Sabtu, 28 Februari 2009

Ponari dieksploitasi?


Seorang bocah laki-laki, yang tinggal di daerah Jombang Jawa Timur, kini mendadak menjadi ‘dukun cilik’ terkenal. Ponari, nama bocah yang masih berumur sembilan tahun. Yap, setelah ‘diprediksi’ memiliki kemampuan yang tidak semua dimiliki orang, kini ia menjadi pusat perhatian yang lagi hangat-hangatnya, baik di media cetak, maupun media elektronik.
Ternyata eh ternyata, Ponari bisa menyembuhkan orang hanya dengan meminum air dari hasil rendaman batu ‘sakti’ yang dimilikinya. Kok bisa? Apa ada sesuatu di dalam diri Ponari? Atau mungkin, batu yang digunakannya itu benar-benar ‘sakti’?
Tapi yang jelasnya, perihal munculnya batu ajaib yang ditemukan Ponari itu, sama sekali tidak realistis, dan gak jelas. Katanya, Ponari pernah disambar petir, yang menyebabkannya dirinya mempunyai kekuatan lain (dan menyebutnya sebagai titisan dewa petir), ada juga yang beranggapan kalo batu itu pernah dibuang Ponari, tapi karena batu itu tidak berpindah tempat, akhirnya batu itu dijadikan media untuk menyembuhkan segala penyakit hanya dengan sekali pengobatan. Edan!
Tapi, kenapa Ponari dianggap sedang dieksploitasi? Nah, gara-gara Ponari dianggap bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan mencelupkan batu ‘sakti’nya kedalam air si pasien, hampir sebulan ia tidak sekolah dan bermain dengan teman-teman sebayanya (seperti yang dilakukan anak-anak lainnya). Hal itu disebabkan karena, adanya paksaan dari orang-orang terdekat yang ingin mengambil keuntungan dari itu semua.Bahkan, ayahnya sendiri pun sempat dipukul dan dirawat di rumah sakit, karena pamannya Ponari memaksa untuk mengasuh Ponari, dan terus membuka praktek pengobatannya itu. Padahal, ada penduduk setempat yang sudah menegur, agar praktek itu ditutup. Bahkan, pihak sekolah di tempat Ponari menuntut ilmu pun sudah mengeluarkan surat teguran, agar Ponari kembali masuk sekolah lagi.
Bahkan, lebih parahnya lagi, dari pengobatan itu, ada beberapa pasien yang meniggal, gara-gara terlalu lama nunggu dan kehabisan tenaga. Ada juga sebagian pasien yang mengambil air comberan dan serpihan dinding rumah Ponari. Hah? Dasar nekat! Tidak hanya itu saja, ada juga pasien yang rela ‘nginap’ di rumah Ponari hanya untuk mendapatkan kesaktian dari batu si Ponari.
Kenapa mereka bisa senekat itu? Apa nggak ada pengobatan alternatif selain itu? Yah, bisa dikira-kira hal ini terjadi disebabkan lemahnya perekonomian masyarakat. Liat saja, disekitar rumah Ponari memang adalah perumahan kumuh, dan memang daerah itu masih sangat terbelakang. Mungkin warga memanfaatkan kesempatan ini, agar tidak membayar mahal jika berobat ke rumah sakit.
Yah, faktanya memang semua itu, adalah salah satu bentuk eksploitasi terhadap anak-anak. Kak Seto juga sebagai ketua Komnas Perlindungan Anak, mengungkapkan hal yang sama. Sudah jelas kok, kalo Ponari sekarang tidak mendapatkan hak-haknya sebagai anak, yaitu bersekolah dan bermain, selayaknya anak-anak biasanya. :) bG!

Tindakan Kekerasan di kalangan Pelajar

Sudah sepekan ini, berbagai media massa maupun media elektronik, memberitakan beredarnya video kekerasan di kalangan pelajar. Pertama, beredarnya video perkelahian dua siswi salah satu SMA di Papua. Dan hebatnya lagi, kedua siswi yang berkelahi itu memang sudah dibekali sarung tinju oleh gurunya. Loh? (kok kayak adu jotoss gitu?) Lucunya lagi, perkelahian itu dipicu terjadi, karena guru mereka yang memberikan hukuman dari perbuatannya yang mereka lakukan. Dalam video yang telah beredar di masyarakat luas itu, tergambar kalau siswi-siswi tersebut saling mengadu jotoss dengan sarung tinju, di tengah lapangan sekolah. Tak ketinggalan, salah satu bapak guru di sekolah itu, yang menjadi wasitnya, tak lupa siswa-siswinya juga yang jadi penonton. Ck..ck..ck..
Dan lebih menyedihkan lagi, ada juga video yang tersebar di daerahku (Pinrang-Sul-Sel), yang ceritanya juga mirip dengan yang tadi. Bahkan, tokoh pemerannya juga dua siswi, (SMK) yang sedang adu kekuatan, dan juga dilakukan di lingkungan sekolah. Hm,, katanya sih, perkelahian itu terjadi karena adanya kesalah pahaman antar anggota geng yang mereka bentuk. Nah, setelah video tersebut beredar, dan sempat nongol di tivi, Bapak Bupati di daerahku sangat malu dengan adanya kejadian itu. Bahkan, dia juga kecewa dengan penduduk daerahnya, kenapa giliran pemberitaan yang negatif, nama daerahku bisa nongol tivi, bukannya berita yang positif.
Tapi, kok harus diselesaikan dengan adu fisik seperti itu? Apa nggak ada jalan keluar lain untuk menyelesaikanm masalah?
Memang sih, kalo mau diliat-liat, yang paling rentan untuk melakukan kekerasan adalah kaum remaja. Yah, apalagi remaja itu selalu merasa benar, dan selalu ingin menang. Tapi, menyedihkannya, tayangan video jenis seperti itu, yang umumnya beredar di media ponsel, bisa saja mempengaruhi orang yang menontonnya (terutama anak-anak). Yah, kita kalo mau liat contoh tayangan kekerasan kayak gitu, gak usah jauh-jauh deh. Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, ada segelintir anak yang mencontoh gerakan kekerasan dari tokoh kartun idolanya. Tak ayal, dari sikap ‘mencontoh’ itu, ada yang terpaksa meregang nyawa dengan cara saperti itu. Sadis.
Tapi ya, menurutku sih intinya, kekerasan bukanlah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah, dan tidak patut unntuk ditiru. :) bG!

Kompetisi, sebagai ajang eksploitasi anak?

Aku pernah jalan-jalan ke sebuah blog (yang punya orang Purworejo) nih, gini, salah satu artikelnya, membahas tentang kompetisi nyanyi untuk anak-anak (Idola Cilik 2). Kebetulan, salah satu kontestannya, adalah tetangga kecilnya (Agni Idola Cilik 2). Di blognya itu dia bilang, kalo kompetisi seperti Idola Cilik ini salah satu bentuk eksploitasi terhadap anak-anak. Karena, hasil yang didapatkan, tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan.
Dia memprediksi, kalo 1% pun anak-anak itu tidak akan mendapatkan hasil dari kerja kerasnya (oh ya?). Mereka cuma diandalkan untuk tampil dan nongol di tivi, dan menjadi ikon dari statiun televisi yang bersangkutan (agar rasa simpati penonton lebih besar). Ah, masa sih?.
Dari hal itu, muncul beberapa pertanyaan di otakku. Apakah sebuah kompetisi bisa disebut salah satu bentuk eksploitasi terhadap anak? Apakah dengan nongol dan berkompetisi di tivi adalah sama saja dengan ‘menjual’ bakat yang dimiliki oleh anak?
Oke, kita liat contoh lain dari anak berbakat yang sudah bisa nongol di tivi. Baim, seorang balita yang berumur tiga tahun lebih, sudah bisa mendapatkan mobil pribadi sendiri dari hasil kerja kerasnya syuting sinetron. Ia mendadak terkenal, setelah menjadi salah satu tokoh di sinetron Cerita SMA (sekarang sedang main lagi di sinetron Tarzan Cilik), yang kebetulan , waktu itu dia hanya dijadikan pemeran pengganti. Nah, apakah hal ini juga bisa dikatakan salah satu bentuk eksploitasi terhadap anak? Ya, walaupun Baim tidak berkompetisi dalam suatu acara ajang pencari bakat. Padahal, sinetron yang telah dibintanginya itu, disiarkan satu stasiun dengan acara Idola Cilik (RCTI).
Nah, menurutku, kompetisi seperti ajang pencari bakat, (atau apa pun deh bentuknya), yang melibatkan anak-anak untuk penyiaran tivi, itu gak ada salahnya selama hal itu bersifat positif, dan tidak menghilangkan hak-hak anak. Bahkan, hal itu juga bisa dijadikan salah satu latihan untuk mandiri di usia dini, dengan mendapatkan materi tentunya (tapi bukan di suruh kerja). Nongol di tivi juga bisa dijadikan latihan untuk bisa ngomong di depan umum, dan bersosialisasi dengan lebih banyak orang.
Ya, ada juga loh satu stasiun tivi yang acaranya diisi oleh sebagian besar anak-anak, dan memang diperuntukkan anak-anak. Space Toon, bisa dikatakan stasiun tivi yang 100% untuk anak. Dan menurutku, dengan adanya stasiun ini, dapat mengurangi dampak dari tontonan kekerasan, yang umumnya dialami oleh anak-anak. Bukan hanya itu, di stasiun ini, anak lebih diarahkan kepada nilai-nilai luhur dan kebaikan, serta pendidikan moral. (aku salut deh, dengan pencetus stasiun ini).
Nah, pada intinya, sebaiknya kita tidak menganggap, kalo dengan mengikuti kompetisi yang ditonton banyak orang, adalah salah satu bentuk eksploitasi, apalagi jika pelakunya adalah anak-anak. Dan selama itu bisa menimbulkan hal positif, why not?
:) bG!