Rabu, 12 November 2014

Monolog Rindu 8: Hujan


“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan bijian yang dapat dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).”
(QS.Qaf: 7-11)


Sungguhkah, bila selesapan kemarau hanya bisa dilakukan hujan ketika itu? Tentang sore yang hampir menemui petang, tanah daeng yang dibeberapa waktunya, melepas kemarau dalam hari berulangnya pada tahun-tahun.

Hari itu, pada pertemuan-pertemuan, bila rindu pada hujan semakin melekat, mengapa para pelintas tiap jalan menambah laju mereka seakan menjauh?

Adakah yang menikmatinya kala itu?

Tiga hari yang lalu, hujan menemui bumi. Menguapkan aroma-aroma tanah, bebatu, aspal, pijakan. Sebelumnya mendorong gerimis sebagai pengantarnya, menemui makhluk-makhluk yang tak pandai bersyukur.

Bilakah keluh-keluh bulan kemarau, turut menguap bersama hujan kala itu?

Sedang beberapa pertemuan yang terencana juga turut melontarkan keluh-keluh kehadirannya.

Pula sanggupkah, pelan-pelan kehadiran hujan mampu meredam gerutu-gerutu, kala bulan-bulan kemarau?

Tetapi, basah dikemudian waktu mungkin akan sama seperti gerutu-gerutu kemarau.

Tahukah, kau?

Saat langit sore itu dilekati rubung awan kelabu, lalu, sekelebat muncul wajah-wajah mereka yang pernah memeluk tubuh. Memeluk tubuh kecil yang gigil, kala itu, jelang malam semakin larut sembari nyanyian pengantar tidur sangat lembut mengalun ditelinga. Tak luput, beberapa kisah, dongeng, sirah nabawiyah, turut diperdengarkan agar kelopak mata mengatup dengan tenang.

Ketika telah dewasa,

Entah yang menjadikan apa, air-air langit selalu saja menjelma khawatir pada gigil yang mendekap. Selalu menjauh, merasa tak boleh menyentuh dingin bulir-bulirnya. Lantas, enggan adalah pilihan.

Ketika beberapa waktu, hujan menjadi begitu tebalnya. Pepohon melampai, meluruhkan dedaun. Pada dinginnya yang menusuk, pernah, pernah ada yang membisik pula disela-sela riuhnya.

Berkata,

“Ketika kauhindari saat seperti ini, bukankah kau telah menghindari nikmat keberkahan-Nya dari tiap-tiap tetes?”


Sore keempat, setelah hujan menuntaskan kemarau,


Makassar, Nopember 2014

Sabtu, 08 November 2014

Nopember: dalam tanda-tanda

Membiarkan oktober dalam kemarau. Satu keputusan bijak dengan turut membiarkan persoalanmu pergi bersama angin dan debu-debunya.

Menatap, bahwa hidup tidak melulu menjadikanmu cemas.

Seperti melesatkan waktu, rasa-rasa yang pernah kaucemaskan, sungguh, bukan perkara pahit untuk sekadar membincangkannya pada perempuan-perempuan yang selama ini bersedia menyiapkan pendengarannya untuk kaupinjam.

Perempuan,

dari semua kisah-kisah yang pernah menjejal otakmu, adakah sedikit pun keyakinanmu luruh pada balasan waktu?

Bukankah yang pernah sering kaukatakan, sejauh sepasang kakimu melangkah, pasti tetap akan kembali pulang pada langkah pertama?

Perempuan,

Keberanianmu yang menegaskan rasanya, dia, yang pernah hampir-hampir menggoyahkan pertahananmu, percaya saja, bahwa setiap hal yang pernah berjarak akan dipertemukan pada satu waktu.

Tentang hari keenam dalam nopember tahun ini.

Meski lugumu sempat ingin kau tunjukkan pada pertemuan siang itu, sepertinya itu tak perlu untuk sekedar kau putuskan mengelak.

Menghindar?

Tak juga, perempuan.

Dia, yang pernah membawamu dalam gamang. Yang pernah membawamu pada segala hal yang tidaklah mudah.

Pada pertemuan siang itu, pada perbincangan-perbincangan ringan, yang sesungguhnya sama sekali tak menyangka. 

Terkejutkah kau, perempuan?

Iya, tak menyangka, pada kali terakhir pertemuanmu terjadi ditiga tahun yang lalu, seingatmu.

Dan benar pada saat itu, siang menjelmakan dirimu menjadi kelu. Mungkin tak pernah kausangka, bahkan pun menghadirkan pertemuan itu dalam angan-anganmu.

Mengetahui, pada Juni kemarin, yang mengabarkan dirinya pada berita gamang.

Lantas, pada saat itu kau menghindarkah, perempuan?

Sedang siang saat itu, lagi-lagi sangat sulit kaulontarkan satu pun kata padanya.

Perempuan,

Salahkah kau bersikap demikian?

Salah pada apa?

Pada kesendiriannya yang ternyata masih mengharap-harap hatimu hingga kini?


Dua hari setelah hari keenam dalam nopember,



Makassar, 2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Monolog Rindu 7: Kemarau



Kemarau adalah penerimaan yang lapang. Kemarau adalah penerimaan pada jejak-jejak angin yang kering lagi berat.

Apalah yang menyadarkan kita, bahwa tanah-tanah telah jemu pada ocehan dan keluhan kaki?

Apalah yang menggelitik kita, bahwa debu-debu yang selalu tertolak pada kedua lubang hidung, sedang kita selalu saja menghirupnya di jalan-jalan kota?

Ketika musim basah datang tanpa henti-henti, beberapa ocehan juga selalu mengikut pada sepatu-sepatu kita yang basah, ujung-ujung rok kita yang kotor karena ulah cipratan, tubuh-tubuh kita yang gigil dan seketika menjadi pemalas ketika dingin membungkus, dan kepala-kepala kita yang terasa ringan ketika bulir-bulir air langit menyentuh sela-sela rambut.

Kemarau. Matahari mungkin agak garang pada masa-masa ini. Iya, mungkinkah? Ataukah mungkin saja matahari sedang menyingkirkan awan abu-abu dimusimnya ini?

Kemarau. Di musim ini, tak banyak yang menyadari, umpatan-umpatan gerah berada di tengah-tengah siang.

Tak taukah, tanpa sadar bahwa sebenarnya mereka merindukan musim yang basah?

Kemarau. Sama halnya pada penghidupan. Dari beberapa kisah, ternyata, musim kematian telah menggandeng kemarau. Tahun ini. Iya, tahun ini.

Kemarau. Telah banyak mengantarkan insan-insan pada keribaan-Nya.

Kemarau. Apakah ketika kita merindui hujan, sedang pelajaran yang diberikan kemarau akan membuat kita lupa?

Kemarau. Apakah ketika teriknya siang, sedang pelajaran yang diberikan hujan akan membuat kita lupa?

Kemarau. Seperti pada musim kematian yang menemani, seperti hujan yang enggan nampak, pernahkah kita menyadari, bahwa mengembalikan rindu pada keduanya hanya ditujukan pada penciptanya?

  

Sore dan kemarau dalam Oktober, 2014