Sabtu, 08 November 2014

Nopember: dalam tanda-tanda

Membiarkan oktober dalam kemarau. Satu keputusan bijak dengan turut membiarkan persoalanmu pergi bersama angin dan debu-debunya.

Menatap, bahwa hidup tidak melulu menjadikanmu cemas.

Seperti melesatkan waktu, rasa-rasa yang pernah kaucemaskan, sungguh, bukan perkara pahit untuk sekadar membincangkannya pada perempuan-perempuan yang selama ini bersedia menyiapkan pendengarannya untuk kaupinjam.

Perempuan,

dari semua kisah-kisah yang pernah menjejal otakmu, adakah sedikit pun keyakinanmu luruh pada balasan waktu?

Bukankah yang pernah sering kaukatakan, sejauh sepasang kakimu melangkah, pasti tetap akan kembali pulang pada langkah pertama?

Perempuan,

Keberanianmu yang menegaskan rasanya, dia, yang pernah hampir-hampir menggoyahkan pertahananmu, percaya saja, bahwa setiap hal yang pernah berjarak akan dipertemukan pada satu waktu.

Tentang hari keenam dalam nopember tahun ini.

Meski lugumu sempat ingin kau tunjukkan pada pertemuan siang itu, sepertinya itu tak perlu untuk sekedar kau putuskan mengelak.

Menghindar?

Tak juga, perempuan.

Dia, yang pernah membawamu dalam gamang. Yang pernah membawamu pada segala hal yang tidaklah mudah.

Pada pertemuan siang itu, pada perbincangan-perbincangan ringan, yang sesungguhnya sama sekali tak menyangka. 

Terkejutkah kau, perempuan?

Iya, tak menyangka, pada kali terakhir pertemuanmu terjadi ditiga tahun yang lalu, seingatmu.

Dan benar pada saat itu, siang menjelmakan dirimu menjadi kelu. Mungkin tak pernah kausangka, bahkan pun menghadirkan pertemuan itu dalam angan-anganmu.

Mengetahui, pada Juni kemarin, yang mengabarkan dirinya pada berita gamang.

Lantas, pada saat itu kau menghindarkah, perempuan?

Sedang siang saat itu, lagi-lagi sangat sulit kaulontarkan satu pun kata padanya.

Perempuan,

Salahkah kau bersikap demikian?

Salah pada apa?

Pada kesendiriannya yang ternyata masih mengharap-harap hatimu hingga kini?


Dua hari setelah hari keenam dalam nopember,



Makassar, 2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Monolog Rindu 7: Kemarau



Kemarau adalah penerimaan yang lapang. Kemarau adalah penerimaan pada jejak-jejak angin yang kering lagi berat.

Apalah yang menyadarkan kita, bahwa tanah-tanah telah jemu pada ocehan dan keluhan kaki?

Apalah yang menggelitik kita, bahwa debu-debu yang selalu tertolak pada kedua lubang hidung, sedang kita selalu saja menghirupnya di jalan-jalan kota?

Ketika musim basah datang tanpa henti-henti, beberapa ocehan juga selalu mengikut pada sepatu-sepatu kita yang basah, ujung-ujung rok kita yang kotor karena ulah cipratan, tubuh-tubuh kita yang gigil dan seketika menjadi pemalas ketika dingin membungkus, dan kepala-kepala kita yang terasa ringan ketika bulir-bulir air langit menyentuh sela-sela rambut.

Kemarau. Matahari mungkin agak garang pada masa-masa ini. Iya, mungkinkah? Ataukah mungkin saja matahari sedang menyingkirkan awan abu-abu dimusimnya ini?

Kemarau. Di musim ini, tak banyak yang menyadari, umpatan-umpatan gerah berada di tengah-tengah siang.

Tak taukah, tanpa sadar bahwa sebenarnya mereka merindukan musim yang basah?

Kemarau. Sama halnya pada penghidupan. Dari beberapa kisah, ternyata, musim kematian telah menggandeng kemarau. Tahun ini. Iya, tahun ini.

Kemarau. Telah banyak mengantarkan insan-insan pada keribaan-Nya.

Kemarau. Apakah ketika kita merindui hujan, sedang pelajaran yang diberikan kemarau akan membuat kita lupa?

Kemarau. Apakah ketika teriknya siang, sedang pelajaran yang diberikan hujan akan membuat kita lupa?

Kemarau. Seperti pada musim kematian yang menemani, seperti hujan yang enggan nampak, pernahkah kita menyadari, bahwa mengembalikan rindu pada keduanya hanya ditujukan pada penciptanya?

  

Sore dan kemarau dalam Oktober, 2014

Selasa, 14 Oktober 2014

Monolog Rindu 6: Pulang



Ini adalah Oktober. Saat-saat kemarau datang menggandeng angin. Kemarau telah melatih angin menjadi lebih tegas. Pun, pada siang-siang dan malam-malam, kemarau telah menjadikan rindu menelikung pada: Pulang.

Pulang?

Berbicara pulang, bukankah selasar rumah selalu lapang dan sejuk untuk kita tempati duduk bersama?

Seperti dibeberapa waktu, kita selalu terjebak pada sangka-sangka yang resah. Pada beberapa waktu, kita selalu saja dengan lemah menerima sesuatu yang semestinya tidak kita terima. Kita selalu menganggap, bahwa hidup tak mesti selalu membahagiakan diri kita sendiri.

Ya. Dan lagi waktu selalu kejam menggiring kita pada penyesalan-penyesalan.

Dari semua yang pernah kita lalui, adakah waktu yang lebih berat seperti kemarin? Seperti yang kita rasakan, berat itu terlalu menghimpit dada dan kepala kita. Terlalu menyesakkan kita yang introvert. Terlalu menunjukkan bahwa kita terkadang abai pada hati kita masing-masing.

Ingatkah September kemarin yang penuh ujian?
Ingatkah Agustus kemarin yang terlalu lelah?
Ingatkah Juli kemarin yang menyendiri?

Baiklah. Pada beberapa suara teduh yang menemani kita, memilih pulang adalah jawabannya. Pulang pada diri kita sendiri. Menemukan kembali diri kita sendiri, ketika waktu (kemarin) telah menjadikan kita memilih untuk membaginya.

Pulang adalah sebaik-baik perjalanan. Seperti yang pernah kita katakan.

Dan setelah kita pulang, pernahkah kita sedikit berusaha memahami, bahwa pulang sesungguhnya adalah saat kita tak mampu lagi bergerak dan berbicara?


Bahwa pulang sesungguhnya adalah saat kita betul-betul sendiri, bertanggung jawab atas apa yang pernah kita lakukan bersama waktu.

(Bersama pagi)

Makassar, 14 Oktober 2014