Senin, 08 September 2014

Monolog Rindu 4: Ini Tentang Rindumu, Dik

“Menanggung rindu memang berat, perempuan. Bahkan mungkin lebih berat ketika kauputuskan untuk tidak menyampaikannya pada yang kaurindukan.”




Tersebutlah pada suatu senja yang enggan kembali mencipta monolog tentang rindu. Iya. Seketika itu, sangat jelas rindu betul-betul merekat. Menempel pada ingatan-ingatan yang sungguh ingin melupa.

Dik, di beberapa waktu yang berucapkan rindumu yang berjarak, entah mengapa hampa-hampa selalu saja menjelma pada ketegaran yang sungguh rapuh.

Pikirmu, kakakmu ini tegar menyembunyikan rindunya, Dik?

Yang kautahu mungkin seperti itu.

Kakakmu ini tak seperti dirimu, yang dengan mudahnya meluahkan rindu.

Tak seperti dirimu.

Dik, andai kautahu pula, tiap-tiap rindu yang pernah (pun) kausisipkan pada jarak-jarak waktu yang membawamu saat ini, sesungguhnya ada beberapa tanya-tanya yang pernah hinggap.

Sungguh, seberat itukah kaumenanggung rindumu, Dik?

Seberat itu pulakah ketika kaumenanggung rindu yang selalu ingin kauluahkan, ketika pun terkadang kakakmu ini tak menyadari?

Ah, mungkin kakakmu ini terlalu betah menyembunyikan rindu-rindunya dibalik perjalanan-perjalanan, terlalu betah dengan diamnya.

 Ataukah mungkin terlalu betah dengan mengamatinya.

 Dik, seperti yang pernah diketahuinya, kakakmu telah tahu, bahwa rindu tak mesti terumbar.

Tak mesti semua orang mengetahui.

Cukup itu, Dik.

Dan, ketika rindumu kembali menghampiri, kirimkanlah doa-doa.

Sebab mendoakan adalah cara yang lebih damai untuk menjadikan rindumu tetap senyap.


Akhir Agustus-September 2014


Rabu, 27 Agustus 2014

Monolog Rindu 3: Tentang Diam Bapak


Sepi menutup. Ketika diammu tidak lagi hangat. Pada kedatangan renggas-renggas waktu yang mengantarkan masing-masing ego pilihan.

Sesaat dalam pelan-pelan waktu yang menggiring pertemuan-pertemuan, pernah ada percaan keraguan dalam diammu. Mungkin itu adalah keraguan rasa yang dimiliki anakmu ini.

Pak, ketika anakmu ini memutuskan sejak dulu, tak akan ada seorang lelaki pun yang menggantikan tempatmu pada kagum-kagumnya. Tidak akan ada seorang lelaki pun yang bisa menggantikanmu sebagai sosok yang selalu menginspirasinya. Tidak akan!

Dikedua bola mata dan hati anakmu ini, diammu adalah hangat yang sulit luruh. Diammu adalah genggaman-genggaman nasihat, dari dan untuk perjalanan hidup. Diammu adalah sesuatu yang selalu ditunggunya, bersama saling menyeduhkan cerita-cerita.

Masih kauingat kan, pak, ketika perlahan-lahan anakmu ini semakin antusias mendekati Tuhan?

Masih kauingat kan, pak, ketika anakmu ini memutuskan untuk menutup helai-helai rambutnya, tidak sama seperti menutup yang hanya sekadar?

Masih kauingat kan, pak, ketika sebuah waktu mengantarkan kita duduk bersama, di rumah kita yang dikepung deras hujan, sedang kita saling menangisi keadaan?

            Ketika kali terakhir anakmu ini pulang, kenapa tak lagi dilihatnya diammu yang hangat seperti dulu?

Lantas, kenapa diammu berubah dingin, pak?

Kenapa, pak?



Pinrang-Makassar, Agustus 2014



Senin, 04 Agustus 2014

Monolog rindu 2: Tentang Rumah (Kita)


            Dari sudut-sudut waktu, mungkin saja, bahwa asa-asa bisa saja perlahan menjadi layu, mati tak berbekas. Asa-asa yang dulu pernah disemai pada harap-harap yang tertanam, membunga, membuah, dan meranum.

Pernahkah, ketika sepotong waktu datang dengan pongahnya, lalu merampas segalanya yang telah kau simpan baik-baik, Bu?

Pernahkah, ketika sepotong waktu datang dengan pongahnya, lalu merampas segala inginmu yang mengharap, Bu?

Pernahkah, ketika sepotong cemas datang dengan pongahnya, disebagian impian-impianmu, Bu?

Andai engkau tahu, Bu.

Anakmu ini tak lagi bisa menyelaraskan harap-harapmu pada harap-harapnya pula. Anakmu ini telah menatap lebar-lebar hidup. Telah banyak pasrah pada jalan-jalan yang dipilihnya. Telah banyak pahit-pahit yang payah ditelannya, meski tak seperti payahmu yang lebih berat, Bu.

Bu, anakmu ini telah memilih jalannya sendiri.

Pada harap-harapmu pula yang indah, sesungguhnya ada ingin anakmu, yang sangat dalam untuk memijakkan kaki pada jejak-jejak impiannya sendiri.

Bu, ketika anakmu ini menyerapi rumah (kita).

Kutahu, pernah ada banyak kecewa yang tergores di wajahmu, Bu. Ketika diputuskannya membagi perhatiannnya pada yang lain.

Bu, ketika siku-siku rumah tak lagi ada banyak waktu untuk kita resapi bersama, apakah kerelaanmu masih tetap ada jikalau waktu menarik anakmu ini, tanpa kaukira-kira?

Bu, ketika anakmu ini ditarik oleh waktu, memilih berada di rumah-rumahnya yang lain adalah kesungguhan yang tak boleh kautolak. Jangan.

Anakmu telah betah disana. Anakmu ini telah banyak belajar pada manusia-manusia kuat. Banyak belajar pada lekuk-lekuk hidup yang belum pernah kauajarkan, Bu.

Sungguh, di rumah-rumah itu, anakmu ini banyak memahami hidup, banyak memaknai segala rasa yang pernah pula sangat tidak disukainya, Bu.

Bu, tak pantaskah, jikalau anakmu ini masih menginginkanmu mengajarinya terus mendewasa, tanpa terlalu keras kauinginkan sesuai inginmu?

Percayalah, Bu.

Anakmu ini masih ingin tetap bisa menikmati pecahan-pecahan kenangan masa kecil, bersamamu di teras rumah. Iya, masih ingin diingatnya beberapa tawa-tawa dan sedih yang pernah dipautkan dikedua tangan kecilnya.

Bu, mesti sekeras apa lagi anakmu ini meyakinkanmu?

Ingat, Bu. Rumah (kita) bukan satu-satunya rumah yang akan selalu kukunjungi, kuresapi, dan kunikmati lipatan-lipatan waktu didalamnya, Bu.

Karena ada banyak rumah-rumah kecil yang selalu menunggu kehadiran anakmu ini, Bu.

Percayalah, Bu.

Rumah (kita) akan tak mudah luruh, ketika anakmu ini memutuskan membagi sebagian hidupnya di rumah-rumah kecilnya.
Iya. Karena anakmu ini akan selalu punya alasan untuk pulang, ke rumah (kita).



Makassar, Agustus 2014