan bahagiamu. Bahkan pun kematian, yang sesungguhnya sangat dekat kehadirannya.

Ingatlah, bahwa hidup tak akan selalu menemanimu dan menemaninya.

Ingatlah, bahwa merasa “siap” menghadapi kematian adalah satu-satunya cara terbaik untuk kaubisa menerima.




Pada bulan yang banyak mengantar berita kematian,

Makassar, September 2014

Senin, 08 September 2014

Monolog Rindu 4: Ini Tentang Rindumu, Dik

“Menanggung rindu memang berat, perempuan. Bahkan mungkin lebih berat ketika kauputuskan untuk tidak menyampaikannya pada yang kaurindukan.”




Tersebutlah pada suatu senja yang enggan kembali mencipta monolog tentang rindu. Iya. Seketika itu, sangat jelas rindu betul-betul merekat. Menempel pada ingatan-ingatan yang sungguh ingin melupa.

Dik, di beberapa waktu yang berucapkan rindumu yang berjarak, entah mengapa hampa-hampa selalu saja menjelma pada ketegaran yang sungguh rapuh.

Pikirmu, kakakmu ini tegar menyembunyikan rindunya, Dik?

Yang kautahu mungkin seperti itu.

Kakakmu ini tak seperti dirimu, yang dengan mudahnya meluahkan rindu.

Tak seperti dirimu.

Dik, andai kautahu pula, tiap-tiap rindu yang pernah (pun) kausisipkan pada jarak-jarak waktu yang membawamu saat ini, sesungguhnya ada beberapa tanya-tanya yang pernah hinggap.

Sungguh, seberat itukah kaumenanggung rindumu, Dik?

Seberat itu pulakah ketika kaumenanggung rindu yang selalu ingin kauluahkan, ketika pun terkadang kakakmu ini tak menyadari?

Ah, mungkin kakakmu ini terlalu betah menyembunyikan rindu-rindunya dibalik perjalanan-perjalanan, terlalu betah dengan diamnya.

 Ataukah mungkin terlalu betah dengan mengamatinya.

 Dik, seperti yang pernah diketahuinya, kakakmu telah tahu, bahwa rindu tak mesti terumbar.

Tak mesti semua orang mengetahui.

Cukup itu, Dik.

Dan, ketika rindumu kembali menghampiri, kirimkanlah doa-doa.

Sebab mendoakan adalah cara yang lebih damai untuk menjadikan rindumu tetap senyap.


Akhir Agustus-September 2014


Rabu, 27 Agustus 2014

Monolog Rindu 3: Tentang Diam Bapak


Sepi menutup. Ketika diammu tidak lagi hangat. Pada kedatangan renggas-renggas waktu yang mengantarkan masing-masing ego pilihan.

Sesaat dalam pelan-pelan waktu yang menggiring pertemuan-pertemuan, pernah ada percaan keraguan dalam diammu. Mungkin itu adalah keraguan rasa yang dimiliki anakmu ini.

Pak, ketika anakmu ini memutuskan sejak dulu, tak akan ada seorang lelaki pun yang menggantikan tempatmu pada kagum-kagumnya. Tidak akan ada seorang lelaki pun yang bisa menggantikanmu sebagai sosok yang selalu menginspirasinya. Tidak akan!

Dikedua bola mata dan hati anakmu ini, diammu adalah hangat yang sulit luruh. Diammu adalah genggaman-genggaman nasihat, dari dan untuk perjalanan hidup. Diammu adalah sesuatu yang selalu ditunggunya, bersama saling menyeduhkan cerita-cerita.

Masih kauingat kan, pak, ketika perlahan-lahan anakmu ini semakin antusias mendekati Tuhan?

Masih kauingat kan, pak, ketika anakmu ini memutuskan untuk menutup helai-helai rambutnya, tidak sama seperti menutup yang hanya sekadar?

Masih kauingat kan, pak, ketika sebuah waktu mengantarkan kita duduk bersama, di rumah kita yang dikepung deras hujan, sedang kita saling menangisi keadaan?

            Ketika kali terakhir anakmu ini pulang, kenapa tak lagi dilihatnya diammu yang hangat seperti dulu?

Lantas, kenapa diammu berubah dingin, pak?

Kenapa, pak?



Pinrang-Makassar, Agustus 2014