Minggu, 15 Juni 2014

Yakini

Betapa , bahwa melungsai ikatan adalah sebuah cara menguatkan ikatan pada sisi-sisi yang lain.

Ingatlah ini, perempuan.

Seorang yang pernah membersamaimu, yang rela menampung sedihmu, yang menyiapkan sepasang telinganya untuk mendengar kekatamu, yakini, bahwa suatu waktu dia akan tertarik pada potongan-potongan dimensi yang lain.

Yakini, bahwa ia tak akan  selalu menggenggam tanganmu sebagai persaudaraan.

Suatu saat akan ada tangan lain yang lebih kokoh untuk menguatkannya. Akan ada jemari lain yang membasuh linangan-linangan matanya. Dan akan ada sepasang tangan  lebih luas yang bisa lapangkan rentangan pelukannya lebih dalam.
Bukan kedua tanganmu lagi, perempuan.

Yakini itu, perempuan.

Lihatlah, bahkan mungkin akan ada sepasang tangan persaudaraan lain, yang sejak dulu hadir diam-diam.
Yang sejak dulu pernah dengan senang hati membiarkan celoteh-celotehmu, keluh-keluhmu, bercampur bersama diam dan kepingan matanya yang peduli.
Mungkin, sama sekali belum pula sepenuhnya kausadari hadirnya.
Tapi, bersama waktu, dia bukan hanya seseorang yang semula datang diam-diam mendengarmu.

Yakini, ia juga akan seperti yang lain.
Akan pergi.


Makassar, 15 Juni 2014







Senin, 02 Juni 2014

Gamang


Bahwa memilih jodoh: sebuah keniscayaan.

“Aku akan menikah. Mohon doa restumu. Telah kuputuskan mencari yang lain. Sebab kutahu, tiga tahun ke depan kau tak ada rencana untuk menikah. Sedangkan usiaku pasti semakin menua. Maaf atas segala khilaf. Semoga dirimu pun segera menemukan jodoh.  Jangan sampai karir dan impian muda menelantarkan usiamu, sehingga dirimu tak sadar telah menua.”

Kutahu. Iya, kutahu bahwa sebuah keniscayaan sangat patut untuk diusahakan. Kelak agar sesuai dengan keinginan hati.

Lantas, ketika harapan-harapan telah lama menjenjal pada masa-masa penantian, masih betahkah setiap hati masing-masing kita gamang pada keheningan derak-derak waktu?

Sudahlah. Bahkan diam saja masih tetap kurasa bingung menoleh pada keputusan-keputusan.
Mengetahui itu, adalah bukan hal yang mudah.

Bahkan ketika bait-bait doa masih saja saling berebut takdir, kaki-kaki ini juga masih tetap mengiba untuk mengokoh.

Bahwa hal itu bukanlah hal yang mudah.

Merapal mimpi pada prasangka-prasangka, bukan pula semudah yang dibayangkan.

Pada pertalian hidup, pada ijab qabul yang mengikat, pada rencana-rencana hidup, masa depan, anak-pinak, harta, ibadah.

Pada Lauh Mahfuz (?)

Iya, semua adalah kenisyaan (yang) masih patut diusahakan.

Semua tak datang sendiri, berlomba-lomba untuk saling ditentukan waktu.

Rasai juga ini, rasai.

Bahwa memilih bukanlah hal yang mudah.

Tak semudah mengharap-harap pada kecukupan janji-janji. Pada keinginan-keinginan semu.

Ingat, ingatlah ini.

Bahwa pertalian lelaki dan perempuan adalah keniscayaan dalam kasih sayang-Nya yang tidak akan bisa mengelupas.

 Bahwa hidup pada hal yang berbeda butuh masa yang saling bergerak bersama.

Mengertilah, bahwa ini bukan pengingkaran.

Ini bukan pula hal yang perlu dipaksa.

Tapi ini adalah memahami.


Tentang sebuah pesan pagi tadi, 

VAA Makassar, 2 Juni 2014


Untukmu:
Kutahu, bahwa menanti sejak tiga tahun yang lalu, bukan hal yang mudah bagimu.
Semoga kelak yang ditunjukkan-Nya adalah yang terbaik dipilihkan sebagai pendamping dan ibu bagi anak-anakmu.
Semoga Allah selalu menghimpunmu pada kebaikan-kebaikan-Nya, pada kasih-kasih lembut-Nya, dan kemurahan-Nya.
Aamiin.


Sabtu, 24 Mei 2014

Telikung

“Karena Allah memilih dia untukmu, dan memilihmu untuknya.”
(Rahma Afnan)

Percayalah, ketika masa telah ditentukan waktu putusannya untuk menggugurkan kering-kering layu bebatangan kuncup, maka Sang Penentu hanya andil pada kepastian-kepastian. Percayalah, ketika semai-semai berbagai kisah dipautkan dalam jalinan potongan-potongan kekata, maka diri bukanlah lagi seserahan pada yang menginginkan.

Ketika ikatan-ikatan dengan sengaja menghimpun rasa-rasa yang memanusia, kepercayaan akan perlahan tumbuh membangun jiwa-jiwa. Itulah, bahwa menelikungkan hati-hati pada anjuran-Nya, adalah sebuah kemuliaan pada penghambaan insan-insan.

Mendewasa bukan suatu hal yang mudah. Kejutan-kejutan kecil terkadang muncul menampakkan malu-malu. Ya, itu karena kita telah sama-sama belajar. Belajar memahami dari masing-masing diri kita.

Baiklah. Mungkin waktu agak tertinggal ketika menuliskan ini.

Kusebut kamu perempuan yang lain, Kak.

Beberapa kisah menjadikan aura hidup kita sangat basah. Mengingat jelas, bahwa perbedaan fiqrah tak pernah menjadi masalah bagi kita untuk memahami titah-Nya.

Dulu, Kak, ada siang menjelang senja yang seksama mencoba memahami keluh-keluhmu. Siang itu menjadikan kalimat-kalimat kita menguap tak tentu arah. Iya Kak, mungkin kau sadari pula betapa kesalnya dirimu, saat itu.

Bukan hanya pada waktu itu saja. Masih pada siang yang berbeda, ada cerita-cerita yang kau coba embunkan dari gerahnya hatimu. Dari tuturmu, nampak jelas hentakan-hentakan itu di telingaku. Kau sampaikan itu, mungkin pula untuk kaucoba menyirami hatimu.

“Ini bisa kau jadikan sebuah cerpen.”

Begitu saranmu, ketika kedua mataku hanya bisa tersenyum sambil sedikit menanggapi.
Baiklah, Kak. Itu kisah tentang kerisauanmu, dulu sekali. Terkadang sama sekali tidak menyangka, bahwa memahami dan memaknai sebuah kisah, tak mesti pada tiap-tiap manusia yang kita anggap seideologi.

Ataukah mungkin hanya butuh kuping yang mau rela mendengar dengan perhatian? Mungkinkah pula kau sudah terlanjur menganggapku sebagai penyimak yang baik, Kak? Padahal kukira ada banyak adik-adikmu yang seperti perkiraanku. Entahlah.

Kemarin, kabar bahagiamu telah dimuarakan pada Lauhul Mahfudz.

Haru-haru itu masih melekat diingatanku sampai hari ini, Kak. Masih teringat pula, ketika selalu berusaha menemanimu dalam prosesi-prosesi sakral yang telah lama kaunanti. Ya, masih teringat pula ketika goresan-goresan wajah kecemasanmu sempat tergaris bersama kebahagiaan.

Bahkan, ketika juang dakwahmu masih tetap kaupertahankan, saat waktu-waktu menjadikannya tak sesuai dengan risalah-risalah-Nya yang telah lama kaupahami. Dan haru itu kembali hadir untuk istiqomahmu, Kak.

Bahagia selalu tercurah untukmu, yang telah mendapati teman hidup di sisa usiamu.

Benar, bahwa dia adalah seorang terbaik yang telah dipilihkan untukmu, untuk anak-anakmu yang soleh dan solehah, kelak.

Benar, bahwa dia seorang adalah lelaki terbaik yang bersamamu akan selalu menjaga dan membimbing dalam tapak-tapak kehidupanmu, Kak.

Mungkin pula akan ada banyak cerita yang lahir ketika telikung itu telah melewatkan waktu pada kalian.

Semoga berkah selalu dan senantiasa tercurah pada kalian untuk sama-sama mendewasa, menua, dan menyetia di dunia maupun di akhirat kelak.

“Barakallahu lakuma wa Baraka ‘alaikuma wal jama’ah bainakuma fii khair.”












Sebuah kado pernikahan untuk:
Kak Ayu Nirmawati Muhammad (Maros, 21 Mei 2014)
“Maaf, belum bisa memberimu kado pernikahan di dunia nyata, karena terlupakan waktu itu.” :D


Makassar, 22-24 Mei 2014